Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Sesederhana cerita akhir tahun genap

Tinggal hitungan hari lagi, tahun genap ini selesai, berakhir, usai. Tahun ini, salah satu tahun terbaik bagiku. Tahun dimana aku benar-benar sendiri tanpa keluarga, tanpa kakak disini. Banyak perjalanan luar biasa menuntunku hingga sampai di titik ini. Tahun genap yang terasa begitu cepat. Hah, rasanya tidak ingin berakhir. Ya, tak ingin. Tahun genap yang menggenapkan. Entah berapa banyak orang-orang baru dikirim Allah tahun ini. Sahabat-sahabat baru, keluarga baru. Semua kisah yang baru. Awal tahun dengan amanah baru, bukan hal yang mudah. Amanah, yang bukan sekedar untuk gaya-gayaan. Amanah yang pastilah diakhir menanti untuk diminta pertanggung jawaban. Terima kasih Fosmapet, terima kasih untuk semuanya satu tahun ini. Terima kasih untuk ke17 sahabat-sahabat PH yang selalu ada. Terima kasih untuk kalian yang selalu menguatkan. Masa kita telah usai. Tahun depan, tidak ada lagi kita sama-sama menjalankan proker, tidak ada lagi kita sama-sama pulang larut memikirkan masa depan besar...

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Tentang Seorang Lelaki

Berapapun tulisan sampah yang telah terukir , berapapun rentetan huruf tersusun akan banyak hal diluar sana, berapa kalipun aku berpetualang mencoba menyinggahi dunia baru . Namun sejatinya , aku tidak sedang kemana - mana . Aku sadar masih di tempat yang sama . Tempat dimana ia akan selalu menjadi tempat pulang ketika rasaku telah melangkah terlalu jauh . Pe nantian . Selamat malam wahai Tuhanku yang selalu mengingatkan bahwa hidup tidak hanya melulu tentang kesenangan. Selamat malam wahai Tuhanku yang selalu mengingatkan bahwa hidup adalah perjuangan. Terima kasih untukMu Ya Allah, yang telah mengirim sosok luar biasa yang selalu mampu membuat aku lebih mencintaiMu. Tentang seorang lelaki . Bagaimana lagi caraku menatapmu dari berbagai sisi? Bisakah kau tunjukan secuil kisah hidupmu dan membaginya denganku? Bisakah kau ajari aku bagaimana mencipta peluh keringat dijalan keridhoanNya? Tentang seorang lelaki, yang membawa perubahan besar bagi...

Da aku mah apa atuh (Jatuh itu, mudah)

( Tapi sayang , aku hanyalah sebutir pasir diantara milyaran pasir pantai yang lai n . Yang ketika kamu datang , dapat dapat pilih pasir mana yang akan kamu buat istana, atau hanya sekedar untuk mainan . Dan bagian pasir yang lain kau tau? mungkin ia mendapat bagian terinjak oleh kaki. -Da aku mah apa atuh -) Malam ini cerah ya, tidak ada gerimis, tidak ada rasa khawatir akan hawa dingin yang memaksa kedua bola mata meredup. Tidak ada, hujan. Hujan, tanda bahwa tahun akan segera berakhir. Hujan, bukankah sesuatu yang kamu suka? Aku suka banget sama hujan din .. Yah, bahkan aku masih mengingat kata itu. Jika kamu tau, bahkan aku masih hafal betul setiap detail kata saat pertama kali kita menikmati malam tanpa embel-embel aktivitas yang tanpa sengaja mempertemukan kita. Kamu suka hujan, tapi sayang, kita dipertemukan Tuhan saat musim kemarau. Saat hatimu (mungkin) sedang kering dan butuh mata air untuk mempertahankan bongkahannya agar tidak p...

Da aku mah apa atuh (one hundred days : 1)

Lepas tengah malam. Terbangun dari rasa kecewa yang entahlah, rasanya begitu saja. Begitu abstrak. Sebenarnya ada dua hal yang terjadi kemarin. Bahagia dan kecewa. Tapi sepertinya sifat kecewa lebih dominan terhadap kebahagiaan yang lebih resesif tertutupi. Dia, memang Sang Maha pembolak-balikkan hati hambaNya. Semalam lalu, bahkan aku tidur sangat larut hanya untuk satu hal. Bagiku, masalah hati bukan untuk main-main. Seandainya kamu tau, kemarin tepat seratus hari kita saling kenal. Hemh, bagimu mungkin itu sangat biasa. Yah, biasa. Aku hanyalah sebagian kecil dari yang lainnya lain-lainmu bukan? Aku masih ingat saat itu. Pertama kalinya aku dipertemukan denganmu dalam sebuah lingkaran. Lingkaran baru dimana aku dan kamu adalah penghuni-penghuni awalnya. Saat itu, kita duduk saling seberang. Dan aku tidak pernah mengerti siapa kamu, begitu pula denganmu yang sama halnya denganku. Hari ke seratus terhitung sejak saat itu. Bukan dari saat kita pertama kali bertemu. Seratus hari, ter...

Tentangmu dan Coklat

Sekali lagi, tak ada yang pernah mengerti seperti apa skenario yang telah dibuat olehNya. Bisa jadi hari ini panas terik, malamnya hujan badai. Who knows? Hah, nikmatnya segelas coklat panas di malam yang masih enggan ditinggal butiran rintik gerimis. Pekat warna lelehannya, sepekat perasaanku yang mungkin saja sama lelehnya seperti coklat ini. Mengertikah kau bagaimana coklat bisa terasa manis ? Mengertikah kau bagaimana melembutkan tekstur coklat yang sejatinya keras? Mengertikah kau bagaimana membuat khalayak umat gandrung akan lezatnya coklat? Sampai seusia diujung belasan ini, belum pernah sekalipun aku mendengar, coklat menyebabkan alergi. Yang ku tahu, dia membuat penikmatnya ketagihan. Padahal, mengertikah kau bagaimana coklat bisa seperti itu luar biasanya ? Hanya Allah yang tahu. Coklat itu unik. Mungkin saja sama sepertimu. Ah, atau hanya perasaanku saja? Coklat selalu membuatku rindu ketika bertemu. Semakin bertemu semakin rindu. Ketika anak-anak kecil selalu dilarang ...

Kala Rindu Menyapa

Rindu itu sesuatu yang munculnya secara tiba-tiba. Kalau nggak tiba-tiba, bukan rindu namanya. Rindu itu soal rasa terbiasa. Rasa terbiasa yang mau tidak mau harus tergantikan oleh jarak dan waktu. Dan kini, aku rindu saat-saat dimana aku bersama mereka. Pertemuan untuk pertempuran yang dimulai kala langit masih gelap hingga kembali gelap lagi. Pertemuan dengan background tujuan yang aku yakin pasti berbeda masing-masing dari kami. Tapi meskipun beda, toh pada akhirnya tetap sama. Ujungnya tetap seragam, yaitu sebuah perjuangan. Dulu, aku tidak mengenalmu, tidak mengenal kalian, tidak mengenal kita. Tapi kini, kapan ada aku, ada kamu, ada kita? Yah, tidak ada persahabatan tanpa kerinduan. Rindu teman-teman co-fast agro, khususnya agro barat, khususnya lagi gugus pertanian :)

Senja bunga tidur

Bagimu, apa arti sebuah mimpi? Percayakah kamu pada bunga-bunga tidur yang selalu muncul dan sulit untuk diambil maksud dari setiap jalan ceritanya? Sebagian orang menganggap, mimpi itu hanya halusinasi saja. Ada juga yang bilang, mimpi itu bisa jadi sebagian dari godaan setan. Huallohualam.. Tapi bagiku, setiap mimpi adalah pertanda dariNya. Tak jarang maksud dari mimpi itu adalah sebuah peringatan. Tidak setiap tidur kita berjumpa dengan mimpi. (Contohnya saja aku yang termasuk kategori doyan tidur, hahaha.. ). Tapi ada satu tempat dimana setiap aku tidur disana, mau pagi siang sore malem, pasti ketemu sama mimpi. Dimana itu? Dirumah. Jadi, ceritanya kemarin sore aku tidur dirumah dan mimpi sesuatu. Seperti ini mimpinya.. cekidot ---> Dalam beberapa waktu terakhir ini aku punya banyak temen baru. Sebagian diantaranya bahkan bisa dibilang tersaring jadi sahabat, temen curhat dan "teman-teman yg lain". Nah, salah satu diantaranya ada yang tetiba muncul dimimpiku. Dia ...

Best friend : Lima belas

            Ada awal pasti ada akhir. Benar begitu? Menurut kalian lebih susah mengawali atau mengakhiri? Ah, lalu bagaimana dengan mengawali setelah mengakhiri? Apakah pertanyaan sesederhana itu cukup dijawab dengan ‘mudah’ atau ‘susah’ ?             Jika menurut kalian lebih mudah mengawali, lalu bagaimana cara mengawali kembali hubungan setelah kita mengakhiri? “hai, gimana kabarmu?” “lagi sibuk apa sekarang?” atau “maafin aku ya?”. “Pfftt basi banget nggak sih pertanyaan kayak gitu?” Mungkin seketika itulah kalimat yang terlintas dipikiran kita. Seketika itulah otak dan hati secara sinkron mengirim sinyal yang sama, ‘untuk apa awal jika sudah berakhir?’.             Tahukah kamu? Agamaku melarang umatnya memutuskan tali silaturahim. Agamaku melarang umatnya saling dendam. Kenapa harus ada larangan seperti itu kau tau? Agar tidak ada ...

Tetaplah Menjadi Tempat Berhati Nyaman (Untuk Menunggu)

Siang ini cerah ya. Menatap langit GSP dari gedung sebelah. Aku selalu suka tempat ini. Tempat yang diasusmsikan sebagai tempat anak-anak rajin, menjemukan, membosankan dan ‘apa asyiknya?’. Tapi bagiku, banyak cerita tanpa suara di tempat ini. Dulu, kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, tempat ini selalu menjadi tempat berlabuh anak-anak baru yang baru saja dikenalkan ‘dunia laporan’. Namun berbeda denganku. Aku mengenal tempat ini bukan karena sesuatu berlatar belakang akademik. Entahlah, karena apa. Entah apa yang mengenalkanku pada ‘Perpus pusat’ ini. Kau lihat, tanpa menanti senjapun GSP selalu nampak indah. Hemh, kupikir pesan semalam akan terbaca. Terkadang aku memang konyol. Ah, bukan terkadang lagi. Sering, bahkan mungkin jiwaku memang jiwa konyol ya. Novel-novel fiktif yang selalu menyajikan dunia penuh dengan kebetulan, penuh dengan kejutan telah menghipnotisku mengamini hal itu. Nyatanya, takdir tak semudah dunia novel. Waktu tak sesingkat tiap anak sub babnya. Da...

Komentator Kacang

            Satu dua menghujat, sisanya tak mau kalah. Seperti mereka paling benar, seperti mereka paling pintar. Tapi, tau apa mereka situasi sebenarnya dilapangan hijau itu? Jelas dua kubu pemain lebih mengerti apa yang harus mereka lakukan. Jelas dua kubu pemain lebih paham, lebih terlatih, lebih mengerti bagaimana mencetak gol. Hanya saja terkadang mencetak gol itu bukan hal  mudah, tergantung lawan.  Butuh usaha meski terkadang harus  terjatuh, cedera, tapi harus bangkit lagi, berlari untuk satu kata. Menang.             Tapi bagi para komentator kacang, mana peduli mereka dengan usaha para pemain. Yang mereka tau hanya duduk manis , menonton, cemooh sana cemooh sini, “Bodoh, seperti itu saja tidak bisa”.             Filosofinya sama dengan hati. Kasus disini tak jauh beda seperti sebuah lapangan sepak bola yang diisi dua kubu. Dan lagi-lagi,...

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Tinta Pena (dalam surat) untuk Sahabat

Assalamu’alaikum Wr.Wb. Selamat malam, sahabatku. Bagaimana kabarmu? Ah, sepertinya lama sekali ya kita tidak berjumpa. Berjumpa dalam sapa. Malam ini, tepat pergantian hari menuju dini. Dimana doa terbaikku selalu teriring untuk persahabatan kita. Yah, kurang lebih satu setengah tahun yang lalu ‘persahabatan’ itu lahir. Aku masih ingat, kamu adalah salah satu teman satu kelas yang paling sulit melempar senyum ketika disapa (bahasa bekennya : congkak juga ). Orang paling antik. Orang paling pinter karena sering nanya waktu dosen menerangkan. Dan ‘orang paling-paling’ lainnya menurutku saat awal dulu. Lalu dimulai pada sebuah momen konyol, dimana ikatan persahabatan itu kemudian muncul diantara kita. Dan selanjutnya, serentetan kebersamaan tumbuh bak ikatan persaudaraan. Belajar bareng, main bareng, seneng bareng, sedih bareng. Oh iya, kamu masih ingat saat itu? Kalau tidak salah sekitar satu tahun yang lalu. Aku pulang dengan menenteng sketch book norak yang akan ku berikan pa...

Love you more (Laporan)

Pembuka hari setelah weekend memang dibenci mayoritas masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari anak sekolahan, pegawai kantor, buruh, ibu rumah tangga, pejabat, presiden, dan masih banyak lagi lainnya (diluar kaca mata profesi). Hemh, sama halnya mahasiswa. Meskipun bagiku weekend itu ya sama aja sih. Ada kalanya semua hari terasa seperti weekend dan ada masanya pula tiada hari tanpa weekend (?). Apalagi musim-musim mendekati Ujian Akhir Semester (nama bekennya UAS). Iya sih memang disediakan waktu lebih untuk 'belajar' (istilahnya minggu tenang). Tapi untuk sampai di waktu itu perlu proses yang nggak panjang. Proses? iya proses. Proses ACC LAPORAN. Oh my NO Oh my WOW! Rasanya kayak tiada hari tanpa tidur, tanpa stres, tanpa ngomel-ngomel, tanpa mengumpat (Astagfirullah), ya pokoknya variasi lah 'tanpa-tanpanya'. Kayak semester ini, semester yang menurutku bisa bikin kejiwaan ini bener-bener kudu wajib dikontrol. Semua emang ada resikonya sih, dari awal aku t...

Tetap semangat, kawan

Bagiku dia salah satu sahabat yang luar biasa. Suara lantangnya, semangatnya. Dia sahabat yang apa adanya. Selalu menebar keceriaan diantara kami. Iya, kami. Sahabat dari semester satu. Bagiku, teman satu angkatan disini sudah seperti keluarga, dan dia sudah ku anggap seperti keluarga terdekat. "Din TA in ya" "Din ada materi?" "Din pinjam buku dong" "Din kosmu belum pindah kan?" Tetap semangat ya sahabatku. Semoga kamu selalu diberi kekuatan dan ketabahan olehNya. Semoga ibundamu mendapat tempat terbaik disisiNya. Amin.

(Bukan) Menanti sebuah Lotre

Jika kau takut akan gagal, maka jangan memimpikan keberhasilan. Jika kau takut akan beratnya medan, maka teruslah bersembunyi dibalik tirai besi yang tidak akan membawamu kemanapun. Jika kau takut menatap jalan yang ada di depanmu, maka pejamkanlah mata. Dan yang kau temui hanyalah gelap. Jika kau takut untuk maju, maka mundurlah, putar balik dan berlarilah ke belakang. Maka kau tak akan pernah sampai ketempat tujuan. Jika kau tidak berusaha, tidak akan ada yang berubah ketika kau bangun dari tidurmu esok hari. Jika kau masih berada pada zona keraguan tanpa usaha memantapkan pilihan, tidak ada kebenaran hari esok dan masa depan. Jika kau berpikir tidak akan bisa, maka selamanya tidak akan kau rasakan tetesan keringat syukur atas doa dari keyakinanmu kepada TuhanMu. Jika kau berpikir bahwa ini hanya sekedar "mencoba, siapa tau untung", maka kamu tidak akan pernah menemukan makna dibalik proses. Hari esok adalah sesuatu yang harus diusahakan, dimantapkan, diyakini dan d...

Ucapanku, doaku dan masa depanku

Tak terasa satu tahun berlalu begitu cepat. Dan hari ini, untuk kali kedua aku menghadiri omptf SMA ku. Sangat banyak yang berubah dari mantan sekolahku ini. Bangunan depan, aula, parkiran, semua dirobohkan. Renovasi. Entah akan disulap seperti apa. Imbasnya? Sistem acara tahun ini sangat jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Maklumlah, keterbatasan tempat. Sedikit kurang efektif memang. Tapi ya, usaha panitia sudah luar biasa banget lah kalau menurutku. Tahun ini, sebenarnya bukan tahunku lagi untuk show up (maksunya presentasi) di depan siswa kelas 3. Tapi karena kami (seluruh alumni smanra yang melanjutkan study di UGM) adalah keluarga, event tahunan seperti ini wajib diikuti semua angkatan, baik yang masih unyu-unyu, nyaris wisuda, sampai yang sudah lulus dan menyandang gelar sarjana. Aku datang pukul setengah 8. Waktu yang sangat pagi untuk periode liburan seperti ini. Penampilan-penampilan baru nampak lalu lalang. Mayoritas adalah anak 2013, adek kelas satu tingkat diba...

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Doamu, doaku, doa kami (untuk ibu)

Libur semester, tak terasa waktu melesat begitu cepat. Sudah satu setengah tahun aku tidak tinggal satu atap dengannya, tidak bisa menatap raut wajahnya ketika mata ini mulai terbuka dan terpejam, menyantap lauk sederhana yang selalu disediakannnya setiap hari di meja makan. Ibu, bagaimana kabarmu menjalani hari-hari ini sendirian? Liburan ini, saat yang tepat menghabiskan waktu untuk menemaninya. Siapa lagi putrinya yang akan sering menjenguknya sebentar lagi ? Bahkan janjiku kala itu, akan sering pulang tatkala weekend gagal kupenuhi. Maafkan aku, ibu. Liburan kali ini, usiamu hampir kepala lima. Dan sebentar lagi putri sulungmu akan menjemput impiannya di luar kota. Jauh, jauh dari rumah. Itu artinya, tanggung jawabku kini sebagai putri satu-satunya yang terdekat, yang harus melindungimu. Ibu, usiaku 19th sekarang. Putri kecilmu sudah besar. Menjalani hidup hanya berdua sejak 6th terakhir. Yah, hanya berdua. Satu setengah tahun. Aku yang selalu merasa terlalu sibuk dengan hidup ...

Tanyaku, Jawabku

  Redup, masih sama seperti sejam lalu, sehari lalu, sebulan lalu dan se tahun lalu. Lamunku yang begitu absurd, anganku yang mustahil dari kata terwujud. Bongkahan masa lalu yang semakin terbenam, tergilas roda waktu kejam yang tiada pernah menghentikan rotasinya..             Hai, bagaimana kabarmu hari ini?   Masih bolehkah aku merindu? Masih bolehkah ku pejamkan mata dan mengulang kembali perjalanan ‘kita’? Bayangan itu tak bisa berhenti, bahkan selalu mengejar hingga letih ragaku berlari, hingga goyah kakiku melangkah, menopang sisa tubuh ringkih menemukan jalan keluar.   Kenangan itu tak pernah pudar, meski lelah ku hapus dengan segenap peluh mengucur deras tiada usai. Rasa itu tak penah hilang, bagai terpatri ribuan rantai besi hingga tiada satupun makhluk dapat membukanya. Jangankan membuka, menyentuhpun terlalu sulit. Hai, apa kamu baik-baik saja hari ini? Layaknya seekor ulat kecil yang ja...