Langsung ke konten utama

Belajar dari Pandemi Part 1


Memasuki pekan ketiga, bangsa ini dihadapkan pada kondisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ah salah, bukan hanya bangsa ini saja, hampir semua belahan dunia tepatnya, merasakan hal yang sama. Wabah yang terjadi hampir genap satu bulan ini, telah banyak merubah pola hidup jutaan orang, dari yang kecil hingga yang tua, dari yang miskin hingga yang kaya. Korban meninggal yang terus bertambah setiap harinya, kini sudah mencapai angka ratusan. Barisan dokter dan perawat mulai gugur dalam menjalankan tugas kemanusiaan menyelamatkan nyawa sesama. Puluhan ribu masyarakat kehilangan pekerjaan, pedagang gulung tikar, industri collaps. Rasanya, masih sulit dipercaya.
Seperti mimpi yang hadir selepas tidur. Kita tidak pernah tau akan mimpi apa malam ini. Yang kita tau bahwa keyakinan akan datangnya pagi sebagai pertanda mimpi segera berakhir. Tapi, apakah ada jaminan atas keyakinan kita dengan bertemunya esok hari? Ternyata memang tidak. Kita tidak pernah tau apa yang ada di depan, seperti apa besok, sebaik dan sesempurna apapun kita berencana jauh-jauh hari.
Siang tadi, pemerintah mengumumkan beberapa kebijakan untuk menangani wabah ini. Sejak rapat hari sebelumnya memang sudah diambil keputusan bahwa Indonesia tidak akan melakukan lockdown, meskipun banyak desakan menuntut pemerintah segera mengambil langkah tersebut. Namun, banyak pertimbangan memang jika lockdown benar-benar diterapkan, Setelah melihat dampak dari beberapa negara, lockdown tidaklah langsung menyelesaikan masalah. Contohnya saja di Italia, negara dengan persentase kematian tertinggi. Italia adalah negara dengan perekonomian terbesar ketiga di Uni Eropa. Negara maju yang tentu masyarakatnya jauh lebih bisa diatur dibandingkan Indonesia, tapi nyatanya, himbauan pemerintah yang sudah dilakukan sejak awal masih tetap dilanggar hingga memakan ratusan korban jiwa setiap harinya. Sampai akhirnya pemerintahpun mengeluarkan dekrit untuk melakukan lockdown. Di minggu ketiga masa lockdown ini, mulai gencar diberitakan bahwa banyak terjadi penjarahan di toko-toko di Italia karena masyarakat mulai kehabisan stok pangan, mereka mengeluh kelaparan dan butuh makan. Bisa terbayang kan, negara se kaya Italia yang wilayahnya tidak lebih dari 20%nya wilayah Indonesia kewalahan menangani ini. Juga kabar beberapa hari lalu bahwa Menteri Keuangan negara bagian Hesse Jerman, Thomas Schaefer meninggal bunuh dini diduga akibat keputusasaan menghadapi krisis perekonomian yang terjadi akibat pandemi ini, padahal beliau sudah 10 tahun menjabat diposisi tersebut dan telah banyak jasa yang telah diberikan. Juga Amerika Serikat, yang kita tau sebagai negara adikuasa, kini jumlah korban meninggal hampir diatas China dan Italia.
Oke, tidak perlu jauh-jauh, kita lihat negara yang hampir sama kondisinya dengan Indonesia, yaitu India. Baru hari minggu lalu dan belum sampai satu pekan pemerintah melakukan lockdown, tragedi kemanusiaan terjadi di India. Sama halnya dengan Indonesia, dimana mayoritas penduduknya adalah pekerja migran dari desa ke kota yang rata-rata adalah pekerja informal. Ketika keputusan lockdown dilakukan otomatis para pekerja tersebut kehilangan pekerjaan dan ingin kembali pulang ke desa. Pembatasan sarana trasportasi menyebabkan para pekerja migran di India akhirnya memutuskan pulang ke kampung halaman dengan berjalan kaki dan itu dilakukan secara besar-besaran. Dari sini tentunya dapat disimpulkan bahwa “Tidak ada negara manapun yang siap menghadapi wabah ini”. Lalu, kenapa China bisa? Sebenarnya perlu beberapa waktu juga China untuk bangkit dan pulih. Itupun juga balik lagi ke pola masyarakatnya. China adalah salah satu negara komunis dimana rakyat sangat patuh pada pemerintah. Pemerintah berupaya keras, dan rakyatnya pun ikut kata pemerintah. Saya masih ingat saat membaca berita, beberapa hari setelah ditemukan kasus pertama di Wuhan, pemerintah China langsung membangun rumah sakit dan ditargetkan selesai dalam waktu 10 hari. Kebayang kan, membangun dari awal hlo, dari masih tanah, membangun pondasi dan lainnya, lalu selesai dalam waktu kurang dari 2 minggu ditengah kondisi wabah seperti itu. Pada prinsipnya memang, beda negara beda culture, beda acara penyelesaiannya.
Lalu, langkah apa yang diambil Indonesia? Pemerintah telah menetapkan dilakukannya pembatasan social secara besar-besaran. Sampai saat inipun saya masih kurang paham maksud dari “pembatasan social” karena memang segala keputusan diambil atas dasar undang-undang yang sudah ada dan soal bahasa perundang-undangan, saya memang tidak paham dan tidak ingin sok paham. Yang pasti, saya harap ini tidak se menyeramkan lockdown. Salah satu dampak yang dikhawatirkan dari lockdown memang adalah krisis ekonomi. Namun lebih dari itu, sebenarnya, yang perlu di khawatirkan lagi setelah itu adalah dipastikan akan terjadi pula krisis kemanusiaan. Jangan hanya ditekankan pada "negara kita negara miskin karena hutang yang semakin banyak karena setiap orang menanggung hutang negara sebanyak sekian sekian.......". Banyak dampak yang perlu kita pelajari lebih jauh ketika akan mengambil sebauh keputusan.
Hal yang nyata terjadi, setelah adanya berita terkait pembatasan social, hari ini supermarket dan minimarket membatasi jam operasionalnya. Semua orang berpikir memenuhi kebutuhan pokok terlebih dahulu yaitu pangan. Begitu pula sore tadi saat kakak berpikiran sama ingin nyetock kebutuhan pangan dan belanja di supermarket, bahkan isian di etalase hampir semua komoditas kosong dan antrian sangat membludak. Pun juga aktivitas di pasar tradisional atau pasar induk. Jika memang akan ada penutupan akses jalan tol, dapat dimungkinkan pedagang pasar banyak yang tutup karena akses penyediaan bahan yang dijual adalah lewat tol. Sulit memang menentukan kebijakan untuk saat ini.
Melihat kondisi seperti ini, yang disayangkan adalah masih banyak pula pihak-pihak yang saling menyalahkan dan mencari pembenaran. Sejatinya tidak ada yang patut untuk disalahkan, karena apa yang terjadi ini memang diluar dari kehendak kita. Orang-orang yang datang dari zona merah yang kemudian dikucilkan ketika sampai di kampung halaman seakan dianggap berbahaya. Korban meninggal yang tidak mendapat tempat pemakaman karena ditolak oleh warga sekitar. Pemerintah yang di nilai lambat mengambil keputusan. Percayalah, hari ini banyak pemimpin yang tidak dapat tidur dengan tenang. Para rektor yang memikirkan bagaimana cara perkuliahan bisa dilaksanakan dengan lancar, agar mahasiswanya dapat lulus tepat waktu dan tidak terhambat. Industri yang memikirkan bagaimana nasib pekerja jika terpaksa harus dirumahkan dalam jumlah banyak sedangkan anak istri dirumah butuh makan. Pemerintah daerah yang memikirkan cara agar masyarakatnya tetap aman dengan terus melakukan mobilitas yang tinggi dan tidak henti-hentinya menghimbau kepada warganya padahal hal tersebut juga sangat rawan bagi kekebalan tubuh mereka. Pada intinya adalah berpikir positif bahwa semua orang saat ini sedang berusaha melakukan yang terbaik.

Jadi, untuk kita yang saat ini merasa sedang tidak melakukan apapun, tidak produktif, bosan, sebenarnya tidak juga. Kita justru sedang diberi waktu yang lebih untuk belajar hal yang besar. SABAR. Sabar yang tidak pernah kita tau bagaimana cara mengukurnya. Sabar yang tidak pernah kita tau sampai kapan batas waktunya. Sabar mengikuti peraturan yang ada. Sabar tidak saling menyalahkan sesama. Jauhi kabar-kabar yang bersifat memancing dan mengundang kebencian. Jalin silaturahmi yang lebih erat dengan sesama meskipun tanpa perjumpaan, dengan sering-sering menanyakan kabar, saling menguatkan dan memberi semangat. Open minded dengan belajar dari banyak peristiwa yang terjadi disekitar agar kita banyak-banyak beryukur. Dan satu lagi hal yang paling utama adalah iman, yakin pada Allah, bahwa selalui ada hikmah dibalik setiap keadaan, dan segala sesuatu yang Allah berikan pada hambaNya pasti adalah yang terbaik.


Komentar

  1. Banyak tulisan yang mengkritik dan menyalahkan sana sini, yg membuat hati semakin resah dan gundah. Tapi tulisan ini bagai oase di terik ya matahari yg memberi kesegaran dan menambah imun di masa pandemi 😂

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Da aku mah apa atuh : Abdi bogoh ka anjeun

Musim hujan, akhir tahun. Yah memang seperti itu, selalu seiiringan, selalu serangkaian, sepaket. Tak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan. Akhir tahun dan hujan selalu membuatku iri. Betapa setianya akhir tahun selalu menanti datangnya hujan, entah berapa lamanya ia harus melewati kemarau yang kini tak tentu hitungan 6 bulannya. Lebih, kemarau sekarang lebih lama. Iya, lama. Tahun genap sudah hampir habis. Tahun genap yang seharusnya menggenapkan. Tahun genap yang berjalan begitu cepat. Tahun genap yang mengajarkanku banyak hal. Mengenalkanku pada banyak hal baru. Tahun genap yang membuatku belajar apa itu " abdi bogoh ka anjeun ". Abdi bogoh ka anjeun bukan hanya tentang sebuah kata yang mudah di ucap kau tau? Bukan sekedar hari ini aku katakan pada si A, besok si B, minggu depan si C. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang paling mudah dan cepat merespon. Bukan sekedar diberikan pada siapa yang lebih cantik dan lebih tampan. Tidak begitu. Abdi bodoh ka anje...

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.