Jika kaum kalian menganggap perempuan adalah makhluk yang rumit, mungkin benar, karena segala sesuatunya pastilah selalu dikaitkan dengan perasaan. Tidak seperti kaum kalian, cukup berpikir rasional dan semua permasalahan akan selesai.
Jika perempuan sering dianggap banyak maunya dan merepotkan, mungkin juga tak keliru karena pikiran dan tenaganya tidak sekuat kalian menyelesaikan semuanya.
Marahnya perempuan karena kaum kalian bukan berarti dia benci. Itu hanyalah salah satu cara mengekspresikan kekhawatiran yang entah bagaimana lagi mereka ungkapkan. Karena kami adalah kaum dengan sejuta kekhawatiran.
Ketika perempuan dianggap banyak bicara, ketahuilah sebenarnya mereka sedang belajar. Belajar bagaimana membaca apa yang kalian pikirkan dan rasakan dalam diam.
Ketika perempuan bilang "aku tidak apa-apa". Perlu kalian tau kalau itu bohong. Dia hanya tidak ingin kalian mencemaskannya.
Kaum kami selalu ingin terlihat mandiri, sama seperti kalian. Hanya saja cara kita yang berbeda. Cara kami mandiri adalah dengan selalu melihat kalian, tapi cara kalian mandiri tidak pernah memandang kami.
Ketika putus cinta, kami dan kalian pasti merasakan sakit yang sama. Hanya saja kaum kalian lebih cepat bangkit, karena kalian menatap hari esok dengan mata, dan kaum kami tetap saja menatap dengan hati.
Saat mencintai, kaum kalian lebih mudah mendapat apa yang kalian rasa. Tidak seperti kaum kami yang hanya mampu memendam, yang hanya mampu menanti.
Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....
Komentar
Posting Komentar