Langsung ke konten utama

Tentang Seorang Lelaki

Berapapun tulisan sampah yang telah terukir, berapapun rentetan huruf tersusun akan banyak hal diluar sana, berapa kalipun aku berpetualang mencoba menyinggahi dunia baru. Namun sejatinya, aku tidak sedang kemana-mana. Aku sadar masih di tempat yang sama. Tempat dimana ia akan selalu menjadi tempat pulang ketika rasaku telah melangkah terlalu jauh. Penantian.

Selamat malam wahai Tuhanku yang selalu mengingatkan bahwa hidup tidak hanya melulu tentang kesenangan. Selamat malam wahai Tuhanku yang selalu mengingatkan bahwa hidup adalah perjuangan. Terima kasih untukMu Ya Allah, yang telah mengirim sosok luar biasa yang selalu mampu membuat aku lebih mencintaiMu.

Tentang seorang lelaki.

Bagaimana lagi caraku menatapmu dari berbagai sisi? Bisakah kau tunjukan secuil kisah hidupmu dan membaginya denganku? Bisakah kau ajari aku bagaimana mencipta peluh keringat dijalan keridhoanNya?

Tentang seorang lelaki, yang membawa perubahan besar bagi duniaku tanpa dia melakukan apapun. Tentang seorang lelaki, yang selalu mampu menyentuh perasaan ini meski dia hanya berdiam. Tentang seorang lelaki yang selalu membuatku berpikir bahwa hidup itu sederhana. Tentang seorang lelaki yang mampu membuatku enggan beranjak dan berpindah tempat. Tentang seorang lelaki yang membuatku belajar, bagaimana  cara menjadi pakar di bidang ilmu penantian.

-selamat malam-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....