Holaaa... Ku rasa blog ini sudah teramat usang ditinggal pemiliknya. Hampir seperempat tahun si pemilik terlalu sibuk dengan apalah apalahnya sampai lupa menulis tentang apalah-apalahnya itu. Yaaa...Apalaahh..
Selamat malam Jogjakarta, kota dimana suhu petangnya akhir-akhir ini tidak pernah kurang dari 25 derajat. Panas dan penatnya semakin terasa sesak dengan berjuta manusia beterbaran mencari titik penghabisan dalam kisaran satu kali 24 jam. Menyambangi dan bersahabat dengan kota ini sejak 3 minggu lalu bahkan masih terasa begitu asing, meski hitungan 3 tahun menjadi bagian darinya bukanlah angka yang kecil untuk sebuah tapak tilas perjalanan. Dua bulan tinggal ditempat dengan suhu gelap mencapai 8 derajat, 4 kali jauh lebih dingin dibanding kota ini semakin membuatku rindu.
Rindu?
Lagi-lagi kata itu. Lima huruf yang membuatku jengah setiap kali virusnya mulai menginjeksi didalam tubuh. Sebut saja dengan istilah beku untuk tempo dua bulan ditempat dengan suasana baru. Meski dingin tidak selalu membekukan, tapi dingin pastilah mengakukan. Anggap saja begitu logikanya. Jika kau paham, dingin ini adalah keadaan. Keadaan yang memang dipaksakan untuk bertahan. Faktanya masih ada api diatas sana. Bukanlah api pembumi hangus segalanya, dialah api terindah pelukis angkasa di malam keagunganNya. Saat itu, langit nan penuh sorot warna menjadi saksi, bahwa angin tak selalu mendinginkan, lepas malam tak selalu mencekam. Hanya ada sosok tengah meringkuk malu menahan rona wajah yang memerah bekas pantulan gemerlap detik hari raya. Menahan deru tak berpangkal hingga terasa sesak tak ada gerak. Ingin rasa detik berhenti saat kita duduk bersama.
Awalnya, waktu memang nampak perlahan tapi ujungnya terlalu cepat membawaku pada satu titik leleh dimana tidak ada lagi kedinginan yang memaksaku harus membeku untuk bertahan. Titik leleh yang mungkin sudah bukan fasenya lagi karena sebuah keterlambatan. Titik leleh yang mungkin sedang ku nikmati saja sekarang.Titik leleh yang menjadi awal sebuah kerinduan.
Komentar
Posting Komentar