Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Maka Kita Sama

“ berapa usiamu sekarang? Sudah semester berapa? Kapan lulus?” Jika kamu sedang dalam fase ini, maka kita sama. Fase dimana risau dan bimbang akan semua hal yang akan terjadi esok terkadang terasa begitu menjemukan. Jika jam tidurmu mulai tidak normal, jadwal makanmu mulai berantakan, maka kita sama. Karena terkadang keinginan melakukan sesuatu secara runtut, terjadwal seperti yang dulu-dulu sangat sulit untuk diulang kembali. Jika temanmu satu persatu mulai tak terlihat, hilang dari peredaran, dan kamu mulai kerap mendapati dirimu berjalan sendiri untuk menyelesaikan beberapa hal, maka kita sama. Jika saat ini kamu kerap membuka lembar-lembar foto, mengunjungi file-file lama yang berisi semua kenangan yang terekam dalam gambar sederhana, maka kita sama. Jika saat ini kamu kerap memutar lagu-lagu lama dengan harap bisa kembali diera melodi itu dulu tercipta, maka kita sama. Jika kamu rindu bertatap dengan teduhnya angkasa dipagi hari, bersentuhan dengan sengat cahaya mentari disia...

Bulan 12 ke 21

Malam ini, malam minggu pertama dibulan akhir tahun. Desember. Salah satu dari dua belas bulan yang selalu menjadi bulan paling berbeda dibandingkan bulan-bulan yang lain. Salah satu bulan yang paling ditunggu-tunggu? Bisa jadi iya. Bisa pula biasa saja. Tapi tak dapat dipungkiri, salah satu angka didalamnya selalu menjadi angka yang paling istimewa untukku. Lima Desember. Selamat tanggal 5 Desember yang ke 21 tahun :) Dua puluh satu, angka yang terlalu besar untuk disebut sebagai remaja. Dan pula masih terlalu canggung untuk dijuluki matang dan dewasa. Dua puluh satu, kadang aku merasa ini terlalu cepat. Kadang pula aku merasa belum pantas memasuki fase ini. Entah tentang kesiapan lahir maupun bathin. Aku masih terlalu kecil bahkan untuk mengenakan  title kepala dua. Dua puluh satu, mendapati doa-doa tentang jodoh dan wisuda, sedikit terlalu awam bahkan untuk dimaknai. Berbeda saat dulu, doa-doa yang kerap hanya seputar semoga panjang umur dan sehat selalu  kini telah b...

Dari Sebuah Payung Teduh

Semalam, baru saja dapet tiket konser Payung Teduh. Walaupun konsernya masih bulan depan sih, tapi well seneng lah. Dia adalah satu dari bejibun band indie. Kupikir awalnya tidak banyak orang tau. Atau mungkin juga memang begitu. Aku memutuskan mulai jadi penikmat karyanya pun juga baru-baru ini. Inget banget beberapa bulan lalu, setiap ada yang post listening Payung Teduh atau apalah on path atau dimanapun obrolan bertemakan Payung Teduh, pasti selalu kubilang " apa bagusnya sih?". Pada intinya, dulu sama sekali tidak suka. Boro-boro suka, tertarik saja tidak. Sebenernya ketidaksukaan ini tidak beralasan sih, toh pada saat itu sebenarnya aku bahkan belum pernah mendengar satupun lagunya, ketemu personilnya, mantengin video klipnya dan lain-lainnya. Rasa tidak tertarik dan tidak suka itu, semata-mata hanya bersumber dari persangkaan. Hingga pada suatu hari ketika karaoke bareng temen-temen dan kita memilih salah satu lagunya yang berjudul Resah. S aat itu pulalah ketertarika...

Titik Leleh, Awal Sebuah Rindu

Holaaa... Ku rasa blog ini sudah teramat usang ditinggal pemiliknya. Hampir seperempat tahun si pemilik terlalu sibuk dengan apalah apalahnya sampai lupa menulis tentang apalah-apalahnya itu. Yaaa...Apalaahh.. Selamat malam Jogjakarta, kota dimana suhu petangnya akhir-akhir ini tidak pernah kurang dari 25 derajat. Panas dan penatnya semakin terasa sesak dengan berjuta manusia beterbaran mencari titik penghabisan dalam kisaran satu kali 24 jam. Menyambangi dan bersahabat dengan kota ini sejak 3 minggu lalu bahkan masih terasa begitu asing, meski hitungan 3 tahun menjadi bagian darinya bukanlah angka yang kecil untuk sebuah tapak tilas perjalanan. Dua bulan tinggal ditempat dengan suhu gelap mencapai 8 derajat, 4 kali jauh lebih dingin dibanding kota ini semakin membuatku rindu.  Rindu?  Lagi-lagi kata itu. Lima huruf  yang membuatku jengah setiap kali virusnya mulai menginjeksi didalam tubuh. Sebut saja dengan istilah beku untuk tempo dua bulan dit...

Dibalik Kaum Kami (Perempuan)

Jika kaum kalian menganggap perempuan adalah makhluk yang rumit, mungkin benar, karena segala sesuatunya pastilah selalu dikaitkan dengan perasaan. Tidak seperti kaum kalian, cukup berpikir rasional dan semua permasalahan akan selesai. Jika perempuan sering dianggap banyak maunya dan merepotkan, mungkin juga tak keliru karena pikiran dan tenaganya tidak sekuat kalian menyelesaikan semuanya. Marahnya perempuan karena kaum kalian bukan berarti dia benci. Itu hanyalah salah satu cara mengekspresikan kekhawatiran yang entah bagaimana lagi mereka ungkapkan. Karena kami adalah kaum dengan sejuta kekhawatiran. Ketika perempuan dianggap banyak bicara, ketahuilah sebenarnya mereka sedang belajar. Belajar bagaimana membaca apa yang kalian pikirkan dan rasakan dalam diam. Ketika perempuan bilang "aku tidak apa-apa". Perlu kalian tau kalau itu bohong. Dia hanya tidak ingin kalian mencemaskannya. Kaum kami selalu ingin terlihat mandiri, sama seperti kalian. Hanya saja cara kita yang ...