Langsung ke konten utama

Best friend : Lima belas


            Ada awal pasti ada akhir. Benar begitu? Menurut kalian lebih susah mengawali atau mengakhiri? Ah, lalu bagaimana dengan mengawali setelah mengakhiri? Apakah pertanyaan sesederhana itu cukup dijawab dengan ‘mudah’ atau ‘susah’ ?
            Jika menurut kalian lebih mudah mengawali, lalu bagaimana cara mengawali kembali hubungan setelah kita mengakhiri? “hai, gimana kabarmu?” “lagi sibuk apa sekarang?” atau “maafin aku ya?”. “Pfftt basi banget nggak sih pertanyaan kayak gitu?” Mungkin seketika itulah kalimat yang terlintas dipikiran kita. Seketika itulah otak dan hati secara sinkron mengirim sinyal yang sama, ‘untuk apa awal jika sudah berakhir?’.
            Tahukah kamu? Agamaku melarang umatnya memutuskan tali silaturahim. Agamaku melarang umatnya saling dendam. Kenapa harus ada larangan seperti itu kau tau? Agar tidak ada lagi rasa sakit disini. Rasa sakit dihati.
*****
Lima belas juli,
            Dinding kamar terasa dingin. Apakah diluar hujan? Ada apa dengan kamar ini? Rasanya dingin, tapi kenapa dada ini panas? Jarum jam terus bergeser, naik turun, naik turun. Mata ini belum terpejam, hanya membuka separuh. Ada apa dengan malam ini? Bukankah seharusnya aku gembira? Minggu depan satu ramadhan, bulan puasa. Bulan penuh berkah bagi seluruh umatNya. Ada apa dengan tubuh ini? Rasanya kaku, dada rasanya seperti terlindas stoom. Ah, aku tau kenapa aku seperti ini. Mungkin, patah hati.
******
            Patah hati itu sakit. Semua orang juga tahu (kecuali yang belum pernah patah hati). Kenyataan untuk mengakhiri sesuatu saat mungkin kita belum siap. Kenyataan saat semuanya ‘dipaksa’ mau tidak mau harus diakhiri. Tapi, taukah kalian? Berakhir belum berati selesai. Patah hati itu rasanya seperti saat kita harus mengahiri masa SMA yang kata orang “masa yang paling indah” untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Mengakhiri masa yang indah untuk menggapai masa depan yang lebih baik. (Lalu bagaimana kalau akhir masa SMA dan patah hati terjadi bersamaan? Sakitnya tuh disini -____-).
(sampai mana tadi? Oh iya, lanjut). Jadi memang benar, “berakhir belum tentu selesai”. Kita hidup bukan hanya pada satu titik. Mungkin disatu titik memang harus berakhir tapi masih banyak titik yang menunggu untuk dimulai. Bahasa bekennya sekarang tuh “move on”.


*****
Best friend
            Kelingking ini saling terkait diiringi ucap kata “best friend”. Kata ajaib dengan arti ganda, berakhir dan mengawali. Kurasa best frined untuk arti berakhir sudah berjalan dengan seharusnya. Tapi untuk mengawali, belum. Kenapa? Seperti yang telah dipaparkan didepan, berakhir belum tentu selesai. (mungkin) masih ada sisa-sisa akhir yang belum siap untuk menerima awal (yang baik?).
*****
Tahun kedua
                Teruntuk kalian sahabatku, awalilah semua bukan hanya dengan cara yang baik, tapi juga dengan hati yang tulus dan ikhlas. Akhirkanlah semua rasa sakit yang bisa jadi belum sembuh dan selesai seluruhnya. Awal yang baru mungkin masih rahasia bagaimana nanti akhirnya. Tapi yakinlah, setiap awal pasti baik jika semuanya Lillahita’ala.  Jangan terlalu lama menyimpan sisa sakitmu sendiri. Bagilah dengan sebanyak mungkin orang. Bagilah dan tukar sampai habis semua dengan kebahagiaan. Habiskanlah semua sahabatku, jangan ada sisa. Banyak titik-titik yang menunggu untuk kau awali. Jadikanlah setiap titik pijakan untuk membuatmu menjadi lebih baik dan lebih baik.
            Hirup dan tatap dunia luar yang lebih luas. Akan banyak titik yang akan sayang jika tak kau kunjungi. Jangan hanya berada pada satu titik yang tidak akan membawamu kemanapun. Segeralah beranjak, dan awalilah dengan titik yang baru. Titik yang bisa membawamu kemanapun menuju akhir yang lebih baik.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Belajar kehidupan, dari memelihara kucing

Tulisan pertama di tahun 2023. Sudah pasti untuk menjaga blog yang umurnya lebih dari 10 tahun ini tetap hidup. Dengan tulisan suka-sukaku tentunya. Karena ternyata konsisten lebih sulit dibandingkan muluk-muluk membuat sebuah karya besar untuk mengejar hasrat dan ambisi "pengakuan".  ***** Beberapa waktu terakhir banyak momen tentang "kucing", yang memaksaku ingin sekali untuk menulis tentangnya. Namun apa daya ternyata maksud hati terkalahkan banyaknya godaan diluar sana, tentu yang terbesar adalah kemalasan yang sungguh menyebalkan ini.  Secara track record, aku bukan pecinta kucing. Bukan juga golongan pembenci dan penyiksanya. Hanya tidak terlalu suka, geli, takut, kotor (hahaha padahal anak peternakan?) Sejak kecil di keluargaku tidak memiliki binatang peliharaan. Paling Mbakku dulu waktu SD pernah pelihara ikan yang dibeli di sekolah, ditaruh dalam bekas kaleng biskuit, yang baru beberapa hari sudah mati lalu ditangisin.  Kalau ditanya, "kok bisa pilih p...