Langsung ke konten utama

Sepasang di Bulan Juli

Dengarkanlah, ini kisah tentang suatu hari
Yang ku tulis dan akan kubacakan beberapa lembar
Untukmu saja
yang ingin mendengar, begitupun yang ingin menutup telinga

Seorang lelaki menulis sajak dijendela kereta,
Imbas atas kegundahan dua pendakian,
Dan kegagalan sebuah perjumpaan,

Seorang perempuan menempuh sebuah perjalan didalam kereta
Menuju negeri antah berantah yang belum pernah ia singgah
Tenggelam ditengah lautan manusia diujung stasiun
Berjalan sendiri melewati jembatan penyeberangan
Menanti ojek dipengkolan
Menerpa debu dan terik matahari mengejar waktu sholat jumat

Seorang lelaki berjalan menaiki anak tangga,
Berbalut kemeja putih dan sepotong celana kain hitam,
Dan seorang perempuan kecil duduk menanti dikursi kayu lantai tiga,

Tidak ada rangkaian bunga,
Tidak ada kado dan juga bingkisan seperti yang lainnya,
Hanya ada seorang perempuan  yang menempuh jarak untuk pertemuan pertama,

Tiada hari seindah hari itu bukan?
Tiada kisah terhebat selain sebuah perjumpaan

Dan hari esok menuju senja
Dimana sang surya terbenam diufuk barat
Detik yang membuat jantung berdetak lebih cepat
Dan adzan maghrib yang siap berkumandang
Detik yang telah dinanti sejak lama
Detik tentang sebuah janji yang sederhana


Yah, ini hanyalah kisah tentang awal, yang tidak ingin kutulis tentang akhirnya.

https://youtu.be/kOfmdRZ5oog

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....