Langsung ke konten utama

Dibalik Kaum Kami (Perempuan)

Jika kaum kalian menganggap perempuan adalah makhluk yang rumit, mungkin benar, karena segala sesuatunya pastilah selalu dikaitkan dengan perasaan. Tidak seperti kaum kalian, cukup berpikir rasional dan semua permasalahan akan selesai.
Jika perempuan sering dianggap banyak maunya dan merepotkan, mungkin juga tak keliru karena pikiran dan tenaganya tidak sekuat kalian menyelesaikan semuanya.
Marahnya perempuan karena kaum kalian bukan berarti dia benci. Itu hanyalah salah satu cara mengekspresikan kekhawatiran yang entah bagaimana lagi mereka ungkapkan. Karena kami adalah kaum dengan sejuta kekhawatiran.
Ketika perempuan dianggap banyak bicara, ketahuilah sebenarnya mereka sedang belajar. Belajar bagaimana membaca apa yang kalian pikirkan dan rasakan dalam diam.
Ketika perempuan bilang "aku tidak apa-apa". Perlu kalian tau kalau itu bohong. Dia hanya tidak ingin kalian mencemaskannya.
Kaum kami selalu ingin terlihat mandiri, sama seperti kalian. Hanya saja cara kita yang berbeda. Cara kami mandiri adalah dengan selalu melihat kalian, tapi cara kalian mandiri tidak pernah memandang kami.
Ketika putus cinta, kami dan kalian pasti merasakan sakit yang sama. Hanya saja kaum kalian lebih cepat bangkit, karena kalian menatap hari esok dengan mata, dan kaum kami tetap saja menatap dengan hati.
Saat mencintai, kaum kalian lebih mudah mendapat apa yang kalian rasa. Tidak seperti kaum kami yang hanya mampu memendam, yang hanya mampu menanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....