Sekali lagi, tak ada yang pernah mengerti seperti apa skenario yang telah dibuat olehNya. Bisa jadi hari ini panas terik, malamnya hujan badai. Who knows?
Hah, nikmatnya segelas coklat panas di malam yang masih enggan ditinggal butiran rintik gerimis. Pekat warna lelehannya, sepekat perasaanku yang mungkin saja sama lelehnya seperti coklat ini.
Mengertikah kau bagaimana coklat bisa terasa manis ? Mengertikah kau bagaimana melembutkan tekstur coklat yang sejatinya keras?
Mengertikah kau bagaimana membuat khalayak umat gandrung akan lezatnya coklat?
Sampai seusia diujung belasan ini, belum pernah sekalipun aku mendengar, coklat menyebabkan alergi. Yang ku tahu, dia membuat penikmatnya ketagihan. Padahal, mengertikah kau bagaimana coklat bisa seperti itu luar biasanya ? Hanya Allah yang tahu.
Coklat itu unik. Mungkin saja sama sepertimu. Ah, atau hanya perasaanku saja? Coklat selalu membuatku rindu ketika bertemu. Semakin bertemu semakin rindu. Ketika anak-anak kecil selalu dilarang ibunya, "jangan makan coklat, nanti sakit gigi". Sama seperti kata hati , "jangan dengan dia, nanti sakit hati".
Kita tahu, tapi tetap saja pura-pura lupa. Coklat lagi coklat lagi. Dia lagi dia lagi.
Namun ada satu hal yang membuatku kecewa. Andai saja coklat ini tak ubah dari rasa aslinya, pahit dan getir. Tidak manis dan kaya akan rasa. Tentu tidak semua suka, tidak semua orang mendamba.
Ah, andai saja aku tak pernah mengerti betapa manisnya coklat, tentu tidak ada rindu tentang kapan aku akan meleleh karenamu bukan?
Komentar
Posting Komentar