Langsung ke konten utama

My First

 BAB 3

Resah

 

Aku ingin berjalan bersamamu, dalam hujan dan malam gelap…

Membuka instagram dan melihat postingan story seseorang yang nampak tengah hanyut dalam melodi-melodi konser yang sepertinya sudah lama dirindukan, dengan caption “Terbayar sudah rindu itu: Peneduh Cabang Bulaksumur”

Aku tersenyum, seketika ingat dulu, 7 tahun yang lalu mungkin, jaman senang-senangnya nonton konser Payung Teduh. Dari satu tempat ke tempat lain, tidak terlewat menonton, asal gratis hehe. Sayang, sang vokalis, Mas Is memutuskan hengkang di tahun 2017. Meskipun telah berganti personel, bagiku nyawa Payung Teduh tetaplah Mas Is~

Ah, ternyata, ada yang suka Payung Teduh juga. Adi, teman kecilku.

 

*****

 

Solo, 18 tahun yang lalu.

“Yang mana?”, Suara seorang ibu muda dibalik pintu depan kelas, riuh tenggelam bersaing dengan euforia murid berhamburan selepas bel pulang sekolah usai

“Yang itu”, Kata seorang anak laki-laki disampingnya, memberi jawaban sambil menunjuk ke arahku.

Aku terdiam melihat pandangan ibu dan anak laki-laki itu tertuju padaku. Tanpa sepatah katapun, aku berlari dan bergegas meninggalkan ruang kelas bersama anak-anak yang lain.

Beberapa hari kemudian, saat tengah asyik menonton sederet acara kartun favoritku di televisi sambil tiduran...

“Dea, kamu pacarnya Adi ya?”

“HAH??” syok mendengar pertanyaan Ibu yang tiba-tiba saja. Aku bahkan masih kelas 4 SD, tidak paham apa itu pacar.

“Kata siapa bu? Kok tiba-tiba bisa bilang gitu?”

“Kata mamanya Ivan, ibu lupa mau tanya kemarin”

Ivan adalah teman kelasku. Ibuku kenal dengan Ibu Ivan karena biasanya ketemu saat sama-sama menjemput pulang sekolah. Sejak kelas 3 memang teman-teman kelasku suka meledekku dengan Adi, terlebih Ivan. Ivan salah satu murid paling berisik di kelas, tapi tidak ku sangka dia bisa bilang pada Ibunya bahwa aku pacarnya Adi. Sebenarnya teman-teman meledekku dengan Adi hanya karena kekonyolan-kekonyolan kecil, seperti Adi yang sering menayakan jam berapa karena tempat duduk kami depan-belakang. Mengobrolpun jarang, aku dan Adi sama-sama anak yang tidak banyak bicara, apalagi dia anak baru.

Aku diam saja, tidak menjawab pertanyaan Ibu. Dalam hatiku, aku semakin membenci Adi. Gara-gara dia, aku sering jadi bullyan teman-teman di kelas, bahkan sekarang Ibu sampai berpikiran yang tidak-tidak.

 

*****

“Deandra tunggu, aku mau ngomong sebentar”, seorang anak perempuan berambut keriting memanggilku saat aku berjalan di depan kelasnya. Namanya Lovina, anak kelas 5.

“Iya kenapa kak?”

“Dea, Adi suka sama kamu”

Mendengar nama itu, seketika kakiku lemas. Adi lagi adi lagi. Dimana-mana Adi. Seakan hidup ini dihujani teror oleh makhluk bernama Adi.

“Adi sebentar lagi mau pindah”

Aku hanya diam mendengarkan Kak Lovina bicara, tidak tau harus berkata atau menjawab apa. Kak Lovina adalah kakaknya Adi. Belum sempat Kak Lovina melanjutkan pembicaraan, bel istirahat menyelamatkanku dari kondisi yang sangat tidak mengenakkan itu.

“Kak maaf sudah bel, aku ke kelas dulu ya”

Tanpa sepatah katapun, aku meninggalkan Kak Lovina menuju kelas. Sambil berpikir “Adi mau pindah? Kan dia anak baru.. Ah, sudahlah!”

 

*****

Hari ini adalah hari kenaikan kelas, sekaligus terima rapor tentunya. Jangankan mendapat ranking 1, tiga besar di kelas saja sangat sulit ditembus bagi murid yang otaknya pas-pasan sepertiku. Berbeda dengan kakaku yang selalu mendapatkan juara 1, apapun itu. Kali ini aku mendapat rangking 5, satu tingkat dibawah Adi. Adi memang cukup pintar, sepertinya di sekolah sebelumnya, ia bersekolah di sekolah unggulan, entahlah.

Semua murid bergembira karena artinya 2 minggu kedepan sekolah libur. Sambil menunggu orang tua mengambil rapor, jajan cilok bersama teman-teman adalah wajib. Saat tengah asyik mengantre di bapak cilok favorit, aku merasa ada yang mengawasiku dari jauh. Benar saja, aku mendapati sepasang mata anak laki-laki melihatku dengan ekspresi tidak seperti anak-anak lain yang bergembira akan menyambut libur panjang. Kami saling menatap dari kejauhan. Namun dengan segera kualihkan pandanganku karena cilokku sudah siap. Pergi dan meninggalkan tatapan yang masih tidak beranjak itu.

Dan siapa sangka, hari itu adalah hari terakhirku, bertemu dengan Adi..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.