Langsung ke konten utama

Maka Kita Sama

berapa usiamu sekarang? Sudah semester berapa? Kapan lulus?”

Jika kamu sedang dalam fase ini, maka kita sama. Fase dimana risau dan bimbang akan semua hal yang akan terjadi esok terkadang terasa begitu menjemukan. Jika jam tidurmu mulai tidak normal, jadwal makanmu mulai berantakan, maka kita sama. Karena terkadang keinginan melakukan sesuatu secara runtut, terjadwal seperti yang dulu-dulu sangat sulit untuk diulang kembali. Jika temanmu satu persatu mulai tak terlihat, hilang dari peredaran, dan kamu mulai kerap mendapati dirimu berjalan sendiri untuk menyelesaikan beberapa hal, maka kita sama. Jika saat ini kamu kerap membuka lembar-lembar foto, mengunjungi file-file lama yang berisi semua kenangan yang terekam dalam gambar sederhana, maka kita sama. Jika saat ini kamu kerap memutar lagu-lagu lama dengan harap bisa kembali diera melodi itu dulu tercipta, maka kita sama. Jika kamu rindu bertatap dengan teduhnya angkasa dipagi hari, bersentuhan dengan sengat cahaya mentari disiang hari, dan bersua dengan sinar rembulan di malam hari, maka kita sama.
Jika kamu mulai ragu dengan usiamu yang semakin bertambah dan keadaan memaksamu untuk segera berpindah, berlari dan terus berjalan memasuki dimensi lain yang akan sangat haram bagimu menoleh kebelakang, maka kita sama. Jika kamu sedang berusaha berdamai dengan keyakinan menerima suatu hal baru yang ditawarkan untuk masa depanmu, maka kita sama. Jika saat ini kamu tengah berdiri diantara banyak pilihan namun kenyamanan membuatmu enggan beranjak meski nyamanmu adalah racun bagimu sendiri, dan kamu sangat mengerti itu, maka kita sama. Jika harapanmu kini adalah gencatan ucap semangat tiada putus dari hambaNya yang selalu tulus mendoakanmu dan begitu pula yang engkau doakan disetiap kedua telapak tangan telungkup penuh pinta pada Sang Penulis Takdir, maka kita sama.





Jika semua yang kita rasakan sama, bolehkah kita berbagi asa?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....