Langsung ke konten utama

Belajar dari Wali Songo


Masih teringat perbincangan beberapa hari lalu saat libur lebaran di rumah. Tidak dipungkiri memang berdiskusi dengan ayah adalah salah satu hal yang menyenangkan. Mulai dari membahas topik soal kehutanan dan problemnya di petani, kasus-kasus yang kurang lebih sama juga ditemukan dipeternak rakyat, dan satu lagi yang aku suka dari diskusi dengan ayah adalah soal politik dan pemerintahan. Jadi kemarin bermula dari berita tv soal kemelut capres yang nampaknya memang masih belum menemukan titik terang. Mungkin tulisan ini agak sedikit sensitive, tapi ya namanya juga opini, semua boleh beropini asal tidak ngawur dan berat sebelah. 

“Yah, aku sempet nonton pidato Mahfud MD waktu itu di youtube, tapi kayaknya itu video lama. Katanya, sejak jaman pemerintahan Alm. Gus Dur, ada beberapa golongan yang pengen menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam ya?”

“Jadi nduk, kepengenan untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam itu sudah ada dari jaman masuknya Islam pertama kali di Indonesia. Tapi pada waktu Islam masuk Indonesia, sudah ada sistem pemerintahan besar yaitu jaman kerajaan Majapahit dimana agama Hindu dan Budha sudah masuk duluan ke Indonesia…. Islam masuk ke Indonesia lewat Wali Songo, dimana cara penyebarannya lewat media-media seperti wayang, tembang yang memang sudah ada dan mudah diterima masyarakat. Penyebaran Islam jaman dulu dilakukan secara halus tanpa ada kekerasan, jadi kalau menurut ayah, lihat cara-cara yang dilakukan seperti saat ini yaa itu cara anak-anak lah”.

Kemudian aku berpikir, benar juga ya. Sejak jaman dulu di Indonesia tidak pernah ada konflik atau bahkan perang yang mempermasalahkan agama atau suku, yang ada ya memang perebutan kekuasaan, perebutan wilayah kerajaan, saling membunuh untuk berebut tahta, adu fitnah untuk menyulut perang. Disadari atau tidak, semua ternyata memang sudah turun temurun dari nenek moyang jaman dulu.

            Kurang lebih dapat dibayangkan, dengan cara yang sederhana, Islam dapat masuk dan berkembang meski bukan menjadi agama pertama yang ada Indonesia, dan kini menjadi agama yang paling banyak di anut oleh penduduknya. Pada dasarnya, masing-masing negara memiliki karakteristik masing-masing yang tidak bisa disama ratakan, sehingga cara penyampaiannya pun ya jangan disamaratakan. Indonesia berbeda dengan Arab, struktur penduduknya pun berbeda. Indonesia lahir dari keberagaman,

Menjadi perenungan dan mengingat kembali, mungkin kita bisa belajar dari Wali Songo.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....