Langsung ke konten utama

Cinta

 

Cinta..

Lama sekali sepertinya aku tidak menulis tentang cinta. Mungkin tulisan ini akan sangat berantakan. Pertama, karena aku sedang tidak merasakan cinta. Hal lainnya adalah aku sudah lupa, kapan terakhir membaca novel-novel fiksi roman yang sangat membantuku berimajinasi dan menyusun kata-kata.

Ada sesuatu yang cukup mengganggu pikiranku dalam beberapa waktu terakhir. Rasa was-was, khawatir, bingung. Tujuan hidup, masa depan, cita-cita. Seakan semua kompak terkurung dalam kepala. Ya, di kepala dan angan-angan saja, tanpa ada solusi membebaskannya satu per satu. Berpacu dengan waktu yang sepertinya akhir-akhir ini detiknya terasa begitu cepat. Seiring bertambahnya usia, aku berpikir bahwa hidup dalam label “kedewasaan” membuat diri ini menjadi tidak bebas. Misalnya saja, soal cinta.

Sebelum menulis ini (ah bisa jadi sampai saat ini juga masih, walaupun sudah sedikit meluntur), bagiku cinta orang dewasa adalah tentang komitmen.  Dalam beberapa tahun terakhir, aku selalu berpikir “buat apa mikir cinta-cintaan, alay, ga ada waktu, ga penting, mending fokus sama cita-cita!” atau “cinta cuma menghambat semua aja…”

Wow! Mungkin untuk sebagian orang yang mengenalku sejak lama, akan kaget dengan perspektifku soal cinta versi ini. Ambisi tentang banyak hal telah banyak merubah “aku dan cinta” yang sejak dulu adalah sepaket. Ibarat ketika mengetik namaku dalam google, keyword yang akan muncul adalah: cinta, galau, hati. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, akupun heran dengan pemahaman cinta yang tadinya kuanggap “dewasa” ini. Memang betul, wujud tanggung jawab cinta adalah komitmen, tapi cinta yang hanya berpikir komitmen saja, ternyata tidak ada rasanya.

Dan kebanyakan orang yang sudah merasa “dewasa” tua karena teman seumurannya sudah berumah tangga lupa apa itu cinta, dan hanya fokus pada komitmen. Tidak peduli dengan siapa.

Yaa.. sampai di titik ini akhirnya aku menyadari, sepertinya ini perlu diluruskan.

Betul, di dalam agama melarang pacaran cinta yang tidak berkomitmen. Tapi konteksnya adalah ketika cinta itu sudah melanggar batasan yang dilarang.

Sejak dulu prinsip sederhanaku adalah, cinta tidak pernah salah selagi tidak menyakiti siapapun. Cinta tidak harus tentang “aku dan dia yang berbalas”. Cinta bukan hanya hal-hal indah dan takut terluka. Cinta bukan pengganggu yang akan menghalangi langkah kita dalam mencapai target apapun. Cinta bukan penyakit yang dalam banyak hal bisa melemahkan dan menjatuhkan. Cinta tidak seburuk itu.

Ya.. Memang dalam beberapa waktu terakhir, aku melihat cinta sebagai sesuatu yang buruk dan ingin ku buang jauh-jauh. Aku merasa baik-baik saja tanpa cinta. Hidup akan lebih menyenangkan tanpa cinta. Banyak pekerjaan akan cepat selesai tanpa cinta. Aku tidak butuh cinta. Dan aku akan bebas, tanpa cinta.

Ah.. jumawa sekali diriku ini.

Aku telah melupakan banyak hal. Aku lupa, aku pernah berjuang keras hingga sampai di titik ini karena cinta. Aku punya ribuan target dan rencana karena cinta. Cita-citaku sekarang ada karena cinta. Aku bangkit berkali-kali ketika terjatuh dan dalam posisi sulit karena cinta. Aku bisa berlari sangat cepat dalam gelap meski kaki berdarah karena cinta. Ya.. ada terang ketika hidup terasa gelap karena cinta.

Dan cinta, menjadikanku sosok yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sampai disini, aku paham dan harus menerima kenyataan bahwa semua butuh cinta, anak-anak, muda-mudi, orang dewasa, kakek nenek.

Komitmen itu penting, tapi jangan melupakan cinta. Jangan hanya karena berpikir komitmen, kita kehilangan cinta. Tapi jangan pula hanya memikirkan cinta, tanpa komitmen.

Tidak perlu khawatir dengan "dewasa" karena umur yang semakin tidak muda.

Jika cinta itu membuatmu lebih baik, jangan lepaskan.

Berjuang keraslah untuk cinta.

Berdoalah sebanyak-banyaknya untuk cinta.

Bangkit dan belari cepatlah untuk yang tercinta.

Karena cintalah, yang membuat hidup menjadi lebih hidup bukan? 😊

 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Belajar kehidupan, dari memelihara kucing

Tulisan pertama di tahun 2023. Sudah pasti untuk menjaga blog yang umurnya lebih dari 10 tahun ini tetap hidup. Dengan tulisan suka-sukaku tentunya. Karena ternyata konsisten lebih sulit dibandingkan muluk-muluk membuat sebuah karya besar untuk mengejar hasrat dan ambisi "pengakuan".  ***** Beberapa waktu terakhir banyak momen tentang "kucing", yang memaksaku ingin sekali untuk menulis tentangnya. Namun apa daya ternyata maksud hati terkalahkan banyaknya godaan diluar sana, tentu yang terbesar adalah kemalasan yang sungguh menyebalkan ini.  Secara track record, aku bukan pecinta kucing. Bukan juga golongan pembenci dan penyiksanya. Hanya tidak terlalu suka, geli, takut, kotor (hahaha padahal anak peternakan?) Sejak kecil di keluargaku tidak memiliki binatang peliharaan. Paling Mbakku dulu waktu SD pernah pelihara ikan yang dibeli di sekolah, ditaruh dalam bekas kaleng biskuit, yang baru beberapa hari sudah mati lalu ditangisin.  Kalau ditanya, "kok bisa pilih p...