Langsung ke konten utama

Disudut Kamar Kos

Akhirnya, sesak-sesak yang tertahan sehari lalu tertumpah sudah. Terima kasih petak kecil dan sudut busa tak kurang 3x4 meter yang selalu menemani malam, siangku. Terima kasih selalu menemani tawa dan menampung air mata meski tak pernah ada peluk dan kata. Disini dan bersamamu, bagiku itu jauh lebih baik. Dengan dindingmu yang dingin, cat tembokmu yang meluntur rembesan air hujan. Tapi aku bahagia, bergegas pulang, merebahkan dahaga akan segala rasa dan menikmati bingkai berselipkan puisi yang sengaja ku pasang diatas meja belajar, membawa angan tentang rindu yang entah bagaimana untuk kini.

Disini, aku merasa tak perlu menjadi seperti mereka. Tak perlu menutupi bahwa tawa bukanlah solusi kamuflase luka. Menangis saja jika rasanya terlalu pedih untuk apapun. Terkadang rasa nyamanku dengan tempat ini melebihi rasa nyamanku dirumah sekalipun. Begitulah, kenyamanan adalah harga yang tak ternilai dan tergantikan oleh apapun. Tak perlu mewah, lengkap dengan segala isi yang menjamin. Terkadang aku membuatnya berantakan, kotor, tapi ia tak pernah protes. Terima saja, karna pasti akan ku rapikan lagi,  aku tata ulang kembali.

Terima kasih, selalu menantiku pulang, selalu berdamai dengan kerinduan, selalu mendengar suara yang kuucap sendirian, selalu sabar ketika aku marah, selalu menjadi tempat bersandar oleh keluh dan rapuhku yang lemah, selalu menjadi tempat berteduhku dari terik dan badai, selalu menemani malam-malamku hingga fajar, selalu bersedia menyemangati dengan semua tempelan tulisan yang membuat warna kerasmu terkelupas, selalu mendengarkan melodiku yang sumbang.

Terima kasih, selalu menerima dan menjadi tempat ternyamanku.
(Safiina, 17/10)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....