Langsung ke konten utama

Tinta Pena (dalam surat) untuk Sahabat


Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Selamat malam, sahabatku. Bagaimana kabarmu? Ah, sepertinya lama sekali ya kita tidak berjumpa. Berjumpa dalam sapa. Malam ini, tepat pergantian hari menuju dini. Dimana doa terbaikku selalu teriring untuk persahabatan kita.
Yah, kurang lebih satu setengah tahun yang lalu ‘persahabatan’ itu lahir. Aku masih ingat, kamu adalah salah satu teman satu kelas yang paling sulit melempar senyum ketika disapa (bahasa bekennya : congkak juga). Orang paling antik. Orang paling pinter karena sering nanya waktu dosen menerangkan. Dan ‘orang paling-paling’ lainnya menurutku saat awal dulu.
Lalu dimulai pada sebuah momen konyol, dimana ikatan persahabatan itu kemudian muncul diantara kita. Dan selanjutnya, serentetan kebersamaan tumbuh bak ikatan persaudaraan. Belajar bareng, main bareng, seneng bareng, sedih bareng. Oh iya, kamu masih ingat saat itu? Kalau tidak salah sekitar satu tahun yang lalu. Aku pulang dengan menenteng sketch book norak yang akan ku berikan pada seseorang. Tiba-tiba, kamu memanggilku dari balik semak-semak. “Din, din, sini bentar”. Kemudian kamu menceritakan apa yang menimpamu hari itu. Yah, intinya hari itu kita sama, sama-sama memperjuangkan perasaan kita untuk sesorang yang tidak pernah mengerti.
Hemh, tak terasa waktu berlalu begitu cepat ya. Sekarang sudah hampir sampai ditengah perjalanan menuntut ilmu di Kota Istimewa ini. Bisa dibilang kita sudah teramat saling mengerti dan sangat paham bagaimana peran seorang sahabat seharusnya. Bagiku, memiliki banyak sahabat adalah karunia yang tak ternilai oleh apapun. Yah, tapi itu hanya dari satu sisi caraku memandang. Entah bagaimana denganmu. (Emh, mungkin aku terlalu berbelit-belit ya? Okelah, langsung saja kalau begitu).
Sahabatku, dalam hidup ada massanya kita menemukan masalah yang tidak ingin kita bagikan sekalipun pada orang terdekat. Ada fasenya mood itu naik turun. Ada kalanya apa yang kita pahami tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan. Aku yakin, kita sudah sama-sama dewasa. Mengerti mana yang baik dan buruk. Mengerti mana yang dilarang dan dibenci olehNya. Aku tau, konflik ini memang mungkin aku yang menyulut. Marah, benci, jengkel itu wajar. Tapi jika sudah menjurus dendam, memutus silaturahmi, mendiamkan lebih dari tiga hari?
Sahabatku, aku yakin, tidak ada yang menginginkan keadaan seperti ini. Bagiku dan juga bagimu. Aku yakin pula, ilmumu tentang agama mungkin jauh lebih dalam dibandingkan dengan ilmuku. Emosi yang terus berlarut, siapa yang diuntungkan? Jangan racuni hati kita dengan prasangka. Jangan tutup mata batin kita oleh dendam dan kebencian. Coba baca syair lagu kepompong ini. Yah, kurang lebih bisa menggambar kondisi persahabatan kita sekarang.

            Dulu kita sahabat, teman begitu hangat mengalahkan sinar mentari
            Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat, berharap jadi kupu-kupu
            Kini kita melangkah berjauh-jauhan
            Kau jauhi diriku karena sesuatu
            Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
            Namun itu karena ku sayang,
            Persahabatan, bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan, bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan, bagai kepompong
Maklumi teman, hadapi perbedaan.....

Sahabatku, meminta maaf dan memaafkan tidak harus menunggu sampai lebaran kan? Maka dari itu, aku meminta maaf jika selama ini banyak salah. Terkadang memang tutur kata dan sikap dalam kondisi emosi tidak stabil bisa berdampak fatal.
Mungkin cukup sekian surat dariku. Surat yang mungkin saja tidak akan pernah terbaca. Semoga persahabatan yang dimulai dari kebaikan tidak akan berakhir dengan keburukan. Ah iya aku lupa, tidak ada label expired dalam persahabatan, jadi akan ada akhir dan kadaluwarsanya. Selamat malam, sampai bertemu besok dalam sapa, sahabatku J
Wassalamu’alaikum Wr. Wb




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.