Langsung ke konten utama

Kisah Malam : Penjual Tahu

Malam ini, aku ingin sedikit berbagi cerita. Peristiwa ini kudapat sekitar beberapa jam yang lalu. Berawal dari ketika tadi aku memutuskan makan di salah satu chinese food langganan di dekat kampus sanata dharma. Nggak tau kenapa, tiba-tiba saja pengen jajan diseberang jalan, kawasan pedagang kaki lima mangkal dengan gerobak dorong mereka. Jajan bukan untukku, tapi tiba-tiba lagi juga rasanya sebelum pulang pengen mampir agro sambil bawain makanan kecil. Yah sekali-kali. Entahlah, sepertinya hari ini lagi “tiba-tiba pengen” banyak hal.
            Kadang sih kalau lagi makan didaerah sana memang sering mampir jajan. Seringnya beli piscok, tapi karena kurasa tadi udah malem dan ngga baik makan yang manis, jadi aku pilih yang lain (padahal jajan juga bukan buat aku hehehe). Lalu berhentilah disalah satu gerobak pedagang jualan tahu (bukan tahu bulat tapi). Kebetulan ngga antri, sebelum aku cuma ada satu pembeli. Lalu si bapak penjual mempersilahkan aku duduk setelah pembeli sebelumku pergi.

Duduk dulu, Mbak. Nunggu tahunya digoreng”

Nah, disinilah cerita dimulai. Kurang lebih seperti ini percakapan yang berlangsung selama sekitar lima belas menit sembari menanti si tahu digoreng.  
(Penjual)        : “Pulang kerja, Mbak?”
(Aku)              : “Iya, Pak”
(Penjual)        : “Kok sampai malam?”
(Aku)              : (hmm, si bapak ini kepo banget) “Iya, Pak. Tadi mampir dulu”
(Penjual)        : “Kerja dimana, Mbak?”
(Aku)              : “Di UGM, Pak”
(Penjual)        : “Dosen, Mbak?”
(Aku)              : “Waduh, bukan Pak, baru juga lulus”
Itu adalah dialog pembuka sampai si bapak penjual pada akhirnya jadi curhat masa lalunya.
(Penjual)        : “Dulu, saya kerja diperusahaan lama Mbak. Lalu keluar, terus ikut orang, ganti-ganti, sampai akhirnya saya jualan ini. Kerja diperusahaan itu berat Mbak, mungkin kalau masih muda masih kuat, tenaga kita terpakai, bisa dapat gaji besar. Tapi nanti setelah beberapa tahun, kita sudah tua, sudah tidak sekuat dulu, ya resikonya diganti dan tidak ada jaminan pensiun atau hari tua. Katakanlah seperti saya, umur sudah 45th, anak sudah SMP, ya tenaga pasti kalah dengan yang mash 20an kalau saya diperusahaan”.
(Aku)              : (Manggut-manggut)
(Penjual)        : “Lalu saya berusaha, gimana caranya saya dapat tetap terus kerja meskipun nanti umur saya sudah tua. Saya mulai wirausaha Mbak. Ya, walaupun kecil-kecilan. Nggak apa-apa Mbak, semua dimulai dari kecil-kecilan dulu, nanti kalau sudah jalan, bisa bikin cabang ditempat lain. Orang kalau sudah wirausaha, ngga mungkin mau jadi pegawai, apalagi kerja diperusahaan. Terlebih nanti kalau sudah seumur saya, sudah punya anak, pasti yang dipikirkan adalah anak. Jaman sekarang yang paling penting adalah pendidikan untuk anak. Sekolah sekarang susah, dan biaya pendidikan sekarang juga mahal, ya kalau misalnya saja nanti anak saya tidak bisa kuliah, paling tidak ada yang saya tinggalkan, dia bisa meneruskan usaha saya”.
(Aku)              : (Masih manggut-manggut)
(Penjual)        : “Dulu saya sering searching, lihat di youtube, kira-kira usaha apa yang beda dari yang lain, tempat mana kira-kira yang berpotensi. Sampai goreng tahu saja dulu saya nggak bisa hlo Mbak. Karena pekerjaan saya yang dulu dimana yang saya temui sehari-hari hanyalah kertas, laptop.  Tapi saya belajar. Ya memang yang didapat nggak tentu, tapi ya lumayan, jualan begini saja saya bisa bahkan dapat 300-400rb/hari kalau pas masuk kuliah, mahasiswanya rame. Untuk saya yang sudah punya keluarga sudah bisa mencukupi kebutuhan, apalagi kalau untuk Mbaknya yang masih sendiri belum ada kebutuhan”.
(Tiba-tiba datang pembeli lain, dan tahu sudah selesai digoreng. Namun si bapak penjual nampaknya belum berselera mengakhiri curhat dan wejangannya. Tapi ya bagaimana lagi, pada akhirnya beliau sedikit memperpendek cerita dan menutupnya dengan kalimat yang jujur membuatku sedikit aneh).
(Penjual)        : “Ya begitu Mbak, saya hanya sekedar berbagi cerita. Saya lama bekerja di marketing dan sudah banyak bertemu dan menghadapi orang. Jadi sama seperti setiap pembeli datang, saya bisa tau orangnya seperti apa lalu biasanya saya ajak cerita sesuai dengan karakternya”.


Dijalan pulang, aku berpikir, semua yang kita lakukan ternyata memang sudah diatur. Kita akan jalan kemana, melangkah kemana, itu sudah diatur. Coba saja setelah makan aku langsung pulang. Tidak mampir jajan. Aku akan kehilangan banyak kesempatan. Kesempatan bisa menambah rejeki untuk si bapak penjual tahu yang paling tidak bisa jadi tambahan uang saku untuk anaknya sekolah, kesempatan bisa bikin yang jaga shift malam agro seneng walaupun cuma dapet makanan kecil dan kesempatan mendapat cerita si penjual tahu yang semoga bisa menjadi tambahan semangat pula untukku yang memang beberapa waktu ini sedikit menggalaukan langkah apa yang akan diambil nanti.  

Yah, begitulah, hidup memang terkadang membutuhkan pemahaman lebih. Seperti  memaknai setiap apa yang diberikan Allah untuk kita. Memaknai akan menambah syukur dan menambah rasa cinta kita padaNya. Jadi, berpikir positif bahwa setiap apa yang diberikan adalah yang terbaik itu adalah wajib. Karena Allah pasti akan selalu menambah nikmat bagi hambaNya yang bersyukur.

(Fyi, mungkin agak sedikit kurang nyambung antara percakapan bapak penjual tahu dengan kalimat yang ku tulis dibagian akhir hehehe... Tapi semoga keduanya bermanfaat) J

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.