Langsung ke konten utama

Yang Tak Pernah Tersampaikan

Hujan belum berselera menghentikan laju rintiknya meski satu jam lagi malam siap bertugas menjaga bumi. Koridor berlapis lantai putih yang tak berjajar lurus, dipenuhi genangan air dibeberapa bagiannya. Dan sebagian lain, nampak berkilau bekas percikan hujan yang tak menyebar rata. Aku berjalan perlahan dengan kaki berjinjit agar air tak merembes masuk membasahi sepatu. Jendela kaca membungkus seluruh dinding ruangan yang menyala terang memantulkan cahaya menerangi sekeliling yang tak berpenerangan. Langkahku terhenti ketika mendapatimu duduk sendiri di depan meja keramik berwarna putih tengah khusyu membaca Al Qur’an. Beberapa saat berlalu, akhirnya kulanjutkan lagi laju jalanku penuh ragu, khawatir mengganggumu. Di depan meja coklat  kayu depan pintu, langkahku kembali terhenti, mengamatimu kembali yang masih kusyu melantunkan ayat suci.

“Masuk Din.."

Suara dari dalam ruangan membuyarkan lamunanku. Entah kenapa hatiku menjerit tak karuan. Ada apa ini? 

Sepertinya, Allah sedang membalikkan hati satu hambaNya.. :)

 

1 Ramadhan 1420 H



masih) Tentang Hujan | Cinta adalah Kau

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....