Langsung ke konten utama

Senja bunga tidur

Bagimu, apa arti sebuah mimpi? Percayakah kamu pada bunga-bunga tidur yang selalu muncul dan sulit untuk diambil maksud dari setiap jalan ceritanya?
Sebagian orang menganggap, mimpi itu hanya halusinasi saja. Ada juga yang bilang, mimpi itu bisa jadi sebagian dari godaan setan. Huallohualam..
Tapi bagiku, setiap mimpi adalah pertanda dariNya. Tak jarang maksud dari mimpi itu adalah sebuah peringatan.
Tidak setiap tidur kita berjumpa dengan mimpi. (Contohnya saja aku yang termasuk kategori doyan tidur, hahaha.. ). Tapi ada satu tempat dimana setiap aku tidur disana, mau pagi siang sore malem, pasti ketemu sama mimpi. Dimana itu? Dirumah.

Jadi, ceritanya kemarin sore aku tidur dirumah dan mimpi sesuatu. Seperti ini mimpinya.. cekidot --->

Dalam beberapa waktu terakhir ini aku punya banyak temen baru. Sebagian diantaranya bahkan bisa dibilang tersaring jadi sahabat, temen curhat dan "teman-teman yg lain". Nah, salah satu diantaranya ada yang tetiba muncul dimimpiku. Dia datang dan menghampiriku..
"Din, bisa ngomong bentar" (elaahh... kayak apa aja ya, haha)
Singkat cerita kami sudah sampai disuatu tempat, semacam pinggiran dermaga gitu, hehe. Entahlah awalnya kayak gimana, mendadak dia bilang.
"Wanita kuat untuk lelaki kuat, bukan lelaki lemah. Banyaknya masalahlah yang membuatnya kuat. Tidak sepertiku" (ceritanya temenku ini beda gender gitulah).

Dannn... belum sempat ada lanjutannya, aku sudah terbangun. Hahaha.. entahlah apa maksudnya. Orang bilang, mimpi nggak boleh diceritakan. Tapi, bagiku ini hanya sebagai catatan saja. Who knows? Hanya Allah yang tau setiap apapun itu, dan Dialah sebaik-baiknya Maha Pemberi Petunjuk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....