Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

My First

 BAB 3 Resah   Aku ingin berjalan bersamamu, dalam hujan dan malam gelap… Membuka instagram dan melihat postingan story seseorang yang nampak tengah hanyut dalam melodi-melodi konser yang sepertinya sudah lama dirindukan, dengan caption “Terbayar sudah rindu itu: Peneduh Cabang Bulaksumur” Aku tersenyum, seketika ingat dulu, 7 tahun yang lalu mungkin, jaman senang-senangnya nonton konser Payung Teduh. Dari satu tempat ke tempat lain, tidak terlewat menonton, asal gratis hehe. Sayang, sang vokalis, Mas Is memutuskan hengkang di tahun 2017. Meskipun telah berganti personel, bagiku nyawa Payung Teduh tetaplah Mas Is~ Ah, ternyata, ada yang suka Payung Teduh juga. Adi, teman kecilku.   *****   Solo, 18 tahun yang lalu. “Yang mana?”, Suara seorang ibu muda dibalik pintu depan kelas, riuh tenggelam bersaing dengan euforia murid berhamburan selepas bel pulang sekolah usai “Yang itu”, Kata seorang anak laki-laki disampingnya, memberi jawaban sambil menunju...

Untuk Dita

Dear Dita,   Dulu aku pernah bilang, “ Tenang Dit, bakal tak sisake slot Tjatatan Ketjil ngge kowe ”. Dan sudah pasti dijawab, “ Yaampun Din, nggilanik banget ”. Hahahah…     .....................................................................................................  Dita, anak Fapet pertama yang ku kenal (selain teman se SMA ku yang di Fapet). Awal ketemu dulu waktu tes toefl di GSP karena tempat duduk kami sebelahan sesuai abjad, Dinda--Dita. Dita yang saat itu datang diantar Ibunya, yang masih bingung mencari kosan. Dan aku yang sendirian naik sepeda kayak anak ilang. Dari belum kenal siapa-siapa, tambah personil ciwi-ciwi, dan menjadi keluarga besar di Selak Ijo Mas. Dita, Jogja dan Fapet adalah paket lengkap. Entah bagaimana aku menjalani hidup 4 th ++ di Jogja tanpa dia. Sahabat, kakak, teman sekelas, teman curhat, teman makan, segala gala pokoknya.          Mengingat kembali kebelakang, begitu banyak memori...

Cinta

  Cinta.. Lama sekali sepertinya aku tidak menulis tentang cinta. Mungkin tulisan ini akan sangat berantakan. Pertama, karena aku sedang tidak merasakan cinta. Hal lainnya adalah aku sudah lupa, kapan terakhir membaca novel-novel fiksi roman yang sangat membantuku berimajinasi dan menyusun kata-kata. Ada sesuatu yang cukup mengganggu pikiranku dalam beberapa waktu terakhir. Rasa was-was, khawatir, bingung. Tujuan hidup, masa depan, cita-cita. Seakan semua kompak terkurung dalam kepala. Ya, di kepala dan angan-angan saja, tanpa ada solusi membebaskannya satu per satu. Berpacu dengan waktu yang sepertinya akhir-akhir ini detiknya terasa begitu cepat. Seiring bertambahnya usia, aku berpikir bahwa hidup dalam label “kedewasaan” membuat diri ini menjadi tidak bebas. Misalnya saja, soal cinta. Sebelum menulis ini (ah bisa jadi sampai saat ini juga masih, walaupun sudah sedikit meluntur), bagiku cinta orang dewasa adalah tentang komitmen.   Dalam beberapa tahun terakhir, aku ...