BAB 2
Jam berapa, De?
Rintik hujan membasahi kota Solo sejak lima jam yang lalu.
Sekarang pukul 21.00 WIB. Suasana nampak sepi, lengang. Hawa dingin membuat
orang-orang malas beraktivitas. Di balik jendela itu, lampu masih terang
menyala, memperlihatkan penghuninya yang belum berselera memejamkan mata
seperti dua tiga jendela kamar di sebelahnya.
Handphone
dengan ringtone Spongebob terdengar berisik sejak tadi, entah pemiliknya yang
memang tidak mendengar, atau sengaja tidak tidak memperdulikan “panggilan”
orang yang di seberang sana.
“Halo
Mik, sori gue lagi di kamar mandi, nggak denger kamu telfon. Ada apa Mik?”si
pemilik handphone akhirnya bersuara, meskipun berbohong. Sejak tadi dia sibuk
di depan meja belajarnya. Tidak penah ke kamar mandi.
“Huuhhh,
untung kesabaran gue nggak habis ya De !”jawab si penelfon setengah jengkel.
”Emb, kamu udah tau kan, lusa kita mau ada reuni SD? Kamu dateng kan De?”
Sudah kuduga, pasti Mika mau
membicarakan soal ini. Dua minggu lalu, aku menerima undangan reuni SD. Siapa
lagi dalang pencetusnya kalau bukan Mika dan Nisa. Yah, dua orang itu,
sahabatku sejak TK.
“oh, iya gue tau kok Mik. Tapi gue
nggak janji ya bisa dateng atau nggak, soalnya…..”belum sempat aku selesai
menjawab, Mika pun meyela.
“Yaahhh Deaa, kamu itu sama aja
ya kayak si Adi, sama-sama banyak alesan. Ayolaahh!”gerutu Mika.
“kok malah bahas sampe ke Adi
sih?”tanyaku memancing. Aku tau, pasti Mika dan Nisa sengaja mengundang Adi,
meskipun dia tidak sepenuhnya layak disebut alumni SDN 1 Kartini.
“Ya masalahnya kemarin waktu gue
nanya ke Adi bisa dateng reuni nggak, jawabannya sama kayak kamu dan
ujung-ujungnya bilang nggak bisa”terdengar penjelasan Mika yang nampak sangat
kecewa.
Betul ? kan. Mereka berdua pasti
mungundang Adi!
“Gini Mik, maaf banget
sebelumnya. Besok sampai tiga hari kedepan gue ada di Jogja, ada registrasi dan
matrikulasi mahasiswa baru di fakultas gue dan itu wajib dateng”jawabku bohong.
“hemh, gitu ya De? Yaudah kalau
gitu”
“iya Mik, sori ya, nitip salam
buat temen-temen”.
Aku tau Mika sangat kecewa.
Sebenarnya nggak pernah ada acara registrasi dan materikulasi, itu hanya
bualanku saja. Semangatku berangkat reuni hanya dia, tapi dia nggak akan
datang. Maafkan aku Mika.
*****
“De,
jam berapa?”
Itu
adalah kali ketiga dia bertanya, kali ketiga aku harus menoleh kebelakang dan
kali ketiga bu guru kiler itu melotot kearahku.
“Baru
jam delapan !” jawabku buru-buru.
“Dea,
Adi, apa yang kalian ributkan? kenapa dari tadi kalian ribut sendiri?” aku
menelan ludah. Kerongkongan ini terasa sangat kering, pita suara serasa
terjepit, tak mampu mengeluarkan bunyi. Akhirnya hal yang ku khawatirkan terjadi, bu
guru kiler angat bicara.
“Tidak
ada bu”jawab dua anak itu serempak.
“ciiieeeee……”
teman-teman sekelas menyoraki kami.
“Diam
semua! Dea, Adi, kalau nanti ibu lihat kalian masih ribut lagi, kalian ibu
hukum tidak boleh ikut pelajaran ibu sampai usai. Mengerti?” seru bu guru kiler
mulai mengganas. Kedua anak itupun mengangguk.
*****
Bel
tanda istirahatpun berbunyi. Anak-anak kelas 3B berhamburan keluar kelas.
Nampak tubuh kecil Dea masih duduk diatas bangkunya. Sama seperti beberapa anak
lain, dia sedang malas keluar kelas. Sepeluh menit kemudian, sebelum bel usai
istirahat berbunyi, anak-anak sudah kembali duduk rapi di dalam kelas.
“mas Adi numpak pit jengki, mbak Dea mbonceng
neng mburi” (maksudnya Adi naik sepeda dan Dea membonceng di belakangnya).
Terdengar suara duo maut tukang pembuat onar dikelas. Bagas dan Ivan. Keduanya
terkekeh-kekeh diikuti tawa teman-teman sekelas.
“cie,
ada pasangan baru nih.. suit suit” teriak Ivan semakin membumbui suasana.
“cie
cie, mbak Dea jam berapa mbak?” Bagas tak mau kalah. Ia menirukan gaya Adi yang
memang akhir-akhir ini entah kenapa sering bertanya “jam berapa De?”.
Aku hanya bisa melotot kearah
mereka berdua dan berusaha membela diri. Tapi lihat, sosok menyebalkan
dibelakangku bukannya melakukan serangan balasan atau pembelaan malah diam saja dan tersenyum. Entah
senyum karena dia tidak mengerti arti lagu yang dinyanyikan Bagas dan Ivan
atau…. Entahlah!
*****
“mas Adi numpak pit jengki, mbak Dea mbonceng neng mburi” it was very akward moment cerita ini lebih keren (y). saya juga pernah merasakanya hehe
BalasHapus