Langsung ke konten utama

Postingan

Untuk Dita

Dear Dita,   Dulu aku pernah bilang, “ Tenang Dit, bakal tak sisake slot Tjatatan Ketjil ngge kowe ”. Dan sudah pasti dijawab, “ Yaampun Din, nggilanik banget ”. Hahahah…     .....................................................................................................  Dita, anak Fapet pertama yang ku kenal (selain teman se SMA ku yang di Fapet). Awal ketemu dulu waktu tes toefl di GSP karena tempat duduk kami sebelahan sesuai abjad, Dinda--Dita. Dita yang saat itu datang diantar Ibunya, yang masih bingung mencari kosan. Dan aku yang sendirian naik sepeda kayak anak ilang. Dari belum kenal siapa-siapa, tambah personil ciwi-ciwi, dan menjadi keluarga besar di Selak Ijo Mas. Dita, Jogja dan Fapet adalah paket lengkap. Entah bagaimana aku menjalani hidup 4 th ++ di Jogja tanpa dia. Sahabat, kakak, teman sekelas, teman curhat, teman makan, segala gala pokoknya.          Mengingat kembali kebelakang, begitu banyak memori...

Cinta

  Cinta.. Lama sekali sepertinya aku tidak menulis tentang cinta. Mungkin tulisan ini akan sangat berantakan. Pertama, karena aku sedang tidak merasakan cinta. Hal lainnya adalah aku sudah lupa, kapan terakhir membaca novel-novel fiksi roman yang sangat membantuku berimajinasi dan menyusun kata-kata. Ada sesuatu yang cukup mengganggu pikiranku dalam beberapa waktu terakhir. Rasa was-was, khawatir, bingung. Tujuan hidup, masa depan, cita-cita. Seakan semua kompak terkurung dalam kepala. Ya, di kepala dan angan-angan saja, tanpa ada solusi membebaskannya satu per satu. Berpacu dengan waktu yang sepertinya akhir-akhir ini detiknya terasa begitu cepat. Seiring bertambahnya usia, aku berpikir bahwa hidup dalam label “kedewasaan” membuat diri ini menjadi tidak bebas. Misalnya saja, soal cinta. Sebelum menulis ini (ah bisa jadi sampai saat ini juga masih, walaupun sudah sedikit meluntur), bagiku cinta orang dewasa adalah tentang komitmen.   Dalam beberapa tahun terakhir, aku ...

Yang Tak Pernah Tersampaikan

Hujan belum berselera menghentikan laju rintiknya meski satu jam lagi malam siap bertugas menjaga bumi. Koridor berlapis lantai putih yang tak berjajar lurus, dipenuhi genangan air dibeberapa bagiannya. Dan sebagian lain, nampak berkilau bekas percikan hujan yang tak menyebar rata. Aku berjalan perlahan dengan kaki berjinjit agar air tak merembes masuk membasahi sepatu. Jendela kaca membungkus seluruh dinding ruangan yang menyala terang memantulkan cahaya menerangi sekeliling yang tak berpenerangan. Langkahku terhenti ketika mendapatimu duduk sendiri di depan meja keramik berwarna putih tengah khusyu membaca Al Qur’an. Beberapa saat berlalu, akhirnya kulanjutkan lagi laju jalanku penuh ragu, khawatir mengganggumu. Di depan meja coklat  kayu depan pintu, langkahku kembali terhenti, mengamatimu kembali yang masih kusyu melantunkan ayat suci. “Masuk Din.." Suara dari dalam ruangan membuyarkan lamunanku. Entah kenapa hatiku menjerit tak karuan. Ada apa ini?  Sepertinya, Alla...