Langsung ke konten utama

Takdir dan Rejeki yang Akan Tetap Tersampaikan


Ini adalah cerita beberapa hari lalu saat makan siang di salah satu kantin kampus, depan GWW. Cuaca lumayan terik-terik mendung dengan pengunjung kantin yang tidak terlalu padat, mungkin karena lokasinya jauh dari ruang-ruang kelas, atau bisa jadi karena harganya yang kurang pas karena sekali makan disana bisa dipakai dua kali makan nasi warteg di luar kampus hehe..

Sedikit kesulitan bagiku menyesuaikan makan disini. Beberapa mayoritas makanan berkuah pasti bersantan, sedangkan dalam sehari minimal sekali saja, biasanya aku makan makanan berkuah disamping sayur, dan berita buruknya adalah aku sangat tidak suka santan.. Hmm meuni riewuh pisan urangnya :(

Akupun memutuskan memilih soto kuah bening walaupun tidak sebening kuah soto di jawa regional tengah. Duduk sendiri di salah satu bangku dengan menghadap jalan yang berseberangan dengan tempat parkir mobil. Saat itu, dari arah kanan tempatku duduk, terlihat dua orang tengah berjalan perlahan. Seorang wanita dan laki-laki. Dari penampilannya, wanita itu nampak berumur lebih tua dari si laki-kali. Aku tidak bisa menebak, apakah mereka adalah ibu dan anak atau sepasang suami istri. Si wanita berjalan tertatih menuntun laki-laki disampingnya yang kebetulan seorang tuna netra. Bagi sebagian orang pengunjung kantin termasuk aku pasti akan mengira bahwa mereka akan menghampiri bangku-bangku kami. Karena memang itu bukanlah jalan umum, melainkan jalan dalam kampus yang seharusnya tidak dilewati orang luar. Tapi ternyata aku salah, mereka sama sekali tidak menghampiri bangku-bangku pengunjung kantin untuk meminta-minta. Berjalan lurus dan lewat begitu saja. Dan yang membuatku terkejut adalah saat langkah mereka selisih 3 meter dari bangkuku, tiba-tiba salah satu pedagang di kantin memanggil dan menghampiri mereka dengan membawa sekantong plastik beras. Diberikannya kantong plastik itu kepada si laki-laki. Nampak gerakan tubuh yang menunjukkan penolakan terhadap pemberian si pedagang kantin, “Jangan Pak, nanti jadi kebiasaan”, kata si lelaki yang terdengar dari tempat dudukku. “Tidak apa-apa Pak, ini diambil saja”, balas pedagang kantin sambil berusaha memberikan bungkusan yang ia bawa. Dan akhirnya, si wanita dan lelakipun menerimanya lalu melanjutkan perjalanan.

Setelah kurang lebih berjalan 10 meter, nampak seorang bapak-bapak pengisi uang di ATM Centre menghampiri si wanita dan lelaki tadi sembari memberikan sedikit uang. Dan reaksi merekapun sama seperti reaksi saat menerima pemberian sekantong plastik beras dari pedagang kantin. Dalam hatiku, akupun bertanya-tanya, siapa ya sebenarnya mereka berdua?

Belum sempat pertanyaan itu menemukan jawaban, aku harus segera beranjak karena langit sudah mulai gelap, tanda akan turun hujan. Baru berjalan beberapa langkah, di sela-sela antara dua mobil yang terparkir diparkiran, aku melihat ibu-ibu pedagang kacang tengah duduk sambil membawa keranjang berwarna biru muda. Terlihat keranjang yang baru saja ia turunkan dari gendhongannya karena ada salah satu mahasiswa datang menghampiri nampak ingin membeli. Aku mengamati dari kejauhan sembari tetap berjalan. Nampak perbincangan singkat antara keduanya dan diakhirkan dengan, “Tidak usah Bu, tidak apa-apa”, kata si mahasiswa itu sambil beranjak dari depan ibu-ibu penjual kacang. Dan dapat disimpulkan bahwa si mahasiswa membeli kacang, tapi tidak mau menerima kacangnya.. Laaahhh haha

Yah…. Sepanjang perjalanan pulang, akupun berpikir, bahwa rejeki bisa datang dari mana saja, dimana saja dan kapan saja. Orang-orang disekitar kita, hadir sebagai perantara. Sekeras apapun kita menolak, kalau sudah menjadi takdir rejeki, ya akan tetap jadi rejeki ya..hehehe

Yang pasti, orang-orang baik akan didekatkan dengan orang-orang baik pula dan rejeki-rejeki yang baik. Semoga yang menjadi perantara kebaikan akan mendapat kebaikan yang lebih baik pula dari Allah SWT. Aamiinn J



Komentar

  1. Masya Allah, memang ya rejeki itu tidak akan pernah jatuh ke tangan yang salah hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Belajar kehidupan, dari memelihara kucing

Tulisan pertama di tahun 2023. Sudah pasti untuk menjaga blog yang umurnya lebih dari 10 tahun ini tetap hidup. Dengan tulisan suka-sukaku tentunya. Karena ternyata konsisten lebih sulit dibandingkan muluk-muluk membuat sebuah karya besar untuk mengejar hasrat dan ambisi "pengakuan".  ***** Beberapa waktu terakhir banyak momen tentang "kucing", yang memaksaku ingin sekali untuk menulis tentangnya. Namun apa daya ternyata maksud hati terkalahkan banyaknya godaan diluar sana, tentu yang terbesar adalah kemalasan yang sungguh menyebalkan ini.  Secara track record, aku bukan pecinta kucing. Bukan juga golongan pembenci dan penyiksanya. Hanya tidak terlalu suka, geli, takut, kotor (hahaha padahal anak peternakan?) Sejak kecil di keluargaku tidak memiliki binatang peliharaan. Paling Mbakku dulu waktu SD pernah pelihara ikan yang dibeli di sekolah, ditaruh dalam bekas kaleng biskuit, yang baru beberapa hari sudah mati lalu ditangisin.  Kalau ditanya, "kok bisa pilih p...