Akhirnya, sesak-sesak yang tertahan sehari lalu tertumpah sudah. Terima kasih petak kecil dan sudut busa tak kurang 3x4 meter yang selalu menemani malam, siangku. Terima kasih selalu menemani tawa dan menampung air mata meski tak pernah ada peluk dan kata. Disini dan bersamamu, bagiku itu jauh lebih baik. Dengan dindingmu yang dingin, cat tembokmu yang meluntur rembesan air hujan. Tapi aku bahagia, bergegas pulang, merebahkan dahaga akan segala rasa dan menikmati bingkai berselipkan puisi yang sengaja ku pasang diatas meja belajar, membawa angan tentang rindu yang entah bagaimana untuk kini.
Disini, aku merasa tak perlu menjadi seperti mereka. Tak perlu menutupi bahwa tawa bukanlah solusi kamuflase luka. Menangis saja jika rasanya terlalu pedih untuk apapun. Terkadang rasa nyamanku dengan tempat ini melebihi rasa nyamanku dirumah sekalipun. Begitulah, kenyamanan adalah harga yang tak ternilai dan tergantikan oleh apapun. Tak perlu mewah, lengkap dengan segala isi yang menjamin. Terkadang aku membuatnya berantakan, kotor, tapi ia tak pernah protes. Terima saja, karna pasti akan ku rapikan lagi, aku tata ulang kembali.
Terima kasih, selalu menantiku pulang, selalu berdamai dengan kerinduan, selalu mendengar suara yang kuucap sendirian, selalu sabar ketika aku marah, selalu menjadi tempat bersandar oleh keluh dan rapuhku yang lemah, selalu menjadi tempat berteduhku dari terik dan badai, selalu menemani malam-malamku hingga fajar, selalu bersedia menyemangati dengan semua tempelan tulisan yang membuat warna kerasmu terkelupas, selalu mendengarkan melodiku yang sumbang.
Terima kasih, selalu menerima dan menjadi tempat ternyamanku.
(Safiina, 17/10)
Komentar
Posting Komentar