Ada awal
pasti ada akhir. Benar begitu? Menurut kalian lebih susah mengawali atau
mengakhiri? Ah, lalu bagaimana dengan mengawali setelah mengakhiri? Apakah
pertanyaan sesederhana itu cukup dijawab dengan ‘mudah’ atau ‘susah’ ?
Jika
menurut kalian lebih mudah mengawali, lalu bagaimana cara mengawali kembali
hubungan setelah kita mengakhiri? “hai, gimana kabarmu?” “lagi sibuk apa
sekarang?” atau “maafin aku ya?”. “Pfftt basi
banget nggak sih pertanyaan kayak gitu?” Mungkin seketika itulah kalimat
yang terlintas dipikiran kita. Seketika itulah otak dan hati secara sinkron
mengirim sinyal yang sama, ‘untuk apa awal jika sudah berakhir?’.
Tahukah
kamu? Agamaku melarang umatnya memutuskan tali silaturahim. Agamaku melarang
umatnya saling dendam. Kenapa harus ada larangan seperti itu kau tau? Agar
tidak ada lagi rasa sakit disini. Rasa sakit dihati.
*****
Lima belas juli,
Dinding
kamar terasa dingin. Apakah diluar hujan?
Ada apa dengan kamar ini? Rasanya dingin, tapi kenapa dada ini panas? Jarum
jam terus bergeser, naik turun, naik turun. Mata ini belum terpejam, hanya
membuka separuh. Ada apa dengan malam ini? Bukankah seharusnya aku gembira? Minggu
depan satu ramadhan, bulan puasa. Bulan penuh berkah bagi seluruh umatNya. Ada
apa dengan tubuh ini? Rasanya kaku, dada rasanya seperti terlindas stoom. Ah, aku tau kenapa aku seperti ini.
Mungkin, patah hati.
******
Patah
hati itu sakit. Semua orang juga tahu (kecuali yang belum pernah patah hati).
Kenyataan untuk mengakhiri sesuatu saat mungkin kita belum siap. Kenyataan saat
semuanya ‘dipaksa’ mau tidak mau harus diakhiri. Tapi, taukah kalian? Berakhir
belum berati selesai. Patah hati itu rasanya seperti saat kita harus mengahiri
masa SMA yang kata orang “masa yang paling indah” untuk melanjutkan ke tingkat
yang lebih tinggi. Mengakhiri masa yang indah untuk menggapai masa depan yang
lebih baik. (Lalu bagaimana kalau akhir
masa SMA dan patah hati terjadi bersamaan? Sakitnya tuh disini -____-).
(sampai
mana tadi? Oh iya, lanjut). Jadi memang benar, “berakhir
belum tentu selesai”. Kita hidup bukan hanya pada satu titik. Mungkin disatu
titik memang harus berakhir tapi masih banyak titik yang menunggu untuk dimulai.
Bahasa bekennya sekarang tuh “move on”.
*****
Best friend
Kelingking
ini saling terkait diiringi ucap kata “best friend”. Kata ajaib dengan arti
ganda, berakhir dan mengawali. Kurasa best frined untuk arti
berakhir sudah berjalan dengan seharusnya. Tapi untuk mengawali, belum. Kenapa?
Seperti yang telah dipaparkan didepan, berakhir belum tentu selesai. (mungkin)
masih ada sisa-sisa akhir yang belum siap untuk menerima awal (yang baik?).
*****
Tahun kedua
Teruntuk
kalian sahabatku, awalilah semua bukan hanya dengan cara yang baik, tapi juga
dengan hati yang tulus dan ikhlas. Akhirkanlah semua rasa sakit yang bisa jadi
belum sembuh dan selesai seluruhnya. Awal yang baru mungkin masih rahasia
bagaimana nanti akhirnya. Tapi yakinlah, setiap awal pasti baik jika semuanya Lillahita’ala. Jangan terlalu lama menyimpan sisa sakitmu
sendiri. Bagilah dengan sebanyak mungkin orang. Bagilah dan tukar sampai habis
semua dengan kebahagiaan. Habiskanlah semua sahabatku, jangan ada sisa. Banyak
titik-titik yang menunggu untuk kau awali. Jadikanlah setiap titik pijakan
untuk membuatmu menjadi lebih baik dan lebih baik.
Hirup
dan tatap dunia luar yang lebih luas. Akan banyak titik yang akan sayang jika
tak kau kunjungi. Jangan hanya berada pada satu titik yang tidak akan membawamu
kemanapun. Segeralah beranjak, dan awalilah dengan titik yang baru. Titik yang
bisa membawamu kemanapun menuju akhir yang lebih baik.

Komentar
Posting Komentar