Langsung ke konten utama

Tetaplah Menjadi Tempat Berhati Nyaman (Untuk Menunggu)


Siang ini cerah ya. Menatap langit GSP dari gedung sebelah. Aku selalu suka tempat ini. Tempat yang diasusmsikan sebagai tempat anak-anak rajin, menjemukan, membosankan dan ‘apa asyiknya?’. Tapi bagiku, banyak cerita tanpa suara di tempat ini. Dulu, kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, tempat ini selalu menjadi tempat berlabuh anak-anak baru yang baru saja dikenalkan ‘dunia laporan’. Namun berbeda denganku. Aku mengenal tempat ini bukan karena sesuatu berlatar belakang akademik. Entahlah, karena apa. Entah apa yang mengenalkanku pada ‘Perpus pusat’ ini.
Kau lihat, tanpa menanti senjapun GSP selalu nampak indah. Hemh, kupikir pesan semalam akan terbaca. Terkadang aku memang konyol. Ah, bukan terkadang lagi. Sering, bahkan mungkin jiwaku memang jiwa konyol ya. Novel-novel fiktif yang selalu menyajikan dunia penuh dengan kebetulan, penuh dengan kejutan telah menghipnotisku mengamini hal itu. Nyatanya, takdir tak semudah dunia novel. Waktu tak sesingkat tiap anak sub babnya. Dan proses tiap satu kali duapuluh empat jam tak seringan membalikkan tiap lembar halamannya.
Pagi tadi, aku memutuskan kembali lagi ke kota istimewa ini. Ada beberapa hal penting  yang memaksaku untuk menyambangi kota ini lagi. Alasan realnya mungkin karena besok ada gathering seluruh panitia penerimaan mahasiswa baru universitas dan alasan lain adalah soal charger laptop yang ketinggalan. Bagiku, charger laptop yang tertinggal adalah salah satu alasan terbesar. Karena apa? Bagiku liburan kali ini lumayan panjang, meski kata sebagian teman-temanku masa liburku terlalu singkat untuk dua moment besar libur tengah tahun, libur akhir semseter dan libur hari raya Idhul Fitri. Masa libur bagiku adalah masa sebanyak-banyaknya menulis. Menulis semua ceceran peristiwa yang belum sempat tersatukan. Peristiwa atau hati? Ah, sebelas dua belas sepertinya. Maka dari itu, laptop bagai sudah menjadi candu duniaku. Dan alasan tidak realnya, kamu.
Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB sekarang. Itu artinya satu jam sudah aku duduk menikmati suasana ramadhan ketiga belas di lantai tiga ini. Sendiri. Menatap anak tangga warna putih dengan harap akan ada langkah kaki datang menggempakan dada ini. Tapi siapa? Aku datang tepat pukul dua, seperti sudah berjanji pada seseorang akan datang tepat waktu. Tapi siapa? Aku tak pernah janji bertemu siapapun hari ini. Namun kenapa aku buru-buru datang ketempat ini tepat waktu, takut-takut akan ada seseorang yang menanti lama di tempat ini. Tapi siapa?
Kurasa, logika ku sudah mulai tak jalan. Kewarasanku seperti sudah mulai tergadai. Sepertinya otakku sudah mulai teracuni dunia novel. Atau, kamu yang terlalu membuatku selalu berharap pada tempat ini. Ah, bukan tempat ini yang membuatku berharap. Lebih tepatnya, ada banyak harapan muncul ditempat ini. Sayang, bangku ini bisu. Andai ia dapat bicara, tentu ia akan menceritakan semuanya. Bagaimana saat itu kita pernah duduk bersama. Andai anak tangga ini tidak pula bisu, tentu ia tak kan kalah menceritakan bagaimana kita pernah melangkah beriringan. Andai langit ini dapat berucap, tentu ia akan menceritakan betapa gembiranya ketika harapan menatap senja berdua bukanlah angan. Hah, tapi semua itu hanya kenyataan dibalik seimut ‘andai’.
Satu tahun lalu, tempat ini bagai suplier semangat terbesar bagi duniaku. Terkadang tanpa alasan aku berkunjung ketempat ini. Sendiri. Entah, tempat ini terasa nyaman. Pernah saat itu, lima jam waktuku habis ditempat ini hanya untuk menghabiskan beberapa novel. Tak jarang mereka bilang, “kau sudah gila ya?”
Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Itu artinya, dua jam sudah aku duduk dilantai tiga ini. Sendiri. Diluar langit sudah mulai meredup. Dan orang-orang asing masih acuh berlalu-lalang memenuhi pandanganku. Yah, orang-orang asing. Anak tangga itu, masih terlihat sepi. Tidak ada derap langkah. Oh, ku pikir derap langkah tidak hanya dari anak tangga, bisa jadi muncul dari lift. Tapi, bukankan sejak tadi aku duduk dibangku sebelah kanan lift, dan sejak tadi pula hanya orang-orang asing yang kulihat naik turun kotak metal itu bukan?
Hah, terkadang tanpa disadari kita menunggu sesuatu tanpa mengerti apa ‘sesuatu’ itu. Tanpa disadari, terlalu jauh kita menikmati angan tanpa tau sampai kapan ujungnya akan terlihat. Tanpa disadari pula, mata kita terlalu buta dan telinga kita terlalu tuli untuk mendengar , “jangan menunggu terus-terusan”. Atau hati ini memang terlalu bebal menerima kenyataan? Menunggu, bukan masalah waktu. Terkadang menunggu bisa membuat kita lupa waktu. Sudah berapa lama disini, sudah apa saja yang dilakukan disini. Aku masih ingat kata guruku saat SMP dulu, “ketidak pastian itu pasti, sedangkan kepastian itu tidak pasti”. Butuh pemahaman lebih mencerna kalimat itu.
Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB. Langit beranjak gelap, bukan karena malam tak lama lagi singgah. Nampaknya akan turun hujan. Dua setengah jam aku menunggu disini. Mungkin untuk saat ini, kamu tidak adan mengerti kenapa aku masih bertahan. Tapi cepat atau lambat kamu akan tahu. Ah, bukan hanya tahu, tapi mengerti dan juga paham. Pemahaman tentang seperti apa itu waktu, menunggu dan takdir.
Hemh, sepertinya aku harus segera beranjak. Masih banyak waktu untuh berkunjung lagi ketempat ini, insyaAllah. Tempat ini tidak akan berubah. Tempat ini akan tetap berslogan ‘berhati nyaman’. Tempat ternyaman dimana aku akan tetap menunggu.

See you next time..... J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.