Langsung ke konten utama

Untukmu, yang sedang meredup

Ini adalah tentang semangat, yang setiap orang berhak memilih siapa saja untuk dijadikan penyemangat. Dan saat ini kau tau? salah satu penyemangatku, sedang meredup.

Menurutmu, apa arti sebuah jarak? Apakah jarak hanyalah satu-satunya yang mendekatkan dan menjauhkan? Apakah jarak hanyalah satu-satunya ketidakmungkinan yang mempertemukan? Jika iya, bagiku itu tidak adil. Jika iya, maka semangat itu hanya miliknya yang dekat. Jika iya, tidak akan ada kisah tentang rindu. Jika iya, bukankah begitu?

Malam ini, aku merasa salah satu semangatku kian meredup. Entah, tidak semua tanda tanya terselesaikan dengan alasan. Karena semua orang punya satu jawaban untuk menolak diberi pertanyaan. Begitupun denganmu.

Aku memejam, gelisah dibalik ranjang dengan otak yang serasa kosong, tapi nyata penuh sesak, "ada apa?".
Ku peluk lutut dibalik dua telinga, yang bersembunyi dengan suara sunyi, tapi riuh sekali, "ada apa?"
Barisan percakapan yang tiba-tiba terasa bisu, getir sekali tak ubahnya seperti bernada di depan cermin yang hanya akan berjalan satu arah, "ada apa?"

Duduk dengan merapat kaki dibalik khutbah tujuh menit. Memainkan jemari diatas sajadah dengan angan yang tidak tau kapan berhenti. Mata yang mulai berembun kala menatap lukisan masjid, "adakah kesempatan untuk kita melangkah bersama menuju rumahNya?"

Ku pikir, tengah malam nanti akan turun hujan deras. Membawa resahku tentang semangat yang meredup. Menepikan bimbangku akan jawab cerah esok hari. Menutup ribuan tanya yang entah akan segera terjawab.

Untukmu, penyemangat yang mungkin kini hanya terjangkau oleh doa, semoga sinarmu lekas kembali. Aku tunggu, saat dimana kita kembali berlari bersama.

Komentar

  1. Maaf in aku,mungkin beberapa hari lalu,bisa muncul jadi penyemangat, tetapi lambat laun meredup bahkan ilang semangat. Alhamdullilah semua masalah perlahan sudah teratasi, dengan doa dan usaha,untuk hasil yang spesial di waktu yg tepat.

    BalasHapus
  2. Maaf in aku,mungkin beberapa hari lalu,bisa muncul jadi penyemangat, tetapi lambat laun meredup bahkan ilang semangat. Alhamdullilah semua masalah perlahan sudah teratasi, dengan doa dan usaha,untuk hasil yang spesial di waktu yg tepat.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....