Ramadhan ke-6
Tiada ramadhan terindah
selain melewatinya bersama keluarga, menikmati masakan Ibu salah satunya.
Barangkali, ramadhan tahun ini adalah salah satu ramadhan terbaik, dimana aku
masih diberi kesempatan untuk menjalaninya dengan kemudahan, tubuh yang sehat
dan lingkungan yang menunjang banget untuk memaksimalkan ibadahku selama
sebulan kedepan. Kebetulan hari ini aku pulang dan Ibu masak menu kesukaanku, bakso.
Salah satu kebiasaan Ibu dan kakakku tiap belanja bakso di pasar adalah selalu
menanyakan “kalau bakso merek ini aman
ga?”
Sedikit paham
beberapa merek bakso-bakso yang biasa dijual di pasar becek khususnya daerah
Jabodetabek. Dulu jaman masih kerja, kadang kerap bawa sampel-sampel bakso
pasar untuk sekedar cek formalin dan boraks. Harga murah, ukuran besar, umur
simpan lama, itu yang diinginkan konsumen pasar, dengan ketidak pedulian, acuh
dan masa bodoh soal kandungan apa aja sih
yang sebenernya ada di dalam bakso dengan kriteria seperti yang mereka
inginkan itu. Nah, hal yang menarik yang aku termukan pada bakso masakan Ibu
kali ini adalah ketika Ibu bilang……
“Ini baksonya merek *******, tapi kok rada
prengus ya?”
“Mana coba aku liat”
Dan ketika aku
cicipi, hmmm benar saja sesuai dugaan.
“Oh, ini pakai daging kerbau”
“Wah, daging kerbau? Tapi tulisannya kan
daging sapi”.
Seperti
yang kita tau, bakso komersil yang dijual dipasar memang sebagian besar adalah
bakso daging sapi, ada juga bakso daging ayam. Nah, tapi kok bisa daging kerbau?
Dilema dunia
perdagingan tidak hanya dirasakan masyarakat sebagai konsumen akhir,
industripun sebenernya lebih pusing lagi menghadapi kendala ini. Daging adalah
bahan baku terbesar yang paling menentukan harga pokok penjualan (HPP) produk. Kalau
harga daging naik, ya berarti harus bikin formulasi dengan bahan pengganti lain
tapi kualitas produk tetap sama atau cari bahan tambahan apa gitu biar produk
bisa tetep exist. Pertanyaannya
adalah, ”Lah, emang industry ngga nyetok
bahan gitu buat antisipasi harga daging yang fluktuatif”.
Jadi begini, daging
sapi adalah bahan utama pembuatan bakso. Nah, daging sapi sendiri ada
bermacam-macam bagiannya yang mana itu menentukan harga perbagian dan akan
sangat menentukan hasil akhir nanti. Misalnya saja bagian shank, knuckle, rump yaitu bagian yang banyak serabut ototnya dan biasa
dipakai untuk jenis bakso urat, dia berada dikisaran harga yang relative tinggi
dibandingkan dengan bagian lain. Biasanya, alternatif kalau harga daging sapi
naik adalah substitusi dengan daging ayam sebanyak berapa persen. Tapi, kendala
sekarang juga harga daging ayam cukup fluktuatif, terlebih setahun belakang semenjak
larangan penggunaan AGP yang juga berimbas pada industry unggas. Daging sapi
mahal, daging ayam mahal, lalu??
Nah, belum banyak
yang tau bahwa Indonesia sebenarnya impor daging kerbau dari India. Regulasinya
seperti apa terkait daging kerbau ini, saya belum terlalu tau. Yang pasti, stok
daging kerbau itu masih banyak dan sepertinya memang sasarannya adalah untuk industri-industri
pengolahan daging. Apabila dibandingkan dengan daging sapi, sudah tentu tekstur
daging kerbau lebih baik, karena kerbau yang memang sebagai ternak kerja memiliki
serabut otot yang lebih banyak dibanding sapi. Untuk harga 80rb (jaman setahun
lalu sih) kita bisa dapat daging kerbau frozen
95 CL sedangkan sapi dapat 65 CL (CL; Chemical
Lean artinya adalah persentase total daging dikurangi total lemak). Sudah tentu
jika dihadapkan pada pilihan seperti itu, pasti dong bakal pilih daging kerbau
yang ngga banyak lemaknya. Tapi, permasalahannya adalah secara aroma daging
kerbau lebih prengus dan warnanya
cenderung lebih hitam. Kendala lain lagi adalah, “masa mau membohongi konsumen, katanya daging sapi nyatanya daging kerbau”.
Nah, solusi dari masalah ini ya tidak
lain tidak bukan berujung pada swasembada daging. Kalau populasi sapi dalam
negeri banyak, produksinya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan industry,
tidak perlu ada impor kerbau, tidak perlu ada pembohongan public. Ya ngga? hehe
Komentar
Posting Komentar