Langsung ke konten utama

Bukan Salah Ilalang



Entah sudah berapa jam aku tepekur disini, mataku sembab, pipiku basah oleh rintik air mata. Pukul 11 malam sekarang. Dinding kamar terasa begitu dingin meski diluar tidak hujan,  tak juga berangin badai.  Aku masih terus terisak dikala semua tak bergeming. Aku sangat kalut ketika semua bermulai tanpa awal. Tanpa alasan kenapa ia tumbuh begitu saja, tanpa berniat untuk ku pangkas. Ribuan ilalang yang tumbuh liar di sekeliling sebuah pohon perdu yang sangat rimbun. Kerimbunan yang nampak sejuk, sangat cukup untuk melindungi ilalang dari teriknya matahari yang semakin lama semakin mengganas. Sekilas terlihat sebuah pengharapan akan kehidupan yang lebih baik bagi ilalang dengan hadirnya perdu ditengah-tengahnya. Namun bukankah itu memang sudah takdir? Bukankah semua perdu memang rimbun? Semua perdu hidup menetap disarangnya. Hanya ilalang saja yang tumbuh tanpa diharapkan. Membuat kacau pemandangan disekelilingnya. Seperti itulah perasaanku sekarang, tak terkendali layaknya ilalang, dan “dia” kokoh sebagai pohon perdu.
                Mataku masih belum berselera untuk terpejam malam ini. Sekujur tubuhku serasa tertusuk ribuan duri yang menghujam tiada henti. Sakit. Mereka berdua, sahabatku. Yang mungkin tidak akan pernah saling mengenal jika tidak ada aku. Aku yang mengenalkan mereka berdua, aku yang mendekatkan mereka dan karena aku pula mungkin salah satu atau bahkan keduanya mempunyai perasaan lebih. Semena-mena sekali mungkin aku menyebut diriku seperti itu, padahal siapa aku? HambaNya yang sama dengan yang lain bukan? tidak berbeda. Saat itu, kurasa aku masih berada di jalur yang benar, yang kata pakar kimia disebut dengan “katalis”. Dia mempercepat reaksi, berubah wujud, tapi keluar dalam bentuk yang sama. Istilahnya, katalis diartikan sama dengan mak comblang. Bukan kali pertama aku mendapat tugas seperti ini. Mungkin mereka percaya dengan keampuhanku dalam bidang ini. Bisa jadi. Tapi aku sendiri, bahkan aku merasa gagal menerapkannya pada hidupku sendiri, karena mungkin sampai sekarang aku masih belum bisa membuka hati untuk cinta yang baru. Sepertinya.
                Bumi terus berputar, jam dinding tak berhenti berdetak, dan waktupun melesat begitu cepatnya. Rencanaku menjodohkan mereka gagal. Entah apa yang salah, mungkin Tuhan belum merestui atau belum saatnya atau mungkin mereka memang tidak berjodoh dari awal. Entahlah. Mereka tumbuh dengan cinta mereka masing-masing. Sampai pada suatu hari, tanpa kusadari aku sangat begitu dekat dengan “dia”. Kami berteman, kami bersahabat dan semua masih berjalan normal sebelum dia memberi perhatian lebih padaku. Mungkin itu hanya menurutku, tidak menurutnya. Dan semua semakin terasa melenceng dari “zona seharusnya” ketika dia bilang suka. Saat itu perasaanku mulai tak terkontrol. Aku bahkan lupa dengan status persahabatan diantara kami.
                Hingga pada suatu malam dia menceritakan sesuatu yang tak ingin ku dengar sebenarnya. Dua hal yang membuat mood ku berubah 1800.. Dia menceritakan pacar barunya, sekaligus pertikaian dengan seseorang dimasa lalu yang sangat ia sayangi. Kurang lebih seperti itu kesimpulan yang kutangkap dari ceritanya yang teramat sangat panjang lebar tempo hari. Aku hilang akal, harus bereskpresi seperti apa aku menanggapinya? Apa dia tidak memikirkan perasaanku? (Hah, itu adalah pertanyaan bodoh, menyebalkan dan tidak perlu dijawab). Saat itu kupikir, setidaknya aku adalah satu-satunya yang dia percaya untuk berbagi cerita. Tak apalah, yah pikiranku memang sangat cetek saat itu. Hingga akhirnya aku tau, ternyata tidak hanya aku tempatnya berkeluh kesah, tempatnya membagi cerita. Ada satu orang lagi, ya, itu yang ku tau, seseorang yang sangat ku kenal. Sahabat dekatku, sahabat yang dulu pernah ku comblangkan dengan dia. Ternyata mereka masih berhubungan.
                Bak petir di pagi hari ketika dia menceritakan kejadian semalam, saat dia berkunjung ke kos sahabat dekatku itu. Mendadak dada ini sesak, otakku serasa tersumbat, hatiku kelu. Aku, harus menaggapi seperti apalagi? Akankah aku harus membagi perasaanku hingga sama sekali aku tak mendapatkan sisanya?
                Mungkin memang ini kesalahanku, tidak seharusnya aku membiarkan perasaan itu tumbuh begitu saja. Aku yang mendekatkan mereka, aku pula yang harus menerima konsekuensinya. Dan keputusanku sudah bulat, aku akan menjauhinya. Alasan pertama,kalau memang dia sudah punya pacar, aku akan sangat berdosa jika tetap mempertahankan ilalang itu tumbuh tak terkendali. Satu prinsip yang tidak akan pernah aku lakukan dalam hidupku adalah merusak hubungan orang lain. Lebih baik teramat sakit sendiri dibandingkan bahagia tapi dengan cara melukai perasaan oran lain. Alasan kedua, kalau memang dia dan sahabatku harus berjodoh sekarang, mungkin aku harus mengiklaskannya. Karena persahabatan tidak akan bisa dibeli. Toh juga aku yang salah, ibarat permen yang telah ku berikan, namun ku minta kembali, tidak mungkin kan?
                Everything’s gonna be okay. Mungkin ilalang sudah saatnya dipangkas dan di gantikan dengan tumbuhan yang baru, Akasia. Yang dalam bahasa bunga, Akasia berarti Cinta Terpendam. Entah memang benar seperti itu artinya atau tidak, aku hanya membacanya dari buku. Akasia akan jauh lebih baik, dia akan tetap tumbuh cantik tanpa merugikan siapapun. Semoga



Kamu adalah orang-orang tertentu bagiku. Percaya kan? :)

Komentar

  1. Nice write, visit and follow my blog if you like :)
    kalo boleh saran mending diatas kamu gak usah jelasin asal nama Deandra itu. Biar misterius. Biar pada penasaran. Biar di-kepoin. Semangat menulis :)

    BalasHapus
  2. yeah (y) akasia, cerita yang menarik. :)

    BalasHapus
  3. hehe, thaaangss mas ilham. thaangss janu :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.