Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Doamu, doaku, doa kami (untuk ibu)

Libur semester, tak terasa waktu melesat begitu cepat. Sudah satu setengah tahun aku tidak tinggal satu atap dengannya, tidak bisa menatap raut wajahnya ketika mata ini mulai terbuka dan terpejam, menyantap lauk sederhana yang selalu disediakannnya setiap hari di meja makan. Ibu, bagaimana kabarmu menjalani hari-hari ini sendirian? Liburan ini, saat yang tepat menghabiskan waktu untuk menemaninya. Siapa lagi putrinya yang akan sering menjenguknya sebentar lagi ? Bahkan janjiku kala itu, akan sering pulang tatkala weekend gagal kupenuhi. Maafkan aku, ibu. Liburan kali ini, usiamu hampir kepala lima. Dan sebentar lagi putri sulungmu akan menjemput impiannya di luar kota. Jauh, jauh dari rumah. Itu artinya, tanggung jawabku kini sebagai putri satu-satunya yang terdekat, yang harus melindungimu. Ibu, usiaku 19th sekarang. Putri kecilmu sudah besar. Menjalani hidup hanya berdua sejak 6th terakhir. Yah, hanya berdua. Satu setengah tahun. Aku yang selalu merasa terlalu sibuk dengan hidup ...

Tanyaku, Jawabku

  Redup, masih sama seperti sejam lalu, sehari lalu, sebulan lalu dan se tahun lalu. Lamunku yang begitu absurd, anganku yang mustahil dari kata terwujud. Bongkahan masa lalu yang semakin terbenam, tergilas roda waktu kejam yang tiada pernah menghentikan rotasinya..             Hai, bagaimana kabarmu hari ini?   Masih bolehkah aku merindu? Masih bolehkah ku pejamkan mata dan mengulang kembali perjalanan ‘kita’? Bayangan itu tak bisa berhenti, bahkan selalu mengejar hingga letih ragaku berlari, hingga goyah kakiku melangkah, menopang sisa tubuh ringkih menemukan jalan keluar.   Kenangan itu tak pernah pudar, meski lelah ku hapus dengan segenap peluh mengucur deras tiada usai. Rasa itu tak penah hilang, bagai terpatri ribuan rantai besi hingga tiada satupun makhluk dapat membukanya. Jangankan membuka, menyentuhpun terlalu sulit. Hai, apa kamu baik-baik saja hari ini? Layaknya seekor ulat kecil yang ja...