Langsung ke konten utama

Kala Rindu Menyapa

Rindu itu sesuatu yang munculnya secara tiba-tiba. Kalau nggak tiba-tiba, bukan rindu namanya. Rindu itu soal rasa terbiasa. Rasa terbiasa yang mau tidak mau harus tergantikan oleh jarak dan waktu. Dan kini, aku rindu saat-saat dimana aku bersama mereka. Pertemuan untuk pertempuran yang dimulai kala langit masih gelap hingga kembali gelap lagi. Pertemuan dengan background tujuan yang aku yakin pasti berbeda masing-masing dari kami. Tapi meskipun beda, toh pada akhirnya tetap sama. Ujungnya tetap seragam, yaitu sebuah perjuangan.
Dulu, aku tidak mengenalmu, tidak mengenal kalian, tidak mengenal kita. Tapi kini, kapan ada aku, ada kamu, ada kita? Yah, tidak ada persahabatan tanpa kerinduan. Rindu teman-teman co-fast agro, khususnya agro barat, khususnya lagi gugus pertanian :)












Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Tentangmu dan Coklat

Sekali lagi, tak ada yang pernah mengerti seperti apa skenario yang telah dibuat olehNya. Bisa jadi hari ini panas terik, malamnya hujan badai. Who knows? Hah, nikmatnya segelas coklat panas di malam yang masih enggan ditinggal butiran rintik gerimis. Pekat warna lelehannya, sepekat perasaanku yang mungkin saja sama lelehnya seperti coklat ini. Mengertikah kau bagaimana coklat bisa terasa manis ? Mengertikah kau bagaimana melembutkan tekstur coklat yang sejatinya keras? Mengertikah kau bagaimana membuat khalayak umat gandrung akan lezatnya coklat? Sampai seusia diujung belasan ini, belum pernah sekalipun aku mendengar, coklat menyebabkan alergi. Yang ku tahu, dia membuat penikmatnya ketagihan. Padahal, mengertikah kau bagaimana coklat bisa seperti itu luar biasanya ? Hanya Allah yang tahu. Coklat itu unik. Mungkin saja sama sepertimu. Ah, atau hanya perasaanku saja? Coklat selalu membuatku rindu ketika bertemu. Semakin bertemu semakin rindu. Ketika anak-anak kecil selalu dilarang ...