Langsung ke konten utama

Da aku mah apa atuh (one hundred days : 1)

Lepas tengah malam. Terbangun dari rasa kecewa yang entahlah, rasanya begitu saja. Begitu abstrak. Sebenarnya ada dua hal yang terjadi kemarin. Bahagia dan kecewa. Tapi sepertinya sifat kecewa lebih dominan terhadap kebahagiaan yang lebih resesif tertutupi.

Dia, memang Sang Maha pembolak-balikkan hati hambaNya. Semalam lalu, bahkan aku tidur sangat larut hanya untuk satu hal. Bagiku, masalah hati bukan untuk main-main. Seandainya kamu tau, kemarin tepat seratus hari kita saling kenal. Hemh, bagimu mungkin itu sangat biasa. Yah, biasa. Aku hanyalah sebagian kecil dari yang lainnya lain-lainmu bukan?

Aku masih ingat saat itu. Pertama kalinya aku dipertemukan denganmu dalam sebuah lingkaran. Lingkaran baru dimana aku dan kamu adalah penghuni-penghuni awalnya. Saat itu, kita duduk saling seberang. Dan aku tidak pernah mengerti siapa kamu, begitu pula denganmu yang sama halnya denganku.

Hari ke seratus terhitung sejak saat itu. Bukan dari saat kita pertama kali bertemu. Seratus hari, terhitung sejak masing-masing dari aku dan kamu tau, siapa kita.

Karena tidak perlu banyak hari, menit dan detik untuk mendekatkan kita.

Hari ke seratus aku mengenalmu sebagai sosok yang unik. Sosok yang membuatku seperti tersadarkan akan satu hal sederhana lewat salah satu ucapmu waktu dulu, "kamu udah semester lima, udah nggak unyu lagi buat patah hati". Hahaha, benar juga. Bahkan bulan depan usiaku sudah 20th ya. 'Sudah nggak unyu lagi buat patah hati'. Seharusnya.

Awalnya ku pikir, ini hanya soal sederhana, bukan tentang hati yang sejatinya tak pernah nampak tapi selalu saja rumit. Sampai akhirnya rindu-rindu itu selalu saja muncul entah dari mana. Rindu yang muncul tiap kali adanya pertemuan. Karena sebenarnya, semakin bertemu, akan semakin rindu.

(Oh, sudah jam 2 pagi ternyata. Tidur dulu ya. InsyaAllah dilanjut besok) \^^/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Tentangmu dan Coklat

Sekali lagi, tak ada yang pernah mengerti seperti apa skenario yang telah dibuat olehNya. Bisa jadi hari ini panas terik, malamnya hujan badai. Who knows? Hah, nikmatnya segelas coklat panas di malam yang masih enggan ditinggal butiran rintik gerimis. Pekat warna lelehannya, sepekat perasaanku yang mungkin saja sama lelehnya seperti coklat ini. Mengertikah kau bagaimana coklat bisa terasa manis ? Mengertikah kau bagaimana melembutkan tekstur coklat yang sejatinya keras? Mengertikah kau bagaimana membuat khalayak umat gandrung akan lezatnya coklat? Sampai seusia diujung belasan ini, belum pernah sekalipun aku mendengar, coklat menyebabkan alergi. Yang ku tahu, dia membuat penikmatnya ketagihan. Padahal, mengertikah kau bagaimana coklat bisa seperti itu luar biasanya ? Hanya Allah yang tahu. Coklat itu unik. Mungkin saja sama sepertimu. Ah, atau hanya perasaanku saja? Coklat selalu membuatku rindu ketika bertemu. Semakin bertemu semakin rindu. Ketika anak-anak kecil selalu dilarang ...