Langsung ke konten utama

Postingan

Darurat Harga Beras

Hari ini jadwal membeli beras karena persediaan sudah menipis. Biasanya, periode membeli beras kisaran 1,5- 2 bulan sekali, kapasitas 10 kg. Rada lupa kapan terakhir beli, tapi sekitaran akhir tahun lalu, dengan harga Rp 165.000,00/10kg. Harga ini sudah beberapa kali mengalami kenaikan, salah satu yang dapat dimaklumi adalah karena dampak el nino yang menyebabkan gagal panen, salah lainnya, ya entah apa itu. Dipikiran masyarakat kelas menengah ke bawah ya sudah tentu waktu itu “ oh paling nanti tahun depan sudah turun lagi harganya, kan emang biasanya gitu, kenaikan harga mentok di momen nataru”. Tapi ya memang sebagai manusia tidak boleh banyak berharap pada ketidakpastian, ya kan? Hingga tibalah di depan lapak bapak agen beras langganan, yang mengantarkan pada pahitnya kenyataan: “Beras xxxx berapa Pak?” “Sekarang Rp 190.000,00. Naik terus neng harganya tiap hari” Jelas terkejut bukan main ya, dalam waktu kurang dari 2 bulan, kenaikannya hampir Rp 25.000,00/10 kg. Jiwa emak-ema...

Tjatatan 3: Belajar menjalani hidup seperti pemain sepak bola

Menerapkan filosofi hidup seperti pemain sepak bola sepertinya cukup membantu meredakan kecemasan bagi orang sepertiku yang cenderung perfeksionis, selalu ragu-ragu dan khawatir berlebih dalam menyelesaikan masalah. Tujuan hidup yang makin kesini makin bermuara pada ‘pengakuan untuk dianggap baik’ begitu membuat tertekan, sehingga membuat kaum pengecut sepertiku pada akhirnya lebih memilih lari dari masalah ketimbang menyelesikan apa yang sudah dimulai dari awal dengan tujuan yang sejatinya tidak jelas tadi (pengakuan). Dalam menjalani kehidupan, nampaknya harus banyak belajar dari pemain sepak bola. Kadang aku berpikir, kenapa mereka mau menjadi atlet sepak bola? Yang karirnya sudah dimulai sejak usia dini, menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja mereka untuk latihan, latihan, turnamen, turnamen. Sedangkan, paling mentok akan dipakai bermain ya di umur 30an. Hanya sekelas legend seperti Ronaldo atau Messi yang tetap masih dimainkan dan diandalkan meski usia hampir 40 tahun. Lalu ba...

Tjatatan 2: Karena semua orang memiliki hak untuk berbeda

Sore itu aku bertemu temanku, setelah beberapa kali mengatur waktu bertemu yang selalu gagal. Nampak kelegaan dari raut wajahnya, setelah “setengah beban hidup” (katanya), akhirnya tuntas. A= aku, T= temanku. A: “Apa rencanamu setelah ini?” T: “Belum tau. Tapi sepertinya aku ingin postdoc dulu, atau jadi peneliti. Bagaimana denganmu?” A: “Masih tetap sama, dosen. Ngga pengen jadi dosen?” T: “Belum tau. Mungkin nanti coba, tapi aku tidak terlalu tertarik. Aku masih haus ilmu. Aku pengen jadi peneliti saja. Teman-teman kita juga, banyak yang sekarang postdoc. Kamu ngga pengen postdoc?” A: “Aku tidak tertarik. Pengen jadi dosen saja, dan beternak di kampung halaman”   ******** Dari percakapan ini, aku berpikir: Apakah memang seperti ini standar umum lulusan tingkat pendidikan tertinggi? Menjadi dosen atau peneliti. Atau apapun itu yang berkaitan dengan label “manusia-manusia pintar”? Apakah aneh jika aku ingin beternak? Bahkan aku ingin menjadi dosen bukan karena...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....

Belajar kehidupan, dari memelihara kucing

Tulisan pertama di tahun 2023. Sudah pasti untuk menjaga blog yang umurnya lebih dari 10 tahun ini tetap hidup. Dengan tulisan suka-sukaku tentunya. Karena ternyata konsisten lebih sulit dibandingkan muluk-muluk membuat sebuah karya besar untuk mengejar hasrat dan ambisi "pengakuan".  ***** Beberapa waktu terakhir banyak momen tentang "kucing", yang memaksaku ingin sekali untuk menulis tentangnya. Namun apa daya ternyata maksud hati terkalahkan banyaknya godaan diluar sana, tentu yang terbesar adalah kemalasan yang sungguh menyebalkan ini.  Secara track record, aku bukan pecinta kucing. Bukan juga golongan pembenci dan penyiksanya. Hanya tidak terlalu suka, geli, takut, kotor (hahaha padahal anak peternakan?) Sejak kecil di keluargaku tidak memiliki binatang peliharaan. Paling Mbakku dulu waktu SD pernah pelihara ikan yang dibeli di sekolah, ditaruh dalam bekas kaleng biskuit, yang baru beberapa hari sudah mati lalu ditangisin.  Kalau ditanya, "kok bisa pilih p...

My First

 BAB 3 Resah   Aku ingin berjalan bersamamu, dalam hujan dan malam gelap… Membuka instagram dan melihat postingan story seseorang yang nampak tengah hanyut dalam melodi-melodi konser yang sepertinya sudah lama dirindukan, dengan caption “Terbayar sudah rindu itu: Peneduh Cabang Bulaksumur” Aku tersenyum, seketika ingat dulu, 7 tahun yang lalu mungkin, jaman senang-senangnya nonton konser Payung Teduh. Dari satu tempat ke tempat lain, tidak terlewat menonton, asal gratis hehe. Sayang, sang vokalis, Mas Is memutuskan hengkang di tahun 2017. Meskipun telah berganti personel, bagiku nyawa Payung Teduh tetaplah Mas Is~ Ah, ternyata, ada yang suka Payung Teduh juga. Adi, teman kecilku.   *****   Solo, 18 tahun yang lalu. “Yang mana?”, Suara seorang ibu muda dibalik pintu depan kelas, riuh tenggelam bersaing dengan euforia murid berhamburan selepas bel pulang sekolah usai “Yang itu”, Kata seorang anak laki-laki disampingnya, memberi jawaban sambil menunju...

Untuk Dita

Dear Dita,   Dulu aku pernah bilang, “ Tenang Dit, bakal tak sisake slot Tjatatan Ketjil ngge kowe ”. Dan sudah pasti dijawab, “ Yaampun Din, nggilanik banget ”. Hahahah…     .....................................................................................................  Dita, anak Fapet pertama yang ku kenal (selain teman se SMA ku yang di Fapet). Awal ketemu dulu waktu tes toefl di GSP karena tempat duduk kami sebelahan sesuai abjad, Dinda--Dita. Dita yang saat itu datang diantar Ibunya, yang masih bingung mencari kosan. Dan aku yang sendirian naik sepeda kayak anak ilang. Dari belum kenal siapa-siapa, tambah personil ciwi-ciwi, dan menjadi keluarga besar di Selak Ijo Mas. Dita, Jogja dan Fapet adalah paket lengkap. Entah bagaimana aku menjalani hidup 4 th ++ di Jogja tanpa dia. Sahabat, kakak, teman sekelas, teman curhat, teman makan, segala gala pokoknya.          Mengingat kembali kebelakang, begitu banyak memori...