Langsung ke konten utama

Bulan 12 ke 21

Malam ini, malam minggu pertama dibulan akhir tahun. Desember. Salah satu dari dua belas bulan yang selalu menjadi bulan paling berbeda dibandingkan bulan-bulan yang lain. Salah satu bulan yang paling ditunggu-tunggu? Bisa jadi iya. Bisa pula biasa saja. Tapi tak dapat dipungkiri, salah satu angka didalamnya selalu menjadi angka yang paling istimewa untukku. Lima Desember.

Selamat tanggal 5 Desember yang ke 21 tahun :)

Dua puluh satu, angka yang terlalu besar untuk disebut sebagai remaja. Dan pula masih terlalu canggung untuk dijuluki matang dan dewasa. Dua puluh satu, kadang aku merasa ini terlalu cepat. Kadang pula aku merasa belum pantas memasuki fase ini. Entah tentang kesiapan lahir maupun bathin. Aku masih terlalu kecil bahkan untuk mengenakan title kepala dua.

Dua puluh satu, mendapati doa-doa tentang jodoh dan wisuda, sedikit terlalu awam bahkan untuk dimaknai. Berbeda saat dulu, doa-doa yang kerap hanya seputar semoga panjang umur dan sehat selalu kini telah bertransformasi menjadi lekas bertemu jodohnya dan lekas wisuda. Aku hanya bisa mengamini, tentang apa yang orang-orang terdekatku dapat berikan, semua yang terbaik untuk hari spesial disetiap tahunku. Terima kasih.

Dua puluh satu, aku hanya bisa berdoa, semoga Allah selalu membersamakan orang-orang terbaik disekitarku. Ibu, yang rela menunggu sampai jam 00.00 hanya untuk memberi ucapan selamat pergantian usiaku dan memberi doa-doa yang bahkan sebenarnya aku tau, doa ibu selalu ada untukku setiap sepersekian detik tanpa harus menunggu tanggal lima Desember. Kakak perempuan satu-satunya yang terhebat, meskipun bertugas diluar kota manapun, sesibuk apapun tak lupa selalu mengomeli tentang banyak hal. Omelan yang sebenarnya aku sangat paham bahwa itu hanyalah sebuah kulit dari sebentuk buah kepedulian. Sahabat-sahabatku ditempat rantau, yang tak henti-hentinya selalu memberiku kejutan sejak usia delapan belas tahun menimba ilmu di kota pelajar hingga capaian angka dua puluh satu sekarang. Sahabat-sahabat telek saking jahilnya, tiada tanggung cerewetnya dalam membully. "Dinda pipi tembem, Dinda nggak bisa bilang R.. Dinda Baper.. Dinda Galau.. Dinda Tukang nunggu.. Dinda nggak bisa move on.. Dinda alay... Dinda sok hits.." Terima kasih untuk semuanya.

Dua puluh satu, aku tidak mengerti harus memulai dari mana dulu. Apakah dua puluh tahunku kemarin adalah sebuah kesia-siaan tanpa rencana atau seperti apa. Bukan karena hidupku terlalu mengalir tanpa dipikir. Hanya saja ekspektasi yang berlebih kerap kali membuatku letih. Aku hanya berharap, semoga apa yang aku cita-citakan, orang-orang terbaik didekatku berikan, dan apa yang Allah takdirkan dapat berjalan sama sejalan dan menjadikan ku, hamba kecilNya yang dapat memberi kebermanfaatan bagi semuanya.. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Belajar kehidupan, dari memelihara kucing

Tulisan pertama di tahun 2023. Sudah pasti untuk menjaga blog yang umurnya lebih dari 10 tahun ini tetap hidup. Dengan tulisan suka-sukaku tentunya. Karena ternyata konsisten lebih sulit dibandingkan muluk-muluk membuat sebuah karya besar untuk mengejar hasrat dan ambisi "pengakuan".  ***** Beberapa waktu terakhir banyak momen tentang "kucing", yang memaksaku ingin sekali untuk menulis tentangnya. Namun apa daya ternyata maksud hati terkalahkan banyaknya godaan diluar sana, tentu yang terbesar adalah kemalasan yang sungguh menyebalkan ini.  Secara track record, aku bukan pecinta kucing. Bukan juga golongan pembenci dan penyiksanya. Hanya tidak terlalu suka, geli, takut, kotor (hahaha padahal anak peternakan?) Sejak kecil di keluargaku tidak memiliki binatang peliharaan. Paling Mbakku dulu waktu SD pernah pelihara ikan yang dibeli di sekolah, ditaruh dalam bekas kaleng biskuit, yang baru beberapa hari sudah mati lalu ditangisin.  Kalau ditanya, "kok bisa pilih p...