Langsung ke konten utama

Belajar dari pemain sepak bola naturalisasi: Nathan Tjoe A On

Laga Piala Asia U23 telah berakhir, tapi rasa-rasanya masih belum moveon dari kekalahan. Sepanjang hidup menonton sepak bola Indonesia, rasanya baru kali ini begitu semangat. Memang tidak selalu mengikuti di setiap matchnya, hanya event-event seperti AFF, Asian Games atau Sea Games, itupun paling hanya main 2-3 kali saja dalam satu turnamen. Pertama mengikuti sepak bola era Shin Tae Yong jaman COVID, saat Indonesia memperoleh gelar runner up di laga AFF di Singapura. Euforia mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia mungkin didukung juga oleh kemudahan akses sosial media yang selalu menyulut gelora. Seperti twitter (X) misalnya. Menyaksikan laga sepak bola dengan sesekali melihat live post akun bola di twitter (X), berasa nobar dengan kebebasan memuja dan menghujat seakan lupa bahwa supporter online bukanlah pelatih ataupun komentator. LOL

Sepak bola Indonesia memang sedang mengalami perkembangan. Perlu diakui, peran besarnya adalah karena banyaknya kehadiran pemain naturalisasi. Terlebih di bawah pimpinan federasi Erick Thohir, proses naturalisasi berjalan cepat. Kalau diamati, sepertinya langkah keras ini dilakukan untuk mewujudkan ambisi Indonesia masuk Piala Dunia, di era kepemimpinannya. Naturalisasi pemain sepak bola untuk timnas sendiri sebenarnya sudah ada sejak dulu, tapi mungkin jumlahnya hanya satu dua dibawah kepemimpinan satu periode kepelatihan atau federasi. Diluar itu, pemain naturalisasi biasanya dipakai untuk memperkuat klub di Liga Nasional.

Pemain naturalisasi yang saat ini memperkuat timnas sudah dimulai sejak era kepemimpinan Iwan Bule, meskipun prosesnya tidak secepat sekarang. Jordi Amat dan Sandy Walsh mungkin era pertama naturalisasi untuk timnas saat kepemimpinan Iwan Bule yang memakan waktu lama. Contohnya Sandy Walsh, yang kabarnya harus menunggu sampai 7 tahun untuk dapat sah menjadi warga negara Indonesia. Disusul Shayne Pattynama dan dua pemain muda, Ivar Jenner dan Rafael Struick. Mungkin Ivar dan Rafael cukup beruntung, proses naturalisasinya tidak selama pemain senior karena mereka dipersiapkan untuk ajang Piala Dunia U20. Diikuti oleh Justin Hubner, yang proses naturalisasinya sempat mandheg selama beberapa bulan karena kabar batalnya Piala Dunia U20 digelar di Indonesia. Hingga akhir tahun lalu, federasipun mulai gencar memperkenalkan calon-calon pemain naturalisasi pada publik. Jay Idzez, Nathan Tjoe-A-On, Ragnar Oratmangoen dan Thom Haye adalah wajah-wajah baru timnas senior, yang telah sah menjadi WNI di awal tahun ini dan sudah memulai debutnya di bulan Maret pada ajang kualifikasi piala dunia, pertandingan kontra melawan Vietnam. Performa merekapun bisa dibilang menunjukkan kualitas hampir menyamai pemain grade A, yang dibuktikan dengan dua kemenangan diraih dan menempatkan Indonesia pada urutan ke 2 pada klasemen grup bersama Iraq. Dan pada akhir bulan April lalu, kiper Marteen Paes resmi memperkuat timnas jalur naturalisasi yang dipersiapkan untuk 2 laga terakhir kualifikasi piala dunia putaran kedua di bulan Juni mendatang.

Tentu semua pemain naturalisasi ini memiliki skill luar biasa, yang memang tidak dipungkiri sangat jauh dengan kualitas pemain lokal. Hampir semua pemain naturalisasi adalah keturunan Indonesia-Belanda, yang saat ini berkarir di beberapa klub liga eropa. Dan dari sekian banyak pemain naturalisasi saat ini, ada satu pemain yang sangat menarik untuk dibahas mumpung momennya sedang berapi-api, dialah Nathan Noel Romejo Tjoe A On.

 

Nathan Tjoe-A-On

Nathan Tjoe-A-On, begitulah ia memperkenalkan namanya. Kabarnya, dia adalah salah satu pemain naturalisasi yang sama sekali tidak memiliki darah Indoensia. Ia memperoleh kewarganegaraan Indonesia dari sang kakek (dari ibunya) yang lahir di Semarang. Meskipun lahir di Semarang, namun kakeknya asli orang Eropa. Kakeknya kemudian menikah dengan neneknya, orang Belanda. Kemudian Ibu Nathan menikah dengan ayahnya yang merupakan keturunan Suriname-Tionghoa. Sehingga, nama marga ‘Tjoe’ yang ada dibelakang namanya, berasal dari ayahnya. Belum diketahui secara pasti, garis keturunan Suriname dari sang ayah, mengingat banyak penduduk Suriname yang berasal dari Jawa saat itu. Namun beredar kabar pula, garis keturunan Suriname ayahnya berasal dari India. Entah belum dapat dipastikan garis keturunan dari sang ayah, yang pasti ia memperoleh kewarganegaraan dari jalur kakeknya, yang lahir di Semarang.

Saya menyaksikan Nathan bermain sejak debutnya di GBK bulan Maret lalu melawan Vietnam. Ia dipasang di posisi sayap kiri, yang merupakan posisi Pratama Arhan dan Shayne Pattynama. Shayne sendiri tidak dapat bermain karena cedera. Sedangkan Arhan duduk dibangku cadangan. Performa debut Nathan cukup baik, meskipun belum terlalu menonjol. Nampaknya masih harus beradaptasi, terlebih dengan kondisi GBK saat itu yang cukup padat dan panas. Disisi lain, ia memulai debutnya bersamaan dengan Jay Idzez, yang tampil lebih menonjol sebagai pemain belakang. Sayangnya, Nathan hanya dimainkan selama 45 menit, lalu digantikan Arhan yang kemudian menyumbang 1 assist lewat lemparan dalam yang disambut Egy Maulana Fikri dan berujung pada satu gol kemenangan di kandang sendiri.

Pada laga selanjutnya, Nathan bermain penuh yang kembali menempati pos sayap kiri, menggantikan Pratama Arhan yang tidak dapat bermain karena sakit. Performanya cukup baik, namun lagi-lagi masih kalah menonjol dibandingkan dengan Thom Haye dan Ragnar Oratmangoen yang memulai debut pertamanya saat itu. Haye menyumbang 1 assist lewat tendangan pojok yang disambut sundulan cantik dari Jay, membuka skor pertama untuk Indonesia di kandang Vietnam. Disusul satu gol dari Ragnar yang tampil sangat percaya diri sebagai calon striker terbaik timnas dimasa depan. Sampai 2 laga berjalan tersebut, mungkin performa Nathan belum meyakinkan pelatih Shin Tae Yong untuk menjadikannya pemain yang dipercaya menjadi starter di Piala Asia U23 melawan Qatar.

Di ajang Piala Asia U23, Nathan sempat dirumorkan tidak mendapat ijin dari klubnya (SC Heerenveen) untuk memperkuat timnas. Namun, akhirnya diberi ijin 1 minggu hingga babak 8 besar karena kebetulan sedang tidak ada turnamen. Pada pertandingan pertama melawan Qatar, Nathan dimainkan untuk menggantikan Komang Teguh setelah Ivar Jenner mendapat dua kali kartu kuning dan harus keluar lapangan. Pada laga ini, mental pemain cukup drop karena harus bermain 9 orang, menyusul Ramadhan Sananta yang juga memperoleh kartu merah, sehingga Indonesia harus menelan kekalahan 2-0 melawan Qatar di laga pertama Piala Asia U23.

Di pertandingan kedua melawan Australia, Nathan bermain penuh dan ditempatkan di posisi gelandang bertahan, menggantikan Ivar Jenner yang harus absen karena kartu merah. Disinilah, performa Nathan terlihat sangat menonjol. Meskipun ia tidak bermain diposisi aslinya, ia mampu berkontribusi penuh, baik membantu pertahanan pemain belakang, maupun menghidupkan bola di lini tengah serta menghasilkan umpan-umpan terobosan untuk pemain depan. Ia pun memberikan 1 assist yang disambut sundulan cantik Komang Teguh yang akhirnya membawa kemenangan 1-0, mematahkan kutukan Indonesia yang tidak pernah menang melawan Australia. Performa baik inipun menjadi bekal bagi Shin Tae Yong untuk kembali menempatkan Nathan di lini tengah, berduet dengan Ivar Jenner di laga kontra melawan Yordania. Duet Nathan dan Ivar di lini tengah yang sangat apik, menjadi salah satu kunci kemenangan yang membawa Indonesia lolos kualifikasi fase grup bersama Qatar untuk melaju ke babak 8 besar. Sayangnya, euforia ini diikuti kabar buruk bahwa Nathan tidak dapat memperkuat timnas karena ijin 1 minggu yang diberikan klubnya telah berakhir. Nathanpun langsung bertolak ke Belanda usai pertandingan melawan Yordania.

Kondisi tersebut tentu membuat masyarakat sedih dan khawatir. Pasalnya di babak 8 besar, Indonesia langsung akan berhadapan dengan Jepang atau Korea Selatan yang sedang berebut posisi juara grup pada saat itu. Upaya keraspun dilakukan berbagai pihak, mulai netizen yang menyerbu akun klub Nathan, hingga federasi yang melakukan lobi agar Nathan dapat kembali memperkuat timnas. Bak gayung bersambut, keputusan klub yang memberi ijin Nathan kembali ke Qatar muncul bersamaan dengan kabar kemenangan Korea Selatan atas Jepang. Yang itu artinya bahwa di pertandingan pertama di babak 8 besar, otomatis Indonesia akan berhadapan dengan Korea Selatan, tim yang pernah diasuh sekaligus negara asal dari pelatih Shin Tae Yong. Nathan pun akhirnya kembali ke Qatar, kurang dari 1 hari sebelum pertandingan Indonesia vs Korea Selatan.

Laga yang berlangsung lebih dramatis dibandingkan drama korea itupun berakhir dengan kemenangan untuk Indonesia melalui 2x babak perpanjangan waktu dan pertarungan sengit melalui adu pinalti, dengan skor akhir 2(11) vs 2(10). Laga yang pasti tidak akan pernah saya lupakan, karena di sepanjang hidup, belum pernah saya rela-rela bangun jam 12 malam, demi persiapan menonton sepak bola yang berlangsung lebih dari 3 jam dan berakhir subuh (WIB) itu. Meskipun datang menjelang laga, Nathan bermain penuh dengan performa baik yang membawanya dalam 10 besar pemain paling kreatif di AFC U23. Yang menarik pada laga kontra Korea Selatan ini adalah Nathan tidak diikutkan menjadi pemain yang ikut menendang saat adu pinalti. Pasalnya, jumlah pemain yang ikut menendang harus sama antar tim. Berhubung Korea Selatan bermain 10 orang karena salah satu pemainnya harus keluar karena kartu merah, maka harus ada 1 pemain Indonesia yang tidak ikut menendang. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Shin Tae Yong mencoret Nathan, apakah sebenarnya dia cedera atau dia menolak karena alasan mental? Prediksi saya, mungkin sebenarnya dia ada cedera atau tidak dalam kondisi prima. Karena saat laga kontra Yordania, ia sempat mengalami benturan keras dengan pemain lawan. Dan sepertinya tidak mungkin juga, pemain kelas internasional tidak profesional mengikuti instruksi pelatih.

Video euforia dan ketegangan pada fase adu pinalti pun beterbaran di sosial media. Up and down seluruh pemain dan supporter ketika Justin gagal melakukan tendangan, namun mendapat kesempatan kembali untuk tendangan ulang hingga akhirnya percobaan yang kedua tidak mampu ditepis sang kiper Korea Selatan. Ada salah satu video official yang menarik saat Ernando Ari berhasil menepis tendangan salah satu pemain Korea, yang kemudian disambut euforia pemain timnas yang ada dipinggir lapangan, meskipun saat itu belum dipastikan Indonesia meraih kemenangan karena masih ada 1 tendangan penentu. Saat pemain dan staff euforia dengan berlarian, Nathan tertangkap kamera tengah berdoa. Sepertinya ini momen saya mulai terNathan-Nathan, yang kemudian melahirkan rasa penasaran dan berakhir dengan berlanggananan akun eksklusif di intragamnya (hahahha). Tapi ya ternyata tidak jauh berbeda dengan postingan dia yang biasanyanya. Hanya foto-foto saat pertandingan, repost poster tanding dan quote doa. Sepertinya memang secara pribadi, Nathan orang yang simpel dan religius. Tidak ada postingan daily activitynya seperti yang lain. Kolom dm comment storypun dinonaktifkan. Begitulah kira-kira secuil info Nathan yang diperoleh dari langganan eksklusif, untuk repeat order di bulan selanjutnya, masih belum tau. LOL.

Kemenangan atas Korea Selatan membawa Indonesia melaju ke babak semi final bersama Iraq, Jepang dan Uzbekistan, yang semuanya pernah menjuarai Piala Asia U23. Sepanjang menyaksikan laga Indonesia, rasa-rasanya memang baru kali ini menonton timnas bermain sejauh ini, meskipun hanya di kategori umur (U23). Laga kontra Uzbekistan sepertinya menjadi laga terberat bagi timnas U23. Selain karena absennya Rafael Struick sebagai striker andalan, performa Uzbekistan memang masih jauh diatas Indonesia. Saya pernah menyaksikannya saat Piala Dunia U17. Tipe permainannya lebih pada permainan negara-negara Eropa. Long pass yang rapih dan cepat, membuat terlihat sekali pemain Indonesia sangat kelelahan meskipun laga baru berjalan 45 menit. Yang menarik adalah, di laga kontra Uzbekistan ini Nathan nyaris mendapat kartu merah. Teckle yang ia lakukan terlalu tinggi dan keras mengenai bagian perut pemain Uzbekistan. Beruntung hanya mendapat kartu kuning. Pasalnya, Nathan tidak pernah melakukan pelanggaran sepanjang turnamen di Piala Asia U23. Permainannya cukup efektif dan rapih. Laga yang berjalan tidak imbang itupun dimenangkan Uzbekistan (2-0) dan membuat Indonesia harus mengubur asa untuk melaju ke final, serta harus kembali berjuang untuk bisa ikut dalam turnamen Olimpiade Paris melalui jalur juara ke 3 Piala Asia U23.

Laga terakhir bagi Indonesia di ajang Piala Asia U23 dengan tenaga yang tersisa’, ya begitulah kira-kira judul untuk pertandingan antara Indonesia vs Iraq. Salah satu penyebabnya adalah karena tidak adanya rotasi pemain di setiap laga. Pelatih hanya menurunkan pemain yang sama dan mereka selalu bermain penuh selama pertandingan. Hal ini sebenarnya sangat beresiko membuat pemain cedera, kelelahan dan bosan sehingga menurunkan performanya di lapangan. Tapi ya bagaimana lagi, tujuan utama saat itu tinggal merebut satu tiket menuju Olimpiade Paris.

Namun, absennya kapten Rizky Ridho sebagai pemain belakang, mendesak Shin Tae Yong harus mengganti sedikit strategi. Pasalnya, Ridho sangat berkontribusi dalam pertahanan Indonesia. Dan menurut saya, dia yang paling baik dalam berkomunikasi dengan Ernando. Ini terlihat dari 2 laga sebelumnya, dimana Indonesia harus 3x kebobolan dari gol bunuh diri pemain belakang, Justin Hubner, Komang Teguh, serta Pratama Arhan. Karena tidak mau ambil resiko, Shin Tae Yong pun memilih jalan menempatkan Nathan sebagai pemain belakang, bersama Justin dan Ferrari di laga melawan Iraq. Itu artinya, tentu kekuatan di lini tengah akan berkurang. Sepanjang awal pertandingan sebenarnya relatif lancar bagi pemain Indonesia, bahkan timnas sempat unggul 1-0 berkat gol jarak jauh Ivar di luar kotak pinalti.

Beberapa kali Indonesia memiliki peluang yang mulai dibangun dari lini belakang, tapi selalu gagal. Hingga memasuki babak kedua, permainan terasa tidak imbang. Irak meningkatkan intensitas serangan, sedangkan pemain Indonesia sudah kelelahan dan masih terus gagal memanfaatkan peluang. Kekosongan di lini belakangpun sering kali terjadi. Justin yang seharusnya bertugas sebagai center bek nampak kewalahan pula memback up sisi kiri dan kanan. Sedangkan Nathan terlihat harus pontang-panting menjaga pertahanan belakang sisi kiri, membantu kekosongan sayap kiri karena nampaknya pergerakan Arhan kurang fokus karena cedera serta membantu lini tengah untuk menghidupkan bola dan membangun umpan serangan. Saya yang hanya melihat pergerakannya saja sangat kelelahan.

Pertahanan belakang yang sering kosong semakin membuat Iraq bersemangat menggempur serangan. Hingga tibalah momen yang tidak akan pernah dilupakan. Aksi heroik Nathan menyapu bola yang hampir saja masuk ke gawang Ernando yang kosong dari penjangaan dan membuatnya nyungsep, jatuh terbanting di dalam gawang, menjadi momen paling dramatis yang akan selalu dikenang sebagai perjuangan sosok pemain naturalisasi. Pertandingan berakhir dengan kekalahan sekaligus mematahkan satu peluang masuk Olimpiade memalui turnamen AFC U23. Raut letih, sedih, kecewa nampak pada seluruh pemain yang tertunduk murung, lemah dan jatuh tersungkur di tengah lapangan, tapi tidak untuk Nathan Tjoe A On. Meskipun terlihat juga raut kecewa dan lelah dari wajahnya, tapi Nathan memilih untuk tidak larut dalam kesedihan dan segera menepi di pinggir lapangan. Di tengah kemurungan, ia pun masih bersemangat memanggil teman-temannya untuk berkeliling lapangan mengucapkan terima kasih kepada supporter yang telah memberikan dukungan penuh sepanjang turnamen berlangsung. Ya, ia selalu melakukan ini setiap usai laga.

Gestur untuk selalu mengajak ‘bersegera’ terlihat sangat melekat pada diri Nathan. Segera untuk bangun ketika terkapar di lapangan karena waktu pertandingan terus berjalan. Segera untuk bangkit dari kekalahan karena tidak hanya diri sendiri yang bersedih, seluruh pendukung di stadion juga bersedih, maka jangan sampai mengecewakan dukungan mereka. Meskipun saya yakin sebenarnya penonton lebih bersedih melihat perjuangannya jungkir balik di lapangan dibandingkan kenyataan menerima kekalahan. Mental yang sangat matang saya kira untuk pemain dengan usia dibawah 23 tahun.

Seorang Nathan, mungkin hanya kecil di negara asalnya, sehingga dengan status dipinjamkan untuk klub lainpun masih diberi sedikit waktu bermain. Sampai pada saat debut pertama di timnas pun banyak diragukan karena permainannya tidak terlalu menonjol. Pun bahkan saat awal ajang Piala Asia U23 belum dipercaya untuk diturunkan sebagai starter. Dan mungkin, jika Ivar tidak mendapat kartu merah dan harus absen dalam satu pertandingan, kita tidak akan pernah tau bahwa dia versatile luar biasa yang dapat ditempatkan diposisi manapun, menggantikan siapapun. Tentu, semua itu dicapai melalui proses yang panjang dan sulit.

Saya ingat pada beberapa postingan quote yang ia bagikan di story eksklusif miliknya saat ia begitu berat harus meninggalkan timnas dan kembali ke Belanda karena waktu ijinnya telah habis:

“God's timing, not mine”

“Then God said: I heard your prayers, now trust My timing”

Hingga akhirnya, klub kembali mengijinkannya membantu timnas bermain dan saat itu juga ia langsung bertolak kembali ke Qatar.

Followers tidak akan pernah menemukan postingan kegiatan harian Nathan di sosial media, tapi mungkin followers akan tau apa yang ia sedang rasakan dari repost doa-doanya. Seperti beberapa saat usai laga terakhir melawan Iraq, tidak ada postingan apapun dari instagramnya kecuali repost doa: “Trust God always”.

Tidak perlu bersusah payah menjelaskan pada dunia kita siapa dan bisa apa. Dengan doa, yakin pada Tuhan dan bekerja keras dengan niat yang tulus dalam segala hal, maka dunia akan menunjukkan bagaimana kita sebenarnya 😊

Dari sedikit banyak melihat proses Nathan di timnas yang ‘tidak tiba-tiba’ bersinar, ada banyak pelajaran yang dapat kita petik.

Nathan Tjoe-A-On, pemain muda 22 tahun, semoga karirmu akan terus berkembang dan membawa banyak manfaat dan kebaikan bagi Indonesia!

 




 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.