Langsung ke konten utama

Love you more (Laporan)


Pembuka hari setelah weekend memang dibenci mayoritas masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari anak sekolahan, pegawai kantor, buruh, ibu rumah tangga, pejabat, presiden, dan masih banyak lagi lainnya (diluar kaca mata profesi). Hemh, sama halnya mahasiswa. Meskipun bagiku weekend itu ya sama aja sih. Ada kalanya semua hari terasa seperti weekend dan ada masanya pula tiada hari tanpa weekend (?). Apalagi musim-musim mendekati Ujian Akhir Semester (nama bekennya UAS). Iya sih memang disediakan waktu lebih untuk 'belajar' (istilahnya minggu tenang). Tapi untuk sampai di waktu itu perlu proses yang nggak panjang. Proses? iya proses. Proses ACC LAPORAN.

Oh my NO Oh my WOW! Rasanya kayak tiada hari tanpa tidur, tanpa stres, tanpa ngomel-ngomel, tanpa mengumpat (Astagfirullah), ya pokoknya variasi lah 'tanpa-tanpanya'. Kayak semester ini, semester yang menurutku bisa bikin kejiwaan ini bener-bener kudu wajib dikontrol. Semua emang ada resikonya sih, dari awal aku tau itu. Ngambil mata kuliah full semester empat aja udah luar biasa banget keteterannya, nah ini masih ditambah ngambil satu mata kuliah semester enam. Oke, semua memang butuh perjuangan. Coba sabar, ikhlas dan satu lagi NGGAK NGELUH.

Tujuh praktikum dan semua laporannya minta ACC diwaktu bersamaan. Di pandang dari sisi manapun ini berat. Yah, dari sisi hukum, psikologi, filsafat, MIPA, Farmasi (hloh). Tapi mau nggak mau ya harus dikerjain bener-bener. Sepait apapun harus tetep senyum manis. Secapek apapun harus tetap semangat. Yah, kalau bagiku, nikmati saja semua waktu yang kita punya dan syukuri. Nggak semua orang bisa berkesempatan kayak kita kan?
Oh, jadi ingat waktu kuliah tadi pagi. Tadi dosen cerita tentang alumni (masih fresh graduate, kayaknya berjenis kelamin perempuan. hehe) yang baru saja diterima bekerja disuatu tempat. Belum lama berada di tempat kerjanya yang baru, dia nggak betah dan mengadu kepada orang tuanya sambil menangis. Lalu orang tuanya pun bilang,
"yasudah nduk, pulang saja. Nanti cari kerja yang lain".
Kemudian si anak menuruti kata-kata orang tuanya, pulang dan memutuskan berhenti bekerja. Nah, dari situ, pelajaran apa yang bisa didapat?

Eenggg iiinggg eenggg.....

Kalau bagiku, ya si anak terlalu dimanja orang tuanya. Emm, tapi ada yang lebih penting. Untuk memulai sesuatu yang baru itu memang nggak mudah, jika awalnya aja udah ngeluh, ya jangan harap hasil akhirnya bakal manis. Pada intinya, semua itu dilakukan dengan cinta *uhuk (ini quote dosen hari ini, bukan quote yang lain :p). Cintai profesimu apapun itu. Toh misalkan kita menghindar dari suatu tantangan, kedepannya pasti bakal ketemu lagi dan ketemu lagi. Apa setiap ketemu masalah harus dihindari? nggak kan??

Nah, maka dari itu, yuk cintai profesi kita. Cintai Peternakan, Cintai kuliah kita, Cintai laporan-laporan kita. Toh nggak ada sesuatu yang nggak bermanfaat jika kita melakukannya sepenuh hati. Betul tidak?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....