Ada awal pasti ada akhir. Benar begitu? Menurut kalian lebih susah mengawali atau mengakhiri? Ah, lalu bagaimana dengan mengawali setelah mengakhiri? Apakah pertanyaan sesederhana itu cukup dijawab dengan ‘mudah’ atau ‘susah’ ? Jika menurut kalian lebih mudah mengawali, lalu bagaimana cara mengawali kembali hubungan setelah kita mengakhiri? “hai, gimana kabarmu?” “lagi sibuk apa sekarang?” atau “maafin aku ya?”. “Pfftt basi banget nggak sih pertanyaan kayak gitu?” Mungkin seketika itulah kalimat yang terlintas dipikiran kita. Seketika itulah otak dan hati secara sinkron mengirim sinyal yang sama, ‘untuk apa awal jika sudah berakhir?’. Tahukah kamu? Agamaku melarang umatnya memutuskan tali silaturahim. Agamaku melarang umatnya saling dendam. Kenapa harus ada larangan seperti itu kau tau? Agar tidak ada ...
Selamat datang.. Ini hanya sedikit catatan sederhana. Aku menulis dan kamu membaca, semoga berkesan yaa.. Terima kasih sudah berkunjung :)