Langsung ke konten utama

Tiga Perkara

Tentang tiga perkara. Jarak, waktu dan pertemuan.

Hubungi aku sesekali, sesempatmu..
Jangan membuatku nyaman akan penantian sebuah kabar. Jangan datang saat aku tengah berjalan, jangan pula pergi saat aku memutuskan berhenti dan beristirahat. Aku tidak akan menunggumu, karena aku paham arti ketidak mungkinan sebuah perjumpaan. Kita tak hanya terpisah jarak, tapi juga waktu, yang entah kapan akan berdamai memahami ketidaksempurnaan kisah ini.
Pergi dan berlarilah ketika kau mulai bosan. Aku akan tetap disini, sama seperti keberadaan saat kita belum saling mengerti nama satu sama lain. Aku dengan duniaku, kamu dengan duniamu.
Terima kasih untuk sapaan dan semangatnya disepanjang akhir studiku, disela akhir studimu. Jika nanti Dia mengijinkan adanya perjumpaan diantara kita kembali, dan tiada merubah perasaan yang ada kini, aku akan sangat bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Tentangmu dan Coklat

Sekali lagi, tak ada yang pernah mengerti seperti apa skenario yang telah dibuat olehNya. Bisa jadi hari ini panas terik, malamnya hujan badai. Who knows? Hah, nikmatnya segelas coklat panas di malam yang masih enggan ditinggal butiran rintik gerimis. Pekat warna lelehannya, sepekat perasaanku yang mungkin saja sama lelehnya seperti coklat ini. Mengertikah kau bagaimana coklat bisa terasa manis ? Mengertikah kau bagaimana melembutkan tekstur coklat yang sejatinya keras? Mengertikah kau bagaimana membuat khalayak umat gandrung akan lezatnya coklat? Sampai seusia diujung belasan ini, belum pernah sekalipun aku mendengar, coklat menyebabkan alergi. Yang ku tahu, dia membuat penikmatnya ketagihan. Padahal, mengertikah kau bagaimana coklat bisa seperti itu luar biasanya ? Hanya Allah yang tahu. Coklat itu unik. Mungkin saja sama sepertimu. Ah, atau hanya perasaanku saja? Coklat selalu membuatku rindu ketika bertemu. Semakin bertemu semakin rindu. Ketika anak-anak kecil selalu dilarang ...