Langsung ke konten utama

Postingan

Sesederhana cerita akhir tahun genap

Tinggal hitungan hari lagi, tahun genap ini selesai, berakhir, usai. Tahun ini, salah satu tahun terbaik bagiku. Tahun dimana aku benar-benar sendiri tanpa keluarga, tanpa kakak disini. Banyak perjalanan luar biasa menuntunku hingga sampai di titik ini. Tahun genap yang terasa begitu cepat. Hah, rasanya tidak ingin berakhir. Ya, tak ingin. Tahun genap yang menggenapkan. Entah berapa banyak orang-orang baru dikirim Allah tahun ini. Sahabat-sahabat baru, keluarga baru. Semua kisah yang baru. Awal tahun dengan amanah baru, bukan hal yang mudah. Amanah, yang bukan sekedar untuk gaya-gayaan. Amanah yang pastilah diakhir menanti untuk diminta pertanggung jawaban. Terima kasih Fosmapet, terima kasih untuk semuanya satu tahun ini. Terima kasih untuk ke17 sahabat-sahabat PH yang selalu ada. Terima kasih untuk kalian yang selalu menguatkan. Masa kita telah usai. Tahun depan, tidak ada lagi kita sama-sama menjalankan proker, tidak ada lagi kita sama-sama pulang larut memikirkan masa depan besar...

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Tentang Seorang Lelaki

Berapapun tulisan sampah yang telah terukir , berapapun rentetan huruf tersusun akan banyak hal diluar sana, berapa kalipun aku berpetualang mencoba menyinggahi dunia baru . Namun sejatinya , aku tidak sedang kemana - mana . Aku sadar masih di tempat yang sama . Tempat dimana ia akan selalu menjadi tempat pulang ketika rasaku telah melangkah terlalu jauh . Pe nantian . Selamat malam wahai Tuhanku yang selalu mengingatkan bahwa hidup tidak hanya melulu tentang kesenangan. Selamat malam wahai Tuhanku yang selalu mengingatkan bahwa hidup adalah perjuangan. Terima kasih untukMu Ya Allah, yang telah mengirim sosok luar biasa yang selalu mampu membuat aku lebih mencintaiMu. Tentang seorang lelaki . Bagaimana lagi caraku menatapmu dari berbagai sisi? Bisakah kau tunjukan secuil kisah hidupmu dan membaginya denganku? Bisakah kau ajari aku bagaimana mencipta peluh keringat dijalan keridhoanNya? Tentang seorang lelaki, yang membawa perubahan besar bagi...

Da aku mah apa atuh (Jatuh itu, mudah)

( Tapi sayang , aku hanyalah sebutir pasir diantara milyaran pasir pantai yang lai n . Yang ketika kamu datang , dapat dapat pilih pasir mana yang akan kamu buat istana, atau hanya sekedar untuk mainan . Dan bagian pasir yang lain kau tau? mungkin ia mendapat bagian terinjak oleh kaki. -Da aku mah apa atuh -) Malam ini cerah ya, tidak ada gerimis, tidak ada rasa khawatir akan hawa dingin yang memaksa kedua bola mata meredup. Tidak ada, hujan. Hujan, tanda bahwa tahun akan segera berakhir. Hujan, bukankah sesuatu yang kamu suka? Aku suka banget sama hujan din .. Yah, bahkan aku masih mengingat kata itu. Jika kamu tau, bahkan aku masih hafal betul setiap detail kata saat pertama kali kita menikmati malam tanpa embel-embel aktivitas yang tanpa sengaja mempertemukan kita. Kamu suka hujan, tapi sayang, kita dipertemukan Tuhan saat musim kemarau. Saat hatimu (mungkin) sedang kering dan butuh mata air untuk mempertahankan bongkahannya agar tidak p...

Da aku mah apa atuh (one hundred days : 1)

Lepas tengah malam. Terbangun dari rasa kecewa yang entahlah, rasanya begitu saja. Begitu abstrak. Sebenarnya ada dua hal yang terjadi kemarin. Bahagia dan kecewa. Tapi sepertinya sifat kecewa lebih dominan terhadap kebahagiaan yang lebih resesif tertutupi. Dia, memang Sang Maha pembolak-balikkan hati hambaNya. Semalam lalu, bahkan aku tidur sangat larut hanya untuk satu hal. Bagiku, masalah hati bukan untuk main-main. Seandainya kamu tau, kemarin tepat seratus hari kita saling kenal. Hemh, bagimu mungkin itu sangat biasa. Yah, biasa. Aku hanyalah sebagian kecil dari yang lainnya lain-lainmu bukan? Aku masih ingat saat itu. Pertama kalinya aku dipertemukan denganmu dalam sebuah lingkaran. Lingkaran baru dimana aku dan kamu adalah penghuni-penghuni awalnya. Saat itu, kita duduk saling seberang. Dan aku tidak pernah mengerti siapa kamu, begitu pula denganmu yang sama halnya denganku. Hari ke seratus terhitung sejak saat itu. Bukan dari saat kita pertama kali bertemu. Seratus hari, ter...

Tentangmu dan Coklat

Sekali lagi, tak ada yang pernah mengerti seperti apa skenario yang telah dibuat olehNya. Bisa jadi hari ini panas terik, malamnya hujan badai. Who knows? Hah, nikmatnya segelas coklat panas di malam yang masih enggan ditinggal butiran rintik gerimis. Pekat warna lelehannya, sepekat perasaanku yang mungkin saja sama lelehnya seperti coklat ini. Mengertikah kau bagaimana coklat bisa terasa manis ? Mengertikah kau bagaimana melembutkan tekstur coklat yang sejatinya keras? Mengertikah kau bagaimana membuat khalayak umat gandrung akan lezatnya coklat? Sampai seusia diujung belasan ini, belum pernah sekalipun aku mendengar, coklat menyebabkan alergi. Yang ku tahu, dia membuat penikmatnya ketagihan. Padahal, mengertikah kau bagaimana coklat bisa seperti itu luar biasanya ? Hanya Allah yang tahu. Coklat itu unik. Mungkin saja sama sepertimu. Ah, atau hanya perasaanku saja? Coklat selalu membuatku rindu ketika bertemu. Semakin bertemu semakin rindu. Ketika anak-anak kecil selalu dilarang ...

Kala Rindu Menyapa

Rindu itu sesuatu yang munculnya secara tiba-tiba. Kalau nggak tiba-tiba, bukan rindu namanya. Rindu itu soal rasa terbiasa. Rasa terbiasa yang mau tidak mau harus tergantikan oleh jarak dan waktu. Dan kini, aku rindu saat-saat dimana aku bersama mereka. Pertemuan untuk pertempuran yang dimulai kala langit masih gelap hingga kembali gelap lagi. Pertemuan dengan background tujuan yang aku yakin pasti berbeda masing-masing dari kami. Tapi meskipun beda, toh pada akhirnya tetap sama. Ujungnya tetap seragam, yaitu sebuah perjuangan. Dulu, aku tidak mengenalmu, tidak mengenal kalian, tidak mengenal kita. Tapi kini, kapan ada aku, ada kamu, ada kita? Yah, tidak ada persahabatan tanpa kerinduan. Rindu teman-teman co-fast agro, khususnya agro barat, khususnya lagi gugus pertanian :)