Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

Da aku mah apa atuh (one hundred days : 1)

Lepas tengah malam. Terbangun dari rasa kecewa yang entahlah, rasanya begitu saja. Begitu abstrak. Sebenarnya ada dua hal yang terjadi kemarin. Bahagia dan kecewa. Tapi sepertinya sifat kecewa lebih dominan terhadap kebahagiaan yang lebih resesif tertutupi. Dia, memang Sang Maha pembolak-balikkan hati hambaNya. Semalam lalu, bahkan aku tidur sangat larut hanya untuk satu hal. Bagiku, masalah hati bukan untuk main-main. Seandainya kamu tau, kemarin tepat seratus hari kita saling kenal. Hemh, bagimu mungkin itu sangat biasa. Yah, biasa. Aku hanyalah sebagian kecil dari yang lainnya lain-lainmu bukan? Aku masih ingat saat itu. Pertama kalinya aku dipertemukan denganmu dalam sebuah lingkaran. Lingkaran baru dimana aku dan kamu adalah penghuni-penghuni awalnya. Saat itu, kita duduk saling seberang. Dan aku tidak pernah mengerti siapa kamu, begitu pula denganmu yang sama halnya denganku. Hari ke seratus terhitung sejak saat itu. Bukan dari saat kita pertama kali bertemu. Seratus hari, ter...

Tentangmu dan Coklat

Sekali lagi, tak ada yang pernah mengerti seperti apa skenario yang telah dibuat olehNya. Bisa jadi hari ini panas terik, malamnya hujan badai. Who knows? Hah, nikmatnya segelas coklat panas di malam yang masih enggan ditinggal butiran rintik gerimis. Pekat warna lelehannya, sepekat perasaanku yang mungkin saja sama lelehnya seperti coklat ini. Mengertikah kau bagaimana coklat bisa terasa manis ? Mengertikah kau bagaimana melembutkan tekstur coklat yang sejatinya keras? Mengertikah kau bagaimana membuat khalayak umat gandrung akan lezatnya coklat? Sampai seusia diujung belasan ini, belum pernah sekalipun aku mendengar, coklat menyebabkan alergi. Yang ku tahu, dia membuat penikmatnya ketagihan. Padahal, mengertikah kau bagaimana coklat bisa seperti itu luar biasanya ? Hanya Allah yang tahu. Coklat itu unik. Mungkin saja sama sepertimu. Ah, atau hanya perasaanku saja? Coklat selalu membuatku rindu ketika bertemu. Semakin bertemu semakin rindu. Ketika anak-anak kecil selalu dilarang ...