Langsung ke konten utama

Cinta, Jodoh dan Pernikahan

Terasa aneh ketika tiba-tiba ingin menulis random tentang cinta. Rasanya asing meskipun dulu setiap kata apapun yang muncul pasti akan langsung terhubung dengan cinta. Jejak-jejak digital yang kadang sungguh membuat malu, dan tidak habis pikir, "kok bisa dulu sampai seperti itu", yang tentu dibaca ulang dan dibayangkan sembari mengingat kembali momennya sambil tertawa. Tidak ada yang disesali dari setiap fase hidup. Dengan melihat kebelakang dan merasakan perubahannya, berarti kita tau, bahwa diri ini telah berproses. Menuju kemana? Ya entahlah, kita tidak pernah tau apa yang ada di depan. Akan bertemu dengan lingkungan seperti apa yang akan merubah dan membentuk kita kembali. Namun yang pasti, semua ingin berubah menjadi lebih baik. Meskipun kadar baik atau buruk tidak pernah ada standarnya (?)

Cinta, jodoh dan pernikahan. Nampaknya ini menjadi istilah-istilah keramat terlebih bagi wanita yang sudah menginjak usia hampir kepala 3 namun belum menemukan titik terang dari salah satunya. Ke khawatiran karena tuntutan 'standar' lingkungan, sering menjadikannya gegabah dan semakin tidak rasional dalam menemukan atau menjalani ketiga fasenya. Ini ditemukan hampir pada semua teman-teman yang belum (langsung saja sebut akhirnya) 'menikah', yang ditunjukkan dengan postingan keluh kesah tentang jodoh di sosmed manapun yang dimiliki, begitupun pada obrolan-obrolan langsung yang masih membahas terkait hal yang sama. Dan dari ketergesa-gesaan inilah, makna dari cinta, jodoh dan pernikahan menjadi bias. Jadi meskipun seharusnya sudah dianggap usia dewasa dan matang, pada akhirnya ya tetap tidak rasional karena tekanan dan ketergesa-gesaan karena usia tadi. 

Bicara cinta, di usia hampir kepala 3, saya yakin siapapun itu pasti sudah banyak makan asam garam. Definisi cinta masing-masing orang tentu berbeda. Bagi saya, cinta itu ketertarikan, rasa kagum, suka, membuat kita termotivasi dan keluar dari zona nyaman kita untuk menjadi lebih dekat dengan orang yang kita cinta (menyukai apa kesukaannya, menjadi sosok yang mendekati kriteria orang yang kita cinta) dan tentu dalam setiap momen, apapun selalu disambung-sambungkan dengan sosoknya. Hahaha, sungguh definisi yang alay, tapi ya namanya juga jatuh cinta. Kira-kira, jika sudah merasakan fase-fase itu, saya harus berani mengakui bahwa saya sudah jatuh cinta (karena kadang-kadang masih suka berdalih dengan menyebut 'tidak tau perasaan apa' wkwkw dasar wanita). Jadi ya di jaman dimana semua terasa dekat dan mudah dijangkau ini, membangun rasa cinta dalam waktu singkat rasanya bukan hal yang sulit. Misalnya ketika ada orang yang kemana-mana bawa photocard idol kpopnya, ikut semua fanbase idolanya, tidak ketinggalan daily activity, hingga rela-rela merogoh kocek jutaan rupiah demi selalu datang konsernya, ya kira-kira sudah bisalah disebut cinta (walau sesungguhnya sudah agak gila wkwk). Dari sini, berarti hubungan cinta dan pernikahan tentu masih sangat jauh. Jadi jika tujuannya pernikahan, ya modal cinta saja tentu masih sangat lemah. Karena kita bisa bebas cinta pada siapa saja, tanpa diatur. Karena sejatinya, cinta adalah tanggung jawab individu.

Cinta yang tidak mendapat balasan, sudah pasti semua tau namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Yang artinya apa? Betul, harus mundur. Atau jika ingin tetap maju dan bertahan ya boleh saja silahkan, tapi ingat harus bertanggung jawab, karena cinta adalah tanggung jawab individu. (Seperti sangat kenal dengan situasi ini hahaha).

Jika cinta diterima baik oleh keduanya, bisa disebut ini jodoh. Jodoh bisa diartikan kecocokan, atau ketentraman dalam menjalaninya. Seperti misalnya jodoh dalam pekerjaan, berarti kita nyaman dan tentram dipekerjaan itu, begitupun di lingkungannya. Jika pekerjaanmu tidak membuatmu nyaman, malah membuat tertekan, berarti belum jodoh, dan mungkin bisa segera pergi dan mencari jodoh pekerjaan yang lain. Begitupun dalam sebuah hubungan. Selama menjalani hidup, mungkin kita sudah berjodoh dengan banyak orang. Menjalani kecocokan hubungan dalam satu waktu, namun pergi ketika kecocokan itu sudah tidak dirasakan lagi. Jadi, jodoh bukan berarti menikah. Sekali lagi, jodoh adalah tentang perasaan 'cocok dan pas' yang didalamnya ditemukan ketenangan

Sedangkan pernikahan adalah visi misi tentang keluarga. Berat? Ya tentu saja. Jika banyak orang diluar sana banyak berujar tentang pernikahan tapi tidak pernah membahas visi misi berkeluarga, berarti dia hanya ingin menikah, tapi tidak siap untuk menikah. 

Saya ingat sekitar kira-kira empat tahun yang lalu. Saat itu, saya berpikir bertemu jodoh (untuk kesekian kali wkwk) bahkan kami berkomitmen untuk menikah karena dirasa sudah memenuhi standar jodoh tadi (cocok, pas dll). Sayangnya, dalam komitmen ini tidak pernah membahas visi misi keluarga. Hanya mentok pada tujuan hubungan yaitu menikah. Karena tidak ada visi misi yang jelas, ya sudah lebih baik diakhiri. Seperti dalam pilpres, pileg atau pilkada. Banyak atau bahkan hampir semua calon kontestan yang ingin menjadi pemimpin itu tidak memiliki visi misi yang jelas. Hanya sekedar kampanye, blusukan, bagi-bagi bansos untuk mencari suara. Sedangkan jika ditanya visi misi diluar forum resmi bingung, tidak bisa menjawab. Ya sudah pasti jika terpilih, program-program yang dijalankan selalu gagal. Sama seperti memulai sebuah pernikahan.

Selang waktu berjalan, kemudian saya menyadari, ternyata saat itupun sebenarnya saya juga belum memiliki visi misi keluarga yang jelas wkwk. Jadi ternyata keputusan untuk selesai, sudah yang terbaik. Kami hanya ingin menikah, tapi tidak siap untuk menikah. Dari situ, semakin saya menyadari bahwa cinta, jodoh dan pernikahan adalah perkara yang berbeda.

Ada hal menarik di tahun lalu, ketika ada satu teman saya (tidak yang terlalu dekat, jarang komunikasi kecuali urusan akademik yang penting), tiba-tiba menghubungi saya untuk bertemu dengan alasan ada hal yang ingin disampaikan. Dan saya cukup terkejut ketika teman saya ini tiba-tiba bilang (ngomong langsung):

"Din, kamu ada target nikah dalam waktu dekat? Gue pengen kenal Dinda lebih. Dan gue juga tau Dinda orang yang baik". Lalu dia menceritakan semua tentang kehidupannya, berikut visi misi hidup dan keluarga. Bingung? Sudah pasti. Tiba-tiba ada orang dihadapan saya, tidak ada fase cinta dan berjodoh, ujug-ujug bahas pernikahan. Meskipun tidak terlalu dekat, tapi saya paham karakter teman saya ini. Dalam beberapa kesempatan saat tidak sengaja bertemu, kadang tiba-tiba suka curhat random. Kami saling kenal kurang lebih 5 tahun. Dia juga orang yang baik. Namun, lagi-lagi karena saya belum memiliki visi misi berkeluarga, ya saya jawab "Belum ada keinginan menikah dalam waktu dekat". Hanya tidak ingin memberi harapan dan membuang waktu dalam ketidak pastian. 

Kemudian saya berpikir, apa yang dilakukan teman saya ini bisa dicontoh (wkwk). Jika seseorang sudah siap untuk menikah, mulailah dengan menyampaikan visi misi berkeluarga. Kalau sepakat antara keduanya, boleh disegerakan menikah. Cinta bisa dibangun dari kebiasaan, dan jodoh, hanya Allah yang tau. Kok hanya Allah yang tau? Ya karena jodoh itu soal cocok, dan hati manusia sering berubah. Banyak yang menikah, tapi dalam pernikahannya tidak ditemukan ketenangan, kecocokan, sering ribut, berarti ia tidak berjodoh dengan orang yang dinikahi

Seperti konsep ta'aruf kah? Bisa jadi. Tapi sejujurnya, hingga saat ini saya belum kepikiran untuk menikah dari jalur ta'aruf (karena memang belum ingin menikah di waktu dekat hehe). Intinya, untuk siapapun yang benar-benar ingin segera menikah, matangkan visi misi dalam berkeluarga. Karena dalam keluarga kedepan akan ada anak, keluarga pasangan dll yang tidak akan sesederhana perkara cinta dan jodoh. Jika dirasa visi misi keduanya berat untuk disatukan ya jangan dipaksa.

Jangan buang-buang energimu untuk membangun cinta atau galau dalam mencari jodoh, tapi rancang visi misi keluargamu dari sekarang. Visi misi bukan tentang seseorang yang sempurna yang bisa memenuhi segala keinginanmu, hlo ya. Visi misi ya tentang gambaran keluarga di masa depan menurut versimu dengan kondisi sekarang yang sesuai dengan pandangan dan kondisi calon pasanganmu. 

Tidak perlu terburu-buru. Ingat, rumah yang kokoh dibangun dari pondasi yang kuat.

Sekian, dan tetap semangat berikhtiar! 

(Ditulis random oleh orang yang sedang tidak dalam kondisi jatuh cinta, bertemu jodoh ataupun siap segara menikah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Belajar kehidupan, dari memelihara kucing

Tulisan pertama di tahun 2023. Sudah pasti untuk menjaga blog yang umurnya lebih dari 10 tahun ini tetap hidup. Dengan tulisan suka-sukaku tentunya. Karena ternyata konsisten lebih sulit dibandingkan muluk-muluk membuat sebuah karya besar untuk mengejar hasrat dan ambisi "pengakuan".  ***** Beberapa waktu terakhir banyak momen tentang "kucing", yang memaksaku ingin sekali untuk menulis tentangnya. Namun apa daya ternyata maksud hati terkalahkan banyaknya godaan diluar sana, tentu yang terbesar adalah kemalasan yang sungguh menyebalkan ini.  Secara track record, aku bukan pecinta kucing. Bukan juga golongan pembenci dan penyiksanya. Hanya tidak terlalu suka, geli, takut, kotor (hahaha padahal anak peternakan?) Sejak kecil di keluargaku tidak memiliki binatang peliharaan. Paling Mbakku dulu waktu SD pernah pelihara ikan yang dibeli di sekolah, ditaruh dalam bekas kaleng biskuit, yang baru beberapa hari sudah mati lalu ditangisin.  Kalau ditanya, "kok bisa pilih p...