Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014

Best friend : Lima belas

            Ada awal pasti ada akhir. Benar begitu? Menurut kalian lebih susah mengawali atau mengakhiri? Ah, lalu bagaimana dengan mengawali setelah mengakhiri? Apakah pertanyaan sesederhana itu cukup dijawab dengan ‘mudah’ atau ‘susah’ ?             Jika menurut kalian lebih mudah mengawali, lalu bagaimana cara mengawali kembali hubungan setelah kita mengakhiri? “hai, gimana kabarmu?” “lagi sibuk apa sekarang?” atau “maafin aku ya?”. “Pfftt basi banget nggak sih pertanyaan kayak gitu?” Mungkin seketika itulah kalimat yang terlintas dipikiran kita. Seketika itulah otak dan hati secara sinkron mengirim sinyal yang sama, ‘untuk apa awal jika sudah berakhir?’.             Tahukah kamu? Agamaku melarang umatnya memutuskan tali silaturahim. Agamaku melarang umatnya saling dendam. Kenapa harus ada larangan seperti itu kau tau? Agar tidak ada ...

Tetaplah Menjadi Tempat Berhati Nyaman (Untuk Menunggu)

Siang ini cerah ya. Menatap langit GSP dari gedung sebelah. Aku selalu suka tempat ini. Tempat yang diasusmsikan sebagai tempat anak-anak rajin, menjemukan, membosankan dan ‘apa asyiknya?’. Tapi bagiku, banyak cerita tanpa suara di tempat ini. Dulu, kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, tempat ini selalu menjadi tempat berlabuh anak-anak baru yang baru saja dikenalkan ‘dunia laporan’. Namun berbeda denganku. Aku mengenal tempat ini bukan karena sesuatu berlatar belakang akademik. Entahlah, karena apa. Entah apa yang mengenalkanku pada ‘Perpus pusat’ ini. Kau lihat, tanpa menanti senjapun GSP selalu nampak indah. Hemh, kupikir pesan semalam akan terbaca. Terkadang aku memang konyol. Ah, bukan terkadang lagi. Sering, bahkan mungkin jiwaku memang jiwa konyol ya. Novel-novel fiktif yang selalu menyajikan dunia penuh dengan kebetulan, penuh dengan kejutan telah menghipnotisku mengamini hal itu. Nyatanya, takdir tak semudah dunia novel. Waktu tak sesingkat tiap anak sub babnya. Da...

Komentator Kacang

            Satu dua menghujat, sisanya tak mau kalah. Seperti mereka paling benar, seperti mereka paling pintar. Tapi, tau apa mereka situasi sebenarnya dilapangan hijau itu? Jelas dua kubu pemain lebih mengerti apa yang harus mereka lakukan. Jelas dua kubu pemain lebih paham, lebih terlatih, lebih mengerti bagaimana mencetak gol. Hanya saja terkadang mencetak gol itu bukan hal  mudah, tergantung lawan.  Butuh usaha meski terkadang harus  terjatuh, cedera, tapi harus bangkit lagi, berlari untuk satu kata. Menang.             Tapi bagi para komentator kacang, mana peduli mereka dengan usaha para pemain. Yang mereka tau hanya duduk manis , menonton, cemooh sana cemooh sini, “Bodoh, seperti itu saja tidak bisa”.             Filosofinya sama dengan hati. Kasus disini tak jauh beda seperti sebuah lapangan sepak bola yang diisi dua kubu. Dan lagi-lagi,...