Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Disudut Kamar Kos

Akhirnya, sesak-sesak yang tertahan sehari lalu tertumpah sudah. Terima kasih petak kecil dan sudut busa tak kurang 3x4 meter yang selalu menemani malam, siangku. Terima kasih selalu menemani tawa dan menampung air mata meski tak pernah ada peluk dan kata. Disini dan bersamamu, bagiku itu jauh lebih baik. Dengan dindingmu yang dingin, cat tembokmu yang meluntur rembesan air hujan. Tapi aku bahagia, bergegas pulang, merebahkan dahaga akan segala rasa dan menikmati bingkai berselipkan puisi yang sengaja ku pasang diatas meja belajar, membawa angan tentang rindu yang entah bagaimana untuk kini. Disini, aku merasa tak perlu menjadi seperti mereka. Tak perlu menutupi bahwa tawa bukanlah solusi kamuflase luka. Menangis saja jika rasanya terlalu pedih untuk apapun. Terkadang rasa nyamanku dengan tempat ini melebihi rasa nyamanku dirumah sekalipun. Begitulah, kenyamanan adalah harga yang tak ternilai dan tergantikan oleh apapun. Tak perlu mewah, lengkap dengan segala isi yang menjamin. Terkad...

Wanita dan penantian

Jarum jam berimpit mendekat segaris lurus, pertanda tengah malam sejengkal lagi. Seseorang berbaring menanti kabar diimbas detik yang terus berpindah hingga kembali ke angka pertama. Lantunan melodi radio yang entah syair kesekian ribu menyelinap dari balik udara. Dinding petak tak ubahnya kawan setia yang enggan beranjak, bersikukuh berdiri diantara kebisuan. Wanita dan penantian, bak label dengan sepaket kodrat paten. Benarkah? Wanita dan penantian, seperti kayu lapuk tergerus air hujan, tajam-tajam. Begitukah? Wanita dan penantian, seakan berjalan diatas beling tanpa alas. Seperti itukah? Wanita dan penantian, hanyalah pilihan. Wanita dan penantian, adalah keputusan. Jangan pernah salahkan kelahiran kami sebagai perasa. Yang tumbuh dengan sejuta kekhawatiran penuh tanda tanya abstrak tanpa seorangpun diberi tau mengapa. Berjalanlah sejauh manapun, selama berapapun. Nanti, saat kau lelah dan pulang, ketahuilah, sepasang kantong mata tebal menolak terpejam demi sebuah kedatang...

Untukmu, yang sedang meredup

Ini adalah tentang semangat, yang setiap orang berhak memilih siapa saja untuk dijadikan penyemangat. Dan saat ini kau tau? salah satu penyemangatku, sedang meredup. Menurutmu, apa arti sebuah jarak? Apakah jarak hanyalah satu-satunya yang mendekatkan dan menjauhkan? Apakah jarak hanyalah satu-satunya ketidakmungkinan yang mempertemukan? Jika iya, bagiku itu tidak adil. Jika iya, maka semangat itu hanya miliknya yang dekat. Jika iya, tidak akan ada kisah tentang rindu. Jika iya, bukankah begitu? Malam ini, aku merasa salah satu semangatku kian meredup. Entah, tidak semua tanda tanya terselesaikan dengan alasan. Karena semua orang punya satu jawaban untuk menolak diberi pertanyaan. Begitupun denganmu. Aku memejam, gelisah dibalik ranjang dengan otak yang serasa kosong, tapi nyata penuh sesak, "ada apa?". Ku peluk lutut dibalik dua telinga, yang bersembunyi dengan suara sunyi, tapi riuh sekali, "ada apa?" Barisan percakapan yang tiba-tiba terasa bisu, getir sekal...

Di Kereta : Sepasang Mata Buta

Menuju Jogja, pukul senja. Kisah ini terjadi di dalam sebuah kereta jurusan Solo-Jakarta, tepatnya tiga hari lalu. Sebenarnya aku ingin menulis sesaat setelah aku mengalami kejadian itu, tapi perlu beberapa waktu untuk merenungkannya hingga dapat ditata menjadi sebuah tulisan yang semoga jika kamu berkenan membaca, kamu paham tentang apa yang ingin aku sampaikan. Tiga hari lalu, aku menghadiri acara wisuda salah satu sahabat SMA yang ada di Solo. Sebenarnya tidak layak disebut "menghadiri", karena ku tau bahwa prosesi wisuda telah selesai pukul 12.00, sedangkan aku berangkat dari Jogja pukul 13.53. Alhasil, hanya ada waktu kurang lebih satu jam untuk bertemu dan sekedar memberi selamat "telah sah menjadi sarjana", dan itupun dirumah, bukan di kampus. Dia salah satu orang terdekat selama kurang lebih tujuh tahun terakhir, dan aku sudah berjanji akan datang ke acara sakral akhir masa kuliahnya jauh-jauh bulan yang lalu. Jadi bagaimanapun kesibukan yang tengah mende...

Tiga Perkara

Tentang tiga perkara. Jarak, waktu dan pertemuan. Hubungi aku sesekali, sesempatmu.. Jangan membuatku nyaman akan penantian sebuah kabar. Jangan datang saat aku tengah berjalan, jangan pula pergi saat aku memutuskan berhenti dan beristirahat. Aku tidak akan menunggumu, karena aku paham arti ketidak mungkinan sebuah perjumpaan. Kita tak hanya terpisah jarak, tapi juga waktu, yang entah kapan akan berdamai memahami ketidaksempurnaan kisah ini. Pergi dan berlarilah ketika kau mulai bosan. Aku akan tetap disini, sama seperti keberadaan saat kita belum saling mengerti nama satu sama lain. Aku dengan duniaku, kamu dengan duniamu. Terima kasih untuk sapaan dan semangatnya disepanjang akhir studiku, disela akhir studimu. Jika nanti Dia mengijinkan adanya perjumpaan diantara kita kembali, dan tiada merubah perasaan yang ada kini, aku akan sangat bahagia.