Langsung ke konten utama

Sekarung Salak dalam Bus

Entah berapa suhu udara untuk dua hari ini. Rasanya begitu haredang. Dibeberapa update story instagram atau whatssap yang kuadapati dari netijen yang berkeluh tentang suhu udara yang sedang meningkat. Kupikir ini hanya hawa ibu kota yang membuatku sedikit tidak betah. Long weekend, macet. Yah, sesuatu yang begitu mahal dari kehidupan ibu kota adalah waktu dan kesabaran.

Sedikit ingin berbagi kisah sederhana yang kutemukan siang tadi, diperjalanan pulang menuju Cianjur. Pertama kalinya naik bus dari dari terminal Kampung Rambutan yang ternyata lumayan luas dan lumayan membingungkan karena kebanyakan adalah trayek bus jurusan antar provinsi. Untung ada si bapak ojek online berbaik hati mengejarkan bus yang sudah beranjak melaju keluar terminal. Alhamdulillah, jadi bisa langsung dapat bus tanpa harus menunggu.

Di perjalanan meninggalkan terminal, pedagang berjualan silih berganti. Dari yang jualan makanan, pernak pernik, barang yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal. Yah namanya juga usaha cari rejeki ya.  Hal yang biasa, disemua terminal juga pasti begitu. Selagi masih dikawasan terminal, pedagang pasti berebut menjajakan dagangannya.

Nah, dari sekian banyak pedagang tadi, ada satu yang ingin ku ceritakan disini. Pedagang itu masuk setelah bus agak jauh meninggalkan terminal dan pedagang lain sudah tidak ada yang berebut menjajakan dagangannya. Seorang bapak paruh baya, usia sekitar 40an. Dia masuk membawa karung besar yang ia dorong hingga ketengah bus. Setelah beberapa waktu, pedagang tadi mulai mempromosikan barang yang ia bawa, yaitu salak.

“limaa, sapuluh, lima belas, duapuluh, salawe, tilupuluh, tilu lima, opatpuluh... dua puluh ribu dapat opatpuluh.... mangga dibeli salaknya buat oleh oleh”, kata si pedagang sambil memasukkan salak yang sudah dihitungnya kelipatan lima ke dalam kantong plastik.
Sayangnya, tidak ada satupun yang berminat membeli. Kemudian, si penjual salak promosi lagi.
“hayuu mangga, salaknya lima ratusan saja, untuk camilan diperjalanan”. Masih tidak ada yang merespon. Hingga sepuluh menit berjalan, akhirnya jumlah salak dinaikkan, “ayooo, duapuluh ribu dapat opatduaa..”  Masih juga tidak ada yang merespon.  Si bapak penjual salak belum menyerah, berulang kali dia menghitung salak kelipatan lima, dimasukkan dari karung ke kantong plastik. Belum ada yang respon, dikembalikan lagi kedalam karung sambil terus melakukan perubahan harga untuk salaknya. Hingga akhirnyaa...
“hayuuu, dua puluh ribu dapat ganep puluh.. sapuluh ribu dapat tilu puluh!!!” baru disitulah ada pembeli, dan satu per satu akhirnya salak tersebut laris hingga berkurang dan menyisakan tak lebih dari setengah karung.
Dari situlah, ada hal sederhana yang dapat dijadikan pelajaran. Bayangkan jika penjual tadi masuk bersama penjual lain disekitar terminal, yang ada juga para penumpang malas membeli, karena kebanyakan pedagang, jadi tidak selera. Lalu, apa yang terjadi jika sekali menawarkan salaknya, dan tidak ada yang membeli, kemudian pedagang tersebut menyerah dan turun dari bus? Ia hanya akan mendapat lelah karena harus naik turun membawa keranjang salak yang berat. Belum lagi resiko kalau salaknya malah jadi busuk karena tidak ada yang membeli.

Seperti halnya dalam hidup, tentang kesempatan, terlebih dalam hal menjemput rejeki. Disaat kita memilih jalan yang juga dipilih banyak orang, bisa jadi kemungkinannya hanya kecil, karena kita hanya ikut ikutan. Berhenti sejenak dengan memperhitungkan timming yang tepat adalah jauh lebih baik daripada sesuatu yang terburu buru. Yang kedua adalah pantang menyerah. Si bapak penjual salak tadi begitu tegar. Bayangkan saja, dia masih tetap bertahan kurang lebih satu jam an, dari lepas terminal Kampung Ramputan hingga kawasan Mekarsari Cileungsi, ditengah panas dan macetnya ibu kota dan tidak adanya pembeli satupun diawal. Ketiga adalah jangan saklek atau memaksakan kehendak. Lah, hubungannya? Begini.. Coba saja si bapak penjual tadi bersikeras tidak menurunkan harga salaknya, adakah pembeli? Mungkin memang, untung yang diperoleh tidak sebanyak ekspektasi. Tapi sampai kapan akan dapat pelanggan jika dia tetap bersikeras dengan harga normal? Yang ada salaknya sudah terlanjur busuk bukan? Hehehe...

Yahhh.. sedikit berbagi cerita sedehana, walau banyak bagian yang “maksudnya apasih, ngga nyambung banget” (namanya juga catatan kecil, hehehe)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Pertama

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang. Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu. Tidak semua hal, sepayah apapun kau… Sepertinya aku sudah bertemu dengan salah satunya.

Sehelai rasa ikhlas

Jika ikhlas itu semudah memotong rambut, pasti helai demi helainya sudah menggunung sekarang. Ikhlas, mengikhlaskan, diikhlaskan. Kata yang sederhana tapi realisasinya,  Rumit. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak peduli berapa lama kita memanjangkannya. Tidak peduli berapa shampo, berapa conditioner, berapa receh kita habiskan untuk merawatnya. Tidak peduli berapa detik terbuang untuk menyisirnya setiap hari. Tidak peduli berapa banyak belaian yang diberikan untuknya setiap kali didepan kaca. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Tidak perlu menunggu hitungan jam, satu dua helainya akan berjatuhan meninggalkan akar tempatnya bergantung, tempatnya merasa nyaman, terasa terlindungi. Tiada peduli. Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Bukankah sesudahnya akan terasa lebih ringan? Bukankah sesudahnya akan terlihat lebih rapi? Bukankah sesudahnya akan terasa lebih mudah untuk diatur? Jika ikhlas itu semudah memotong rambut. Hanya perlu memulainya dari awal. Hanya p...

Tjatatan 1: Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai

Aku tidak tau akan mulai menulis dari mana. Tadinya aku berpikir, mungkin nanti di akhir saja menulisnya saat semuanya sudah selesai. Tapi bukan kah tidak ada yang benar-benar selesai dalam hidup kecuali kita sudah tidak hidup? “Nanti diakhir saja, saat semuanya sudah selesai” , sepertinya bisa dimulai dari sini. Beberapa waktu kebelakang aku sangat membenci kata “nanti”. Setiap kata itu muncul, seketika itu pula dalam pikiranku penuh dengan umpatan “ dasar pemalas, bodoh, tidak berguna ” dan respon itu diterima sampai ke hati dalam bentuk “ penyesalan, sedih dan keputusasaan ”. Sangat ekstrem, dan hal itu terus berulang setiap harinya. “Nanti”, begitu melekat dengan ajaran agama tentang “menyegerakan sesuatu (kebaikan), dan tidak menunda-nunda”. Jadi jika aku tidak cepat dan bersegera, aku langsung menganggap diriku gagal dalam salah satu aspek menjadi muslim yang benar sesuai yang diajarkan. Seperti itu kira-kira settingan di otakku dalam menarik kesimpulan. Menunda = pemalas....