Langsung ke konten utama

Manusia dan perbudakan konten


    Viralnya babi ngepet di Depok yang dituduh sebagai pelaku pencurian uang dan membuat resah warga sejak beberapa hari lalu mencapai klimaks ketika si babi ditangkap dan akhirnya disembelih. Viralnya penangkapan babi ngepet ini sampai jadi trending di beberapa sosial media raksasa. Harapan babi ngepet akan berubah wujud menjadi manusia ternyata benar adanya. Belum ada 1x24 jam si babi dikuburkan, terungkap bahwa semua itu hanya skenario yang dibuat oleh sekelompok makhluk berkepala hitam alias manusia. Motif pelaku adalah ingin viral dan terkenal. Lebih memprihatinkan lagi dalang cerita merupakan seorang ustad yang mengaku iman sedang lemah dan tergoda bisikan setan. Bagaimana kira-kira kalau yang ada diposisi babi ini adalah manusia? Ngga tau apa-apa, difitnah, disiksa, lalu dibunuh?

Perbudakan konten yang didukung keglamoran sosial media nampaknya semakin menjamur di hati, membutakan mata, menjadi candu dan perlahan merusak sistem kerja mental penggunanya. Viral dan trending menjadi capaian tertinggi dari label kesuksesan sebuah konten, entah apapun isinya. Orang berlomba-lomba menjadi gila supaya terkenal, punya banyak followers dan selalu menjadi sorotan. Konflik dan masalah semakin dicari-cari seakan hidup dengan banyak musuh lebih menantang dan menyenangkan. Sehat dan normal serasa bikin tulang linu sampai rela menantang maut dan meregang nyawa demi terpampang di deretan ranking konten viral yang cuma berapa jam saja. Privasi seolah lenyap karena semakin orang tau apa yang kita jalani dari melek sampai merem (re: daily vlog) semakin meng-inspirasyen khalayak pengguna sosmed yang maha benar, katanya. Menikah jadi konten, honeymoon jadi konten, lahiran jadi konten, cerai jadi konten. Disitu mikir, kapan bisa merasakan anugerah dan kejutan-kejutan dari Tuhan kalau semua yang akan dijalani sudah direncanakan diri sendiri, dengan hasil harus sesuai dengan hipotesis yang dibuat??

Lebih aneh lagi konten masalah rumah tangga. Lah, dirinya sendiri yang mengalami, masalah pribadi, tapi kenapa merasa harus berkewajiban klarifikasi ke publik? Dan mirisnya, yang seperti itu banyak ditonton dan diperdebatkan.

Entah bagaimana, sifat sosmed dan konten memang bikin kecanduan. Semakin sering dipakai, semakin ngga bisa lepas, semakin pengen tau terus, berhenti sebentar bikin kayak orang sakau, hampa. Orang ngga pakai sosmed dibilang “lebay deh, kan cuma buat hiburan”. Coba misal dalam satu hari kita menghabiskan waktu 1,5 jam untuk 1 sosmed, sedangkan kita punya 5 aplikasi sosmed yang aktif dibuka setiap harinya melalui gadget kita dengan konten yang cenderung sama. Banyak juga kan, waktu terpakai untuk hiburan setiap harinya tanpa kita sadari?

Pembatasan sosmed perlu dilakukan demi menghindari perbudakan konten yang mengancam mental. Caranya dimulai dengan unistall aplikasi yang sekiranya menyita waktu paling banyak untuk menonton konten (bukan untuk keperluan pekerjaan). Tenang, hidup akan tetap berjalan baik-baik saja (kan masih punya 4 aplikasi haha). Jika dalam waktu satu bulan berhasil bertahan, lanjutkan dengan unisntall aplikasi berikutnya dan lakukan dengan cara yang sama. Menyisakan 2 aplikasi sosmed di gadget saja sudah cukup sebagai sumber informasi dan hiburan. Berat memang, tapi harus dicoba, dipaksakan dan dibiasakan demi menghentikan perbudakan konten dan menjaga kesehatan mental. hehehe

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Belajar kehidupan, dari memelihara kucing

Tulisan pertama di tahun 2023. Sudah pasti untuk menjaga blog yang umurnya lebih dari 10 tahun ini tetap hidup. Dengan tulisan suka-sukaku tentunya. Karena ternyata konsisten lebih sulit dibandingkan muluk-muluk membuat sebuah karya besar untuk mengejar hasrat dan ambisi "pengakuan".  ***** Beberapa waktu terakhir banyak momen tentang "kucing", yang memaksaku ingin sekali untuk menulis tentangnya. Namun apa daya ternyata maksud hati terkalahkan banyaknya godaan diluar sana, tentu yang terbesar adalah kemalasan yang sungguh menyebalkan ini.  Secara track record, aku bukan pecinta kucing. Bukan juga golongan pembenci dan penyiksanya. Hanya tidak terlalu suka, geli, takut, kotor (hahaha padahal anak peternakan?) Sejak kecil di keluargaku tidak memiliki binatang peliharaan. Paling Mbakku dulu waktu SD pernah pelihara ikan yang dibeli di sekolah, ditaruh dalam bekas kaleng biskuit, yang baru beberapa hari sudah mati lalu ditangisin.  Kalau ditanya, "kok bisa pilih p...