Langsung ke konten utama

Rindu saja, tidak apa.

Lebih dari kepala dua, dan baru ku tau jika rindu itu berwarna. Hitam, pekat sekali, seperti berada di perut goa dengan mata terpejam. Melihatmu dari jauh itu sudah biasa, hanya merasakanmu dari  jauh yang belum membuatku terbiasa. Merapatkan kepala diatas gumulan bantal dan menarik selimut dengan bergegas, seakan ingin tidur lebih panjang dengan harap bisa bertemu denganmu lebih lama. Satu malam terlewati, namun belum bisa ku menemukan sosokmu. Kupikir, mungkin besok, atau lusa. Begitupun ritual itu selalu ku ulang, tapi tak kunjung ku temukan sebuah perjumpaan. Beberapa episode dalam setiap terpejamnya mata, kuharap ada satu episode singkat kita duduk berdua meski hanya berkeras dalam diam. Tapi nyatanya, belum pernah ada satu episode pun tayang perdana disebuah kisah mimpi. Aku mulai jengah, kapan aku berhenti mengulang yang seperti ini. Tidur nyenyak tanpa repot merencanakan tentang mimpi, karna kenyataan lebih indah dari sebuah bunga tidur. Ya begitulah, mungkin mimpi dan rindu itu berkorelasi. Tapi bagaimana korelasinya, aku belum bisa menjelaskan secara ilmu alam.

Tenggelam didalam kekalutan sebuah rindu, kurasa sama payahnya seperti tenggelam ditengah lautan disaat kamu mendayung sebuah perahu dan, karam. Seberapa mahirpun kemampuan berenangmu, tetap saja, ombak lebih mahir membuatmu terombang-ambing tanpa pernah kamu tau, kapan ia akan membawamu pulang ke tepi pantai. Aku mulai ragu, misi penyelamatan soal rindu adalah permasalahan tentang waktu, atau tentang usaha? Entahlah..  Mungkin aku hanya makhluk kecil yang terkadang memiliki rasa penasaran yang lebih besar dari ukuran tubuh yang akhir-akhir ini kian meringan.

Jika membicarakan tentang rindu, terkadang aku selalu ingat tulisan seorang teman. Begini kurang lebih bunyinya, "Doa, aku ingin memelukmu tanpa harus menyentuhmu". Terdengar bijak sekali bukan? Untuk hari esok yang tidak pasti, untuk usaha yang belum menemukan jalan, dan untuk rindu yang belum terjawab, doa adalah sebaik-baik usaha, dan penyelesaiannya, biar Dia yang menentukan. Tidaklah Dia akan mengecewakan hamba yang mempercayakan segala permasalahan kepadaNya. Maka dari itu, jika rindu, rindu saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.