Langsung ke konten utama

Komentator Kacang


            Satu dua menghujat, sisanya tak mau kalah. Seperti mereka paling benar, seperti mereka paling pintar. Tapi, tau apa mereka situasi sebenarnya dilapangan hijau itu? Jelas dua kubu pemain lebih mengerti apa yang harus mereka lakukan. Jelas dua kubu pemain lebih paham, lebih terlatih, lebih mengerti bagaimana mencetak gol. Hanya saja terkadang mencetak gol itu bukan hal  mudah, tergantung lawan.  Butuh usaha meski terkadang harus  terjatuh, cedera, tapi harus bangkit lagi, berlari untuk satu kata. Menang.
            Tapi bagi para komentator kacang, mana peduli mereka dengan usaha para pemain. Yang mereka tau hanya duduk manis , menonton, cemooh sana cemooh sini, “Bodoh, seperti itu saja tidak bisa”.
            Filosofinya sama dengan hati. Kasus disini tak jauh beda seperti sebuah lapangan sepak bola yang diisi dua kubu. Dan lagi-lagi, dimanapun itu, apapun bentuk keadaanya, selalu ada yang namanya ‘komentator kacang’. For your information, sekali lagi komentator kacang tak pernah melihat proses, hanya mengumpat dan menerima golnya. “Kamu itu bodoh, seperti itu saja tidak bisa”.
            Sekali lagi, mereka tak pernah mengerti situasi dilapangan. Mungkin manusia memang diciptakan sebagai makhluk sempurna, dengan segala kelengkapan panca indra. Tapi taukah wahai kalian? Visual manusia ada batasnya sedangkan kemampuan mulut untuk mengumpat tak terbatas. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Belajar kehidupan, dari memelihara kucing

Tulisan pertama di tahun 2023. Sudah pasti untuk menjaga blog yang umurnya lebih dari 10 tahun ini tetap hidup. Dengan tulisan suka-sukaku tentunya. Karena ternyata konsisten lebih sulit dibandingkan muluk-muluk membuat sebuah karya besar untuk mengejar hasrat dan ambisi "pengakuan".  ***** Beberapa waktu terakhir banyak momen tentang "kucing", yang memaksaku ingin sekali untuk menulis tentangnya. Namun apa daya ternyata maksud hati terkalahkan banyaknya godaan diluar sana, tentu yang terbesar adalah kemalasan yang sungguh menyebalkan ini.  Secara track record, aku bukan pecinta kucing. Bukan juga golongan pembenci dan penyiksanya. Hanya tidak terlalu suka, geli, takut, kotor (hahaha padahal anak peternakan?) Sejak kecil di keluargaku tidak memiliki binatang peliharaan. Paling Mbakku dulu waktu SD pernah pelihara ikan yang dibeli di sekolah, ditaruh dalam bekas kaleng biskuit, yang baru beberapa hari sudah mati lalu ditangisin.  Kalau ditanya, "kok bisa pilih p...