Menuju Jogja, pukul senja.
Kisah ini terjadi di dalam sebuah kereta jurusan Solo-Jakarta, tepatnya tiga hari lalu. Sebenarnya aku ingin menulis sesaat setelah aku mengalami kejadian itu, tapi perlu beberapa waktu untuk merenungkannya hingga dapat ditata menjadi sebuah tulisan yang semoga jika kamu berkenan membaca, kamu paham tentang apa yang ingin aku sampaikan.
Tiga hari lalu, aku menghadiri acara wisuda salah satu sahabat SMA yang ada di Solo. Sebenarnya tidak layak disebut "menghadiri", karena ku tau bahwa prosesi wisuda telah selesai pukul 12.00, sedangkan aku berangkat dari Jogja pukul 13.53. Alhasil, hanya ada waktu kurang lebih satu jam untuk bertemu dan sekedar memberi selamat "telah sah menjadi sarjana", dan itupun dirumah, bukan di kampus. Dia salah satu orang terdekat selama kurang lebih tujuh tahun terakhir, dan aku sudah berjanji akan datang ke acara sakral akhir masa kuliahnya jauh-jauh bulan yang lalu. Jadi bagaimanapun kesibukan yang tengah mendera, aku sempatkan datang. Demi janji, dan persahabatan.
Nah, kisah terjadi di perjalanan pulang menuju Jogja. Saat itu, tiket kereta pramex yang biasanya telah ludes terjual bahkan 3 jam sebelum pemberangkatan. Maklum, itu adalah hari sabtu awal bulan. Demi sampai di Jogja lagi secepatnya dan tidak terlalu larut malam sampai di stasiun, ku putuskan naik kereta pemberangkatan tercepat, jurusan Solo-Pasar Senen yang rutenya transit di Jogja. Saat aku masuk kereta, ternyata di dalam banyak sekali bangku kosong. Ku pikir, mungkin karena itu stasiun pertama, jadi belum banyak penumpang. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, kereta berjalan menuju stasiun selanjutnya. Ketika berhenti di stasiun kedua, ada 3 orang masuk menuju bangku sebelahku, yang kemudian ku ketahui bahwa bangku 17 A dan 17 B akhirnya terisi, dan aku duduk di bangku 17 C.
Ketiga orang yang masuk sekitar berusia diatas 50 tahunan. Posisi masuk kereta dengan berjalan beriringan depan belakang. Dan akhirnya aku tau, kedua penumpang yang menempati bangku 17A dan 17B adalah bapak ibu buta. Keduanya tidak dapat melihat. Dan satu orang yang berjalan paling depan tadi, hanya mengantarkan saja. Lalu pergi setelah kereta berjalan lagi.
Saat itu, aku yang asyik memandangi layar gadget seperti penumpang lain memutuskan menghentikan aktivitasku dan mulai tertarik mengamati bapak ibu buta tadi. Mereka mulai meraba-raba kursi, meja kecil dekat jendela dan beberapa kali berdiri sambil meraba koper yang ada di bagasi, memastikan bahwa barang yang mereka bawa dalam kondisi aman.
Sesekali aku mendengar mereka bercakap dengan volume lebih keras dari yang lain. Agar keduanya saling mendengar, meskipun tempat duduk mereka sebelahan. Lalu petugas kereta datang, dan dari sana dapat ku ketahui, sepasang bapak ibu tadi turun di stasiun paling akhir, stasiun Pasar Senen.
Dari sana, aku berpikir, tidak ada manusia yang sempurna. Masing-masing memiliki kekurangan. Bapak ibu itu tidak dapat melihat, tapi mereka berani melakukan perjalanan jauh, karena yakin pasti akan sampai ke tujuan. Mereka yakin, ada banyak orang disekelilingnya yang akan membantu jika mereka kesulitan nanti.
Jadi, untukmu yang sedang sedih, gundah dan sempat berpikir ingin menyerah. Ingat, Allah sudah menetapkan sebuah tujuan untukmu, yang pastilah tentu kamu akan mencapainya. Kuncinya adalah YAKIN. Kamu mempunyai kedua penglihatan lengkap, maka lihatlah dan tentukan jalan mana yang akan kau pilih menuju tujuan. Jangan pernah berpikir bahwa kamu sendiri, masih banyak orang-orang baik di sekitarmu yang akan membantu, meski mereka tidak pernah tau apa yang kamu rasakan. Sama halnya seperti bapak ibu buta itu, orang lain tidak akan merasakan apa yang mereka rasakan. Dan bersyukurlah atas segala sesuatu. Pernahkah kamu membayangkan kehidupan seseorang yang buta? Dimana hal yang dapat mereka rasa, hanya gelap dan terang?
Komentar
Posting Komentar