Satu dua
menghujat, sisanya tak mau kalah. Seperti mereka paling benar, seperti mereka
paling pintar. Tapi, tau apa mereka situasi sebenarnya dilapangan hijau itu? Jelas
dua kubu pemain lebih mengerti apa yang harus mereka lakukan. Jelas dua kubu
pemain lebih paham, lebih terlatih, lebih mengerti bagaimana mencetak gol. Hanya
saja terkadang mencetak gol itu bukan hal mudah, tergantung lawan. Butuh usaha meski terkadang harus terjatuh, cedera, tapi harus bangkit lagi,
berlari untuk satu kata. Menang.
Tapi bagi
para komentator kacang, mana peduli mereka dengan usaha para pemain. Yang mereka
tau hanya duduk manis , menonton, cemooh sana cemooh sini, “Bodoh, seperti itu saja tidak bisa”.
Filosofinya sama dengan hati. Kasus disini tak jauh beda seperti sebuah lapangan sepak bola yang
diisi dua kubu. Dan lagi-lagi, dimanapun itu, apapun bentuk keadaanya, selalu
ada yang namanya ‘komentator kacang’. For your information, sekali lagi
komentator kacang tak pernah melihat proses, hanya mengumpat dan menerima
golnya. “Kamu itu bodoh, seperti itu saja
tidak bisa”.
Sekali lagi, mereka tak pernah mengerti situasi dilapangan. Mungkin manusia memang diciptakan
sebagai makhluk sempurna, dengan segala kelengkapan panca indra. Tapi taukah
wahai kalian? Visual manusia ada batasnya sedangkan kemampuan mulut untuk
mengumpat tak terbatas.
Komentar
Posting Komentar