Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Kisah Malam : Penjual Tahu

Malam ini, aku ingin sedikit berbagi cerita. Peristiwa ini kudapat sekitar beberapa jam yang lalu. Berawal dari ketika tadi aku memutuskan makan di salah satu chinese food langganan di dekat kampus sanata dharma. Nggak tau kenapa, tiba-tiba saja pengen jajan diseberang jalan, kawasan pedagang kaki lima mangkal dengan gerobak dorong mereka. Jajan bukan untukku, tapi tiba-tiba lagi juga rasanya sebelum pulang pengen mampir agro sambil bawain makanan kecil. Yah sekali-kali. Entahlah, sepertinya hari ini lagi “tiba-tiba pengen” banyak hal.             Kadang sih kalau lagi makan didaerah sana memang sering mampir jajan. Seringnya beli piscok, tapi karena kurasa tadi udah malem dan ngga baik makan yang manis, jadi aku pilih yang lain (padahal jajan juga bukan buat aku hehehe). Lalu berhentilah disalah satu gerobak pedagang jualan tahu (bukan tahu bulat tapi). Kebetulan ngga antri, sebelum aku cuma ada satu pembeli. Lalu si bapak penju...

Sepasang di Bulan Juli

Dengarkanlah, ini kisah tentang suatu hari Yang ku tulis dan akan kubacakan beberapa lembar Untukmu saja yang ingin mendengar, begitupun yang ingin menutup telinga Seorang lelaki menulis sajak dijendela kereta, Imbas atas kegundahan dua pendakian, Dan kegagalan sebuah perjumpaan, Seorang perempuan menempuh sebuah perjalan didalam kereta Menuju negeri antah berantah yang belum pernah ia singgah Tenggelam ditengah lautan manusia diujung stasiun Berjalan sendiri melewati jembatan penyeberangan Menanti ojek dipengkolan Menerpa debu dan terik matahari mengejar waktu sholat jumat Seorang lelaki berjalan menaiki anak tangga, Berbalut kemeja putih dan sepotong celana kain hitam, Dan seorang perempuan kecil duduk menanti dikursi kayu lantai tiga, Tidak ada rangkaian bunga, Tidak ada kado dan juga bingkisan seperti yang lainnya, Hanya ada seorang perempuan  yang menempuh jarak untuk pertemuan pertama, Tiada hari seindah hari itu bukan? Tiada...

Rindu saja, tidak apa.

Lebih dari kepala dua, dan baru ku tau jika rindu itu berwarna. Hitam, pekat sekali, seperti berada di perut goa dengan mata terpejam. Melihatmu dari jauh itu sudah biasa, hanya merasakanmu dari  jauh yang belum membuatku terbiasa. Merapatkan kepala diatas gumulan bantal dan menarik selimut dengan bergegas, seakan ingin tidur lebih panjang dengan harap bisa bertemu denganmu lebih lama. Satu malam terlewati, namun belum bisa ku menemukan sosokmu. Kupikir, mungkin besok, atau lusa. Begitupun ritual itu selalu ku ulang, tapi tak kunjung ku temukan sebuah perjumpaan. Beberapa episode dalam setiap terpejamnya mata, kuharap ada satu episode singkat kita duduk berdua meski hanya berkeras dalam diam. Tapi nyatanya, belum pernah ada satu episode pun tayang perdana disebuah kisah mimpi. Aku mulai jengah, kapan aku berhenti mengulang yang seperti ini. Tidur nyenyak tanpa repot merencanakan tentang mimpi, karna kenyataan lebih indah dari sebuah bunga tidur. Ya begitulah, mungkin mimpi dan rind...