Langsung ke konten utama

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang.

Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit.

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca.

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli.

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur?

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya perlu menyesuaikan dengan tekstur wajah dan bentuk tubuh agar terlihat serasi bukan? Hanya perlu kepandaian menatanya ulang agar nampak indah. Hanya itu kan?

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak akan ada lagi rambut rengket. Tidak akan ada lagi rambut lepek. Tidak akan ada lagi rambut bercabang. Tidak akan ada lagi kutu bersarang. Tidak akan lagi bau karena 'tak sempat keramas' atau 'tak ada waktu'.

Jika mengikhlaskan rasaku untukmu, semudah memotong rambut. Tiada terhitung berapa helai bagian itu akan hilang. Tiada terhitung berapa lama menunggunya hingga panjang kembali. Yang pasti terjadi adalah, ia tak kan berhenti untuk tumbuh. Seperti kehidupan yang tak akan berhenti dan akan tetap terus berjalan.

Hanya saja, jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Awal yang baru itu, akan terasa lebih ringan bukan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.