Semalam, baru saja dapet tiket konser Payung Teduh. Walaupun konsernya masih bulan depan sih, tapi well seneng lah. Dia adalah satu dari bejibun band indie. Kupikir awalnya tidak banyak orang tau. Atau mungkin juga memang begitu. Aku memutuskan mulai jadi penikmat karyanya pun juga baru-baru ini. Inget banget beberapa bulan lalu, setiap ada yang post listening Payung Teduh atau apalah on path atau dimanapun obrolan bertemakan Payung Teduh, pasti selalu kubilang "apa bagusnya sih?". Pada intinya, dulu sama sekali tidak suka. Boro-boro suka, tertarik saja tidak. Sebenernya ketidaksukaan ini tidak beralasan sih, toh pada saat itu sebenarnya aku bahkan belum pernah mendengar satupun lagunya, ketemu personilnya, mantengin video klipnya dan lain-lainnya. Rasa tidak tertarik dan tidak suka itu, semata-mata hanya bersumber dari persangkaan.
Hingga pada suatu hari ketika karaoke bareng temen-temen dan kita memilih salah satu lagunya yang berjudul Resah. Saat itu pulalah ketertarikan ini muncul. Berlanjut menjadi rasa suka dan berakhir dengan terbiasa. Begitu berlanjut hingga sekarang sampai mungkin bisa disebut "tiada hari tanpa dengerin lagunya Payung Teduh".
Yah, memang terkadang seperti itulah hidup. Terkadang kita tidak menyukai sesuatu atau membencinya, atau bahkan lebih parah lagi menjudge bahwa sesuatu itu buruk hanya dilandasi oleh sebuah persangkaan. Sampai pada satu titik dimana kita benar-benar melihat, mendengar dan merasakan bahwa sesuatu itu tidak serupa seperti apa yang sebelumnya kita bayangkan.
Dari sini, ada sedikit quote yang bisa ditetaskan dan diambil pelajaran, cekidot :
"Janganlah kamu terjebak dalam sebuah persangkaan karena hal itu mengibaratkan dirimu layaknya burung dara yang hanya terkungkung didalam sangkar. Kita masih muda, masih banyak kesempatan untuk melihat, mendengar dan merasakan banyak hal diluar sana. Allah menciptakan panca indera dengan sempurna dan bertujuan, maka sudah selayaknya dipergunakan sebaik-baiknya".
(Oiya, sitasinya: Dinda, 2015 hehehehe)
Begitu sih. Satu hal lagi, genre musik itu luaass. Jangan hanya menikmati satu genre saja.
Sampai ketemu di konser Payung Teduh nanti yaa. Nonton bareng? Boleh banget yuk mari mendayu-dayu bersama :)
Hingga pada suatu hari ketika karaoke bareng temen-temen dan kita memilih salah satu lagunya yang berjudul Resah. Saat itu pulalah ketertarikan ini muncul. Berlanjut menjadi rasa suka dan berakhir dengan terbiasa. Begitu berlanjut hingga sekarang sampai mungkin bisa disebut "tiada hari tanpa dengerin lagunya Payung Teduh".
Yah, memang terkadang seperti itulah hidup. Terkadang kita tidak menyukai sesuatu atau membencinya, atau bahkan lebih parah lagi menjudge bahwa sesuatu itu buruk hanya dilandasi oleh sebuah persangkaan. Sampai pada satu titik dimana kita benar-benar melihat, mendengar dan merasakan bahwa sesuatu itu tidak serupa seperti apa yang sebelumnya kita bayangkan.
Dari sini, ada sedikit quote yang bisa ditetaskan dan diambil pelajaran, cekidot :
"Janganlah kamu terjebak dalam sebuah persangkaan karena hal itu mengibaratkan dirimu layaknya burung dara yang hanya terkungkung didalam sangkar. Kita masih muda, masih banyak kesempatan untuk melihat, mendengar dan merasakan banyak hal diluar sana. Allah menciptakan panca indera dengan sempurna dan bertujuan, maka sudah selayaknya dipergunakan sebaik-baiknya".
(Oiya, sitasinya: Dinda, 2015 hehehehe)
Begitu sih. Satu hal lagi, genre musik itu luaass. Jangan hanya menikmati satu genre saja.
Sampai ketemu di konser Payung Teduh nanti yaa. Nonton bareng? Boleh banget yuk mari mendayu-dayu bersama :)
Komentar
Posting Komentar