Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang.
Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya, Rumit.
Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca.
Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli.
Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur?
Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya perlu menyesuaikan dengan tekstur wajah dan bentuk tubuh agar terlihat serasi bukan? Hanya perlu kepandaian menatanya ulang agar nampak indah. Hanya itu kan?
Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak akan ada lagi rambut rengket. Tidak akan ada lagi rambut lepek. Tidak akan ada lagi rambut bercabang. Tidak akan ada lagi kutu bersarang. Tidak akan lagi bau karena 'tak sempat keramas' atau 'tak ada waktu'.
Jika mengikhlaskan rasaku untukmu, semudah memotong rambut. Tiada terhitung berapa helai bagian itu akan hilang. Tiada terhitung berapa lama menunggunya hingga panjang kembali. Yang pasti terjadi adalah, ia tak kan berhenti untuk tumbuh. Seperti kehidupan yang tak akan berhenti dan akan tetap terus berjalan.
Hanya saja, jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Awal yang baru itu, akan terasa lebih ringan bukan?
Komentar
Posting Komentar