Langsung ke konten utama

Tanyaku, Jawabku


 
Redup, masih sama seperti sejam lalu, sehari lalu, sebulan lalu dan se tahun lalu. Lamunku yang begitu absurd, anganku yang mustahil dari kata terwujud. Bongkahan masa lalu yang semakin terbenam, tergilas roda waktu kejam yang tiada pernah menghentikan rotasinya..

            Hai, bagaimana kabarmu hari ini?
 Masih bolehkah aku merindu? Masih bolehkah ku pejamkan mata dan mengulang kembali perjalanan ‘kita’?
Bayangan itu tak bisa berhenti, bahkan selalu mengejar hingga letih ragaku berlari, hingga goyah kakiku melangkah, menopang sisa tubuh ringkih menemukan jalan keluar.  Kenangan itu tak pernah pudar, meski lelah ku hapus dengan segenap peluh mengucur deras tiada usai. Rasa itu tak penah hilang, bagai terpatri ribuan rantai besi hingga tiada satupun makhluk dapat membukanya. Jangankan membuka, menyentuhpun terlalu sulit.

Hai, apa kamu baik-baik saja hari ini?
Layaknya seekor ulat kecil yang jatuh diterpa angin. Tersapu debu dan terhimpit diantara ribuan bebatuan. Tiada lagi pohon yang mampu melindunginya, tiada lagi kerindangan menyelimuti bulu tipisnya, tiada lagi akar itu mampu menguatkannya. Tinggalah sebongkah batu berdiri tegak tanpa sapaan di depan sosok rapuh si ulat kecil. Gelap, keras, sendiri, sakit.

Hai, siapa yang menemanimu hari ini?
Betapa sulitnya si ulat kecil mencoba merayap, betapa terjal dinding batu  untuk bisa dicapai, betapa kerasnya kulit batu untuk dapat ditembus. Ah, bahkan sedikit  celah untuk berteduh saja tak ada. Mencoba bergelayut, jatuh, merayap lagi, jatuh lagi. Dan batupun masih tetap sama. Tiada pernah lapuk melihat si ulat kecil yang mulai merintih. Air mata yang tiada terlihat, jerit tangis yang tiada terdengar . Sungguh ulat kecil yang malang.

Hai, kapan waktu dapat mempertemukan aku, dan kamu (lagi)?
Hari demi hari berlalu, musim demi musim berganti. Keberanian dan perjuanganlah yang membuat si ulat kecil mampu bertahan. Tajamnya air hujan yang terus mengikis liat tubuhnya hingga tiada lagi bulu-bulu lembut menghiasi sekujur kepala hingga kaki. Panas terik sang surya mulai membakar dan merobek lapisan kulit tipisnya hingga dalam, hanya tersisa tulang semu yang mulai pudar wana putihnya.
Langkah kecil barisan kaki yang mulai menguat itu terhenti, tatkala sekujur tubuh si ulat kecil di penuhi serabut tipis yang kian lama kian menebal. Si ulat kecil hanya mampu menangis, ia tak tau apa yang harus dilakukan. Serabut-serabut tebal yang nyaris  mengeras itu mulai membekap mulutnya, mencekik pita suaranya agar berhenti menjerit.
“Hei siapapun yang ada disana, tolong aku!”. Kelu, air mata kering tanpa bulir mulai menggumpal, menyumbat hati penuh sesak, menghambat denyut nadi tak  berdetak, menghentikan laju darah yang mengalir disekujur tubuh tanpa daya. Putus asa.  Tiada jawaban di luar sana, tiada pertolongan datang menghampiri si ulat kecil.
“Ya Tuhan, aku tau aku bukan apa-apa, aku hanya makhluk kecil di tengah kebesaran kuasaMu”, itulah rintihan terakhir dalam keheningan malam yang mampu dilantunkan si ulat kecil sebelum akhirnya ia memejamkan mata sendunya, tertidur oleh jerih doa yang ia panjatkan kepada Sang Maha Segalanya. Taburan bintang terpaku menyaksikan si ulat kecil terkapar tak berdaya di bawah sana. Ia tersenyum, tersenyum seraya membelai si ulat kecil yang terlelap dengan penuh rasa sayang.
Hari telah berganti pagi. Mentari terbit menyinari seluruh kehidupan dimuka bumi. Dan sampailah pada suatu masa, dimana para ilmuan menyebutnya dengan fase metamorphosis.
Si ulat kecil mulai menggeliat, membuka perlahan kelopak matanya yang silau oleh siluet sang fajar. “Ada apa dengan tubuhku?”, tanyanya penuh kejut ketika ia mendapati dua benda aneh berwarna sangat indah bersarang di punggungnya. Digerakkannya perlahan dan, terbanglah si ulat kecil tadi ke angkasa. Ah tidak, namanya bukan lagi si ulat kecil sekarang.
Maka mengangkasalah kupu berjuta warna itu. Berputar, berkelana menikmati warna-warni panorama dibawah kaki langit, mengudara diatas hijaunya padang ilalang dan birunya hamparan samudera. Hingga membawanya kembali ke suatu tempat. Tempat yang pernah berjanji melindunginya dari apapun, tempat yang pernah menguatkannya sebelum angin datang membawanya terbang dan menjalani kehidupan yang keras, Tempat yang selalu membuatnya damai dalam kesejukan.

“Hai pohon, aku kembali. Dulu ku pikir, aku tak bisa lagi bertemu denganmu. Tidak bisa lagi bersanding denganmu. Kamu tau apa saja yang telah ku alami setelah angin menerbangkanku yang membuatku jauh dari mu? Lihat aku sekarang, aku telah bermetamorfosis.  Aku bukan lagi si ulat kecil yang selalu minta perlindunganmu,  bukan lagi si ulat kecil yang rapuh dan selalu minta di kuatkan. Ah, seandainya kamu tau, dimana pun aku berada, di tempat inilah aku merasa paling nyaman, karena bagiku, kehidupanmu adalah kehidupanku”.

Daun berguguran bak air mata yang terurai tiada henti. Pohon tetap tegak dalam diamnya, entah apa yang akan ia ucapkan kepada kupu-kupu seandainya ia dapat berbicara.

            Tanyaku, jawabku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.