Langsung ke konten utama

Untuk Dita


Dear Dita, 

Dulu aku pernah bilang, “Tenang Dit, bakal tak sisake slot Tjatatan Ketjil ngge kowe”. Dan sudah pasti dijawab, “Yaampun Din, nggilanik banget”. Hahahah… 

 

..................................................................................................... 


Dita, anak Fapet pertama yang ku kenal (selain teman se SMA ku yang di Fapet). Awal ketemu dulu waktu tes toefl di GSP karena tempat duduk kami sebelahan sesuai abjad, Dinda--Dita. Dita yang saat itu datang diantar Ibunya, yang masih bingung mencari kosan. Dan aku yang sendirian naik sepeda kayak anak ilang. Dari belum kenal siapa-siapa, tambah personil ciwi-ciwi, dan menjadi keluarga besar di Selak Ijo Mas.

Dita, Jogja dan Fapet adalah paket lengkap. Entah bagaimana aku menjalani hidup 4th++ di Jogja tanpa dia. Sahabat, kakak, teman sekelas, teman curhat, teman makan, segala gala pokoknya.  

      

Mengingat kembali kebelakang, begitu banyak memori bersama. Kami tidak pernah satu kosan, tapi rasanya waktu 24 jamku penuh dengan Dita, Dita lagi dan masih Dita. Mungkin kalau satu kos malah tidak akan sedekat itu. Karena kadang memang harus ada jarak untuk bisa tau seberapa besar kesetiaan ya kan? (eeaaa… krik krik)

Inget banget dulu, jaman awal-awal kuliah dan masih sering berangkat bareng, apalagi kalau kuliah pagi. Sepedaku ku titp di kos Dita, lalu masuk Fapet loncat pager Agro yang masih digembok gerbangnya. Lumayan, irit sepersekian detik karena lebih cepet apalagi kalau ruang kelasnya yang di dekat Salesa (hahaha, hidup mager!!).

Berangkat praktikum ke MIPA naik sepeda bareng hujan-hujanan. Partner nonton supporteran (cuma nonton, ngga ikut supporteran). Semangat ke Gelanggang atau Pancasila sekedar ingin menyaksikan euforia “Siapaaa bilangg Gadjah Mada sarjanaa….” (marsnya Galaksi Vokasi) atau “Suupeer sonic mendukungmuuu ee..ee..e..e yaaa!!” (Supersonicnya Teknik), padahal paginya dia bolos kuliah (wkwk maap ember bocor). Sobat rajin ke Perpus Pusat tiap sore, tapi bukan mau belajar atau ngerjain sesuatu, cuma mau ke rooftop dan melihat senja GSP (eaaa.. anak senja banget ga tuh?). Teman pulkam bareng naik TJ kalau weekend (pas masih rajin-rajinnya pulang), pisah di shelter Concat, aku ke arah Klaten, Dita ke Magelang (kangen!). 

Ah, banyak sekali memori-memori bersama Dita (kalau diceritakan semua, baru akan selesai di Tjatatan Ketjil episode 1612 hahaha). Ngga kehitung berapa kilometer sudah kami lewati bersama buat ngetrip bareng atau sekedar muter-muter karena bingung mau makan dimana, ratusan menit Dita yang terbuang cuma buat dengerin curhatku yang itu lagi itu terus ngga move on move on dan banyaknya kebaikan-kebaikan Dita yang selama aku kenal dia, ngga pernah Dita ngga baik, karena Dita selalu baik.

Ada satu momen yang selalu aku ingat tentang kebaikan Dita (dari ribuan kebaikannya pastinya, setiap orang yang kenal Dita pasti akan sangat setuju gimana baiknya dia). Saat itu momennya aku lagi patah hati (walaupun tiap hari patah hati karna kasih tak sampai, wkwk candaa~). Hari itu kuliah libur karena kemarinnya adalah hari terakhir UAS. Setelah semalaman banjir air mata dan live report apa yang terjadi, paginya pun Dita SMS (waktu itu masih jamannya SMS):

“Din, gek ning ndi?”

“Ning kos Dit”

“Wis sarapan durung?”

“Durung Dit, isin arep metu golek sarapan, mataku mbendhol mbendhol soale hmmm”

“Oke aku ning kosmu ya”

Ga perlu waktu lama, langsung sat set kayak mamang g*food yang langsung “saya sudah di depan yaa mba”. Tau-tau Dita datang bawa bubur ayam dan buah, yang belinya di Indomar*t ringroad. Memang selalu ngga habis pikir kalau sama Dita. Orang jualan banyak, tapi kenapa harus ringroad. Kebayang muter dan jauhnya, dari kosan Dita yang deket UNY itu, kearah ringroad dulu, baru ke kosku yang saat itu masih di Pogung, hanya untuk datang bawa sarapan (padahal aku ngga minta) dan demi memastikan keadaanku masih aman (wkwk alay).

Dita adalah orang yang sangat rajin dan kreatif untuk orang lain. Contohnya, kalau ada teman yang ulang tahun: 

“Din, nyilih flash disk”

“Meh ngopo e?”

Tau-tau ada video ulang tahun di flash disk. Jaman dulu instagram belum ada update story, apalagi reels, kirim video juga jarang, whatsapp belum banyak yang pakai. Bahkan setelah kami sudah berbeda kotapun, Dita masih menyempatkan bikin hand made kalender (setiap anak Fapet pasti bikin biar ngga tabrakan jadwal praktikum). Benar-benar Dita baik!              

Ingat pada suatu ketika, waktu awal TI Fosmapet (sekitar 3 bulanan jadi maba mungkin). TI yang lokasinya di Bantul kalau tidak salah, yang ada panitianya acting kesurupan. Saat turun dari bus Kopata (bus andalan anak makrab di jamannya), dengan pedenya aku tiba-tiba bilang: 

“Dit, delok ya, aku bakal menemukan jodohku ning Fosmapet”, wkwk.

“Teko iyo waelah Din”, template jawaban khas Dita: “Teko iyo iyo wae pokoke”

Dan siapa sangka, ternyata malah Dita yang menemukan jodohnya di Fosmapet. Bersama bapak Kadep PBD (Masya Allah). Panutan memang cerita cinta Dita dan Mas Aam yang penuh perjuangan (terharu).

Dan hari ini adalah hari bahagia Dita (Alhamdulillah sudah tidak jomblo ya Dit). Ingat jargon Dita jaman dulu: "Semoga kita ora STMJ ya Din, Semester Tujuh Masih Jomblo wkwk" (Padahal bulan depan aku semester 7 lagi, dan masih jomblo Dit, huhu wkwk) 

Dari Dita, aku belajar banyak hal terutama dalam persahabatan. Dita yang selalu tulus dan totalitas untuk sahabat-sahabatnya. Selalu sabar, tidak pernah marah, membantu dan menyenangkan hati sahabat-sahabatnya (Ah, tapi kayaknya bukan hanya sahabat, tapi ke semua orang yang Dita kenal). Karena ketika kita memudahkan kesulitan orang lain, Allah akan memudahkan segala urusan kita. Dan ketika kita membuat orang lain gembira, Allah juga akan membuat kita gembira dengan caraNya.

Barakallahu laka wa baraka alaika wa jamaa baynakuma fii khair, Dita & Mas Aam..

Menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah.. Selalu solid, saling menguatkan dalam suka dan duka, bahagia dan langgeng sampai jannah.. Aaamin..

 


 


 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.