Lepas tengah malam. Terbangun dari rasa kecewa yang entahlah, rasanya begitu saja. Begitu abstrak. Sebenarnya ada dua hal yang terjadi kemarin. Bahagia dan kecewa. Tapi sepertinya sifat kecewa lebih dominan terhadap kebahagiaan yang lebih resesif tertutupi.
Dia, memang Sang Maha pembolak-balikkan hati hambaNya. Semalam lalu, bahkan aku tidur sangat larut hanya untuk satu hal. Bagiku, masalah hati bukan untuk main-main. Seandainya kamu tau, kemarin tepat seratus hari kita saling kenal. Hemh, bagimu mungkin itu sangat biasa. Yah, biasa. Aku hanyalah sebagian kecil dari yang lainnya lain-lainmu bukan?
Aku masih ingat saat itu. Pertama kalinya aku dipertemukan denganmu dalam sebuah lingkaran. Lingkaran baru dimana aku dan kamu adalah penghuni-penghuni awalnya. Saat itu, kita duduk saling seberang. Dan aku tidak pernah mengerti siapa kamu, begitu pula denganmu yang sama halnya denganku.
Hari ke seratus terhitung sejak saat itu. Bukan dari saat kita pertama kali bertemu. Seratus hari, terhitung sejak masing-masing dari aku dan kamu tau, siapa kita.
Karena tidak perlu banyak hari, menit dan detik untuk mendekatkan kita.
Hari ke seratus aku mengenalmu sebagai sosok yang unik. Sosok yang membuatku seperti tersadarkan akan satu hal sederhana lewat salah satu ucapmu waktu dulu, "kamu udah semester lima, udah nggak unyu lagi buat patah hati". Hahaha, benar juga. Bahkan bulan depan usiaku sudah 20th ya. 'Sudah nggak unyu lagi buat patah hati'. Seharusnya.
Awalnya ku pikir, ini hanya soal sederhana, bukan tentang hati yang sejatinya tak pernah nampak tapi selalu saja rumit. Sampai akhirnya rindu-rindu itu selalu saja muncul entah dari mana. Rindu yang muncul tiap kali adanya pertemuan. Karena sebenarnya, semakin bertemu, akan semakin rindu.
(Oh, sudah jam 2 pagi ternyata. Tidur dulu ya. InsyaAllah dilanjut besok) \^^/
Komentar
Posting Komentar