Langsung ke konten utama

Ucapanku, doaku dan masa depanku

Tak terasa satu tahun berlalu begitu cepat. Dan hari ini, untuk kali kedua aku menghadiri omptf SMA ku. Sangat banyak yang berubah dari mantan sekolahku ini. Bangunan depan, aula, parkiran, semua dirobohkan. Renovasi. Entah akan disulap seperti apa.
Imbasnya? Sistem acara tahun ini sangat jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Maklumlah, keterbatasan tempat. Sedikit kurang efektif memang. Tapi ya, usaha panitia sudah luar biasa banget lah kalau menurutku.

Tahun ini, sebenarnya bukan tahunku lagi untuk show up (maksunya presentasi) di depan siswa kelas 3. Tapi karena kami (seluruh alumni smanra yang melanjutkan study di UGM) adalah keluarga, event tahunan seperti ini wajib diikuti semua angkatan, baik yang masih unyu-unyu, nyaris wisuda, sampai yang sudah lulus dan menyandang gelar sarjana.

Aku datang pukul setengah 8. Waktu yang sangat pagi untuk periode liburan seperti ini. Penampilan-penampilan baru nampak lalu lalang. Mayoritas adalah anak 2013, adek kelas satu tingkat dibawahku.
Rombonganku, almamater hijau lumut tampil pertama sebagai pembuka acara. Masing-masing dari kami saling berjabat tangan dan berkenalan. Maklum, aku sendiri tidak tau siapa adek-adek kelasku yang beralmamater serupa denganku.

Kemudian salah satu dari mereka tiba-tiba bertanya.
"Mbak yang dulu minjemin jas almamater ke aku kan waktu omptf tahun lalu?"
"Oh, iya ya?" Aku mencoba mengingat-ingat dan akhirnya "Ah, iya. Kamu masih ingat?"
"Iya pastilah mbak, itu yang buatku semangat bisa masuk UGM", jawabnya.

Satu tahun lalu, saat masih semangat-semangatnya aku mempromosikan almamater kebanggaan ini di depan adek-adek kelasku. Ribuan kata motivasi "kalian pasti bisa" terucap untuk satu dua rombongan mereka yang datang.

Saat itu, aku masih ingat, 3 siswi menghampiriku. Menyampaikan kegalauan mereka tentang sistem ujian yang harus dihadapi, 20 paket. Menyampaikan kegalauan mereka tentang nilai rapor yang sudah terlanjur. Menyampaikan kegalauan mereka tentang 'aku harus melanjutkan kemana?'.
Akupun hanya menjawab alakadarnya. Bagaimana kisahku dulu, yang bahkan tak pernah ada bayangan kuliah di universitas nomor satu di indonesia dengan jurusan yang sangat asing bagiku. Aku hanya menceritakan kisahku, nilai rapor yang biasa-biasa saja dan semua kebejoan yang diberikan Allah kepadaku.
Lalu, salah satu dari mereka berkata.
"Mbak, boleh pinjam almamaternya? Aku pengen pakai mbak".
Aku hanya tersenyum sembari melepas almamaterku dan kuberikan pada gadis didepanku saat itu. Gadis itupun memakainya, tersenyum sambil berkata kepada kedua temannya.
"Gimana, aku udah cocok belum pakai almamater ini?"
Dan kami semua tersenyum untuknya.
"Kamu pasti bisa kok", hanya kata itu yang bisa kuberi untuknya saat itu.

Dan siapa akan tahu, gadis itu sekarang begitu cantik dengan almamater yang kini ia kenakan. Almamater yang dulu ia dambakan.
"Wah, almamaterku berarti ajaib dong ya?" Kataku kepadanya sambil tertawa.
"Iya mbak, aku jadi lebih semangat dan yakin harus bisa kuliah di UGM juga. Hehe".

Subhanallah, kekuatan ucapan memanglah luar biasa adanya. Ucapan adalah doa, dan ucapanmu hari ini adalah wujud dari masa depanmu kelak. Maka dari itu, berprasangka baik, berkata baik, berpikir baik dan berdoa dengan tulus. Semangat dan percaya, takdir Allah tak pernah salah. Takdir dari Allah tak pernah tertukar.

Dan, kebahagiaan sesungguhnya bukanlah apa yang dapat kamu peroleh dengan usahamu, tapi apa yang dapat kamu berikan untuk orang-orang disekitarmu. Itu yang lebih penting.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....